
Sesampainya dirumah, Ariel membantu Leo untuk melepas kulit buatannya, barulah dia bisa menjadi dengan tenang. Iya, lumayan tenang tali hanya untuk beberapa saat saja, dan lima menit kemudian, Leo tiba-tiba masuk ke dalam kamar mandi dengan tubuh polos tanpa busana.
Tenangnya.......
Ariel tersenyum bahagia mendapati tubuhnya yang terasa rileks saat masuk ke dalam bathup dan memejam menikmati. Tapi begitu dia merasakan ada sosok yang masuk juga ke dalam bathup nya, sontak saja Ariel membuka mata, dan betapa terkejutnya dia melihat kaki lalu terus ke atas.
Hah!
Ariel menelan salivanya begitu tatapannya sampai ke sebuah benda yang beberapa saat lalu membuat tubuhnya remuk dan berjalan juga gemetar kesusahan. Iya, dia adalah cucung jumbo milik Leo! Benar saja, pria itu ikut berendam dengan posisi berhadapan, dan yang menyebalkannya lagi adalah, senyum di bibir Leo membuat Ariel ingin sekali tenggelam ke bathup.
" Kenapa kau kesini? Kau kan bisa menunggu sebentar? Atau kalau tidak, mandi saja di shower! " Protes Ariel, dia menyilangkan tangannya menutupi bagian dadanya yang bisa saja terlihat oleh Leo.
Leo tersenyum tipis.
" Aku kan sudah melihat semuanya, kau juga sudah melihat ku tanpa pakaian kan? Kenapa harus malu? "
Ariel menyipratkan air bathup ke wajah Leo.
" Kenapa malu katamu? Iya lah aku malu, memang kau yang tidak tahu malu! "
Leo meraih lengan Ariel, menariknya dan membawanya ke pangkuannya.
" Apa-apaan posisi ini?! " Protes Ariel yang jelas bisa merasakan cucung Leo di bagian belakangnya. Tentu saja dia masih merasa malu sesadis apapun dia bicara.
" Jangan bergerak, nanti kalau yang di bawah sana tergesek sesuatu, jangan salahkan aku kalau berbuat seperti yang sedang kau pikirkan. "
Ariel menelan salivanya, dia begitu patuh hingga tak bergerak sedikitpun.
" Aku ingin ke shower saja. " Ucap Ariel yang tidak tahan dengan posisi itu.
" Ayo! " Ucap Leo malah lebih dulu bangkit, bahkan dia sampai juga membawa Ariel untuk bangkit dari sana.
" Ah! " Pekik Ariel yang jelas kaget karena keluar dari shower dengan tubuh tanpa selesai benangpun.
" Sudahlah istriku sayang, aku kan sudah lihat semuanya, jadi berhentilah untuk malu. "
" Kepalamu! Cepat tutup matamu! "
Leo tak mau mendengarnya, dia justru malah semakin semangat hingga mengangkat tubuh Ariel dari sana dan berjalan membawanya ke shower.
" Aku benar-benar ingin memukul kepalamu, Leo. "
Leo tak mau menggubrisnya, dia justru memeluk Ariel dari belakang dan menikmati air hangat yang keluar dari shower. Sebenarnya ingin sekali Leo mandi bersama dengan saling berhadapan dan memeluk mesra, tapi dengan Ariel yang super suka membantah tentu saja tidak mungkin.
" Besok ikut ke RC ya? " Ucap Leo sembari menggosok punggung Ariel meski si pemilik punggung terus memberontak tak ingin disentuh.
" Kenapa aku harus ikut? Disana kan ada kekasihmu si Arumi itu? "
Leo menghela nafasnya, dia memeluk kembali tubuh Ariel dan meletakkan wajahnya di ceruknya.
" Kenapa kau menganggap Arumi adalah kekasihku? Apa aku terlihat begitu? "
" Semua orang bilang begitu. "
" Nyatanya aku tidak begitu, percayalah padaku kau adalah wanita pertama untukku, dan denganmu juga aku merasakan untuk pertama kalinya menyentuh wanita sejauh ini. "
" Kau bohong! "
Ariel terdiam tak bisa berkata-kata. Dia masih tidak percaya jika Leo bahkan sampai menggunakan kata Demi Tuhan untuk meyakinkannya. Sebenarnya kalau melihat dari cara Leo melakukan itu, alis ewita atau ewidwod, rasanya Leo juga terlihat sangat gugup, barulah setelah beberapa waktu mereka menyatu, Leo seperti sudah lepas dan otodidak saja.
Leo membalikkan tubuh Ariel untuk menghadap dirinya. Dia menangkup wajah Ariel dan menatapnya dengan serius. Masa bodoh dengan guyuran air hangat dari shower, mereka benar-benar saling menatap dengan tatapan yang sama.
" Ariel, bukalah hatimu sedikit saja, cobalah menerimaku perlahan-lahan. Kau bisa mengenalku, kau akan tetap menganggap ku buruk jika kau tidak membuka hatimu dan biarkan aku masuk. "
Ariel masih tak bicara.
" Ariel, aku mau menyentuhmu lebih dari batasan ku karena yakin dengan pilihanku, jadi cobalah yakin denganku, jangan fokus dengan kekuranganku, kau mau kan? "
Ariel nampak berpikir sebentar, dan tak lama dia mengangguk setuju. Leo tentu saja bahagia, dan langsung memeluk Ariel erat-erat.
" Terimakasih. "
Beberapa saat kemudian.
Ariel keluar dari kamar mandi dengan wajah kesalnya, dia meringis merasakan pinggangnya yang terasa pegal, kakinya juga gemetar meski masih bisa berjalan dengan benar.
Leo, pria itu benar-benar tersenyum puas dengan bahagia. Dia keluar bersamaan dengan Ariel, yah pasti tau apa yang tadi terjadi disana kan? Suasana yang begitu dramatis tiba-tiba berubah menjadi aneh ketika Leo seketika menciumnya dengan buas. Padahal mereka sudah cukup lama berada di dalam kamar mandi, tapi setelah ciuman itu Leo menambah lama waktu mereka di dalam kamar mandi.
" Aku benar-benar akan mengunci rapat-rapat pintu kamar mandi saat kau ada di rumah. " Kesal Ariel seraya mengeluarkan satu set baju untuknya tidur.
" Aku punya kunci cadangannya, sayang. "
Ariel menatap kaget, sayang? What?!
" Dari mana panggilan angker itu berasal? " Tanya Ariel tentu saja dengan tatapan keheranan.
" Muka sekarang aku akan memanggilmu sayang. "
Ariel hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya.
Pagi hari.
Ariel, Leo, dan Ibunya kedatangan Ayah kandung Ariel dan juga keluarganya. Iya, hari ini tepat satu Minggu setelah surat perjanjian mereka tanda tangani.
Ariel dan Leo kini hanya bisa menjadi penonton saja karena Ibunya lah yang akan menyelesaikan masalah ini sendiri.
" Kalian sudah menyiapkan uangnya? " Tanya Ibu Maria.
" Kami tidak bisa mengumpulkan uang sebanyak itu, Maria. Tolong berikan kami waktu lebih lama lagi. " Linta Tuan Diro yang langsung di tanggapi dengan helaan nafas dari Ibu Maria.
" Oh, berarti kalian harus mengosongkan rumah itu sekarang juga dong? "
Ibu tiri dan Sephora kompak melotot kaget. Iya, mereka tentu saja bingung akan tinggal dimana kalau sampai menyerahkan rumah itu.
" Jangan terlalu kejam begitu, Maria! Kau setidaknya harus ingat bahwa kalau bukan karena aku menyelamatkan mu waktu itu, kau belum tentu juga masih hidup. " Ujar Ibu tiri mencoba mengungkit hal lama agar bisa membuat Ibu Maria membatalkan perjanjian itu.
Ibu Maria tersenyum mengejek.
" Sepuluh tahun membiarkan kalian menyiksa putriku, membuatku dipenjara seharusnya itu sangat tidak sepadan hanya dengan pertolongan mu. Jangan lupa juga aku sudah membantu Ayahmu selama bertahun-tahun. Cepat pergi dari rumah itu, dan kejutan untuk kalian akan datang seminggu lagi. "
Bersambung.