Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 86



Satu bulan sudah berlalu, dan Sephora masih saja menjadi tahanan pria yang baru ia ketahui namanya adalah Daniel. Tidak tahu apapun mengenai pria itu, dimana dia tinggal karena hanya akan berada di sana sesekali saja. Kalau di lihat dari cincin yang melingkar di jari pria itu, jelas lah sudah kalau pria itu juga sudah menikah. Entah kapan dia akan segera bebas, Sephora yang sudah seperti mayat hidup hanya bisa menangis setiap hari sembari berdoa agar bisa pulang menemui orang tuanya. Urusan Bram tak lagi dia pusingkan karena yakin benar jika Bram pasti sama sekali tidak perduli dengannya. Urusan pernikahan juga hanya keluarga Sephora lah yang dari awal begitu bersemangat sedangkan keluarga Bram nampak tak banyak merespon seperti orang yang malas dan tidak bersemangat. Seharusnya empat hari lagi mereka akan menikah, tapi setelah satu bulan berada di apartemen terkunci itu Sephora benar-benar mengubur keinginannya untuk menikah dengan Bram.


Hari ini dia datang bulan, dan pria yang sudah menguncinya selama sebulan di sana pasti juga akan datang karena sebelumnya dia juga sudah bertanya kapan biasanya Sephora akan datang bulan. Sudah menunggu seharian, nyatanya pria itu datang hanya untuk mengantarkan makanan, dan pergi begitu saja tanpa mau mendengarkan apa yang di katakan oleh Sephora.


" Aku benar-benar tidak tahan lagi. " Ucap Sephora, dia mencengkram kuat kedua lututnya dengan banyak sekali air mata berjatuhan membasahi pipinya. Padahal bukan inginnya seperti ini, kalaupun tidak bisa menikah dengan Bram juga dia tidak ingin di penjara seperti ini.


Satu Minggu setelah hari itu, Daniel datang lagi kesana. Dengan tatapan mata aneh dia menatap Sephora yang kala itu hanya duduk diam dengan tatapan kosong.


" Hei, aku akan memberikan penawaran yang bagus untukmu. Bagaimana? Apa kau tertarik? "


Sephora mengangkat wajahnya untuk menatap Daniel, dia ya g sudah hampir stres parah karena dipenjara benar-benar tidak bisa lagi berekspresi lain selain tertekan dan datar. Di dalam hati dia hanya bisa membatin, penawaran apa yang bisa dia dapatkan dari pria yang tiba-tiba menahannya, menjauhkan diri dari media sosial, tidak ada ponsel atau apapun sehingga membuat Sephora benar-benar seperti kehilangan kehidupan


nya.


" Aku akan mengeluarkan mu dari sini. "


Barisan kalimat itu membuat wajah Sephora menjadi terlihat bersemangat. Dia menatap Daniel dengan harapan-harapan yang terlihat begitu nyata, kebebasan, sungguh dia menginginkan itu, sungguh dia ingin bebas dan menemui orang tuanya, melakukan apa yang bisa dia lakukan karena dulu dia juga adalah gadis yang terbilang bebas.


" Aku mau! Aku mau bebas, Tuan. "


Daniel tersenyum miring dengan tatapan yang tak bisa untuk Sephora artikan.


" Tapi, kau harus memberikan ku satu anak. "


Sontak Sephora terkejut, membeku dengan tatapan penuh tanya. Anak? bukankah dari cincin yang melingkar di jari manis Daniel sudah cukup menjelaskan jika dia sudah memiliki istri? Untuk apa lagi menginginkan Anak dari Sephora?


" Tuan, kenapa anda melakukan ini kepada saya? " Tanya Sephora dengan mimik begitu sedih, dia sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran pria itu yang dengan tidak punya perasaannya malah menginginkan anak seolah dia bisa memberikan kapanpun.


" Jika kau bisa memberikan satu saja anak untukku, maka aku akan memberikan mu banyak keuntungan. Aku akan memberimu uang, mulai dari kau setuju nanti kau akan menikmati uangnya. "


Sungguh dilema bukan? Jika Sephora mengatakan tidak, maka dia tidak akan mungkin bisa keluar dari sana, kalau iya jawabannya, dia justru takut tidak bisa memenuhi keinginan pria itu.


" Aku tidak punya banyak waktu luang untuk menunggumu bingung, jadi jawab saja iya atau tidak. "


" Iya. "


" Bagus. " Daniel tersenyum senang.


***


Sudah beberapa hari setelah Ayahnya di eksekusi mati, Grade sama sekali tidak pernah bicara barang sekata pun. Benar pada dasarnya semua makhluk hidup memang akan meninggal, tapi rasa kehilangan karena di tinggalkan benar-benar membuat Grade seperti kehilangan energi untuk tetap hidup. Matahari terbit, matahari terik, matahari terbenam, suasana malam, bulan bintang adalah hal yang menemani Grade setiap harinya.


" Grade, makanlah bubur mu selagi hangat. " Ucap Onard yang tak tega juga minat Grade semakin kurus, wajahnya terlihat sangat tirus dan pucat. Begitu jauh berbeda dari Grade sebelumnya yang memiliki bentuk tubuh serba indah. Tatapan matanya yang cerah kini terlihat sayu, bibirnya yang merah merekah tanpa lipstik kini kering dan pecah-pecah. Jemarinya semakin tirus seperti tulang berbalut kulit saja.


Onard menjalankan kursi rodanya untuk semakin dekat dengan Grade yang hanya duduk terdiam di atas tempat tidur. Dia mengambil mangkuk berisi bubur itu, menyendoknya dan mengatakan untuk Grade makan.


" Makanlah, Grade. Aku tahu kau sangat sedih, tapi aku yakin sekali Ayahmu tidak ingin melihatmu seperti ini. "


Grade mengabaikan makanan yang di sodorkan oleh Onard, dia justru menangis tanpa suara karena lagi-lagi harus teringat dengan Ayahnya.


Onard menghela nafas, dia menurunkan dulu makanan yang ia sendok untuk Grade.


" Ini sudah satu bulan, Grade. Kau begitu sedih sampai mengabaikan dirimu sendiri seperti ini. Kau juga pasti sangat sadar jika Ayahmu itu sangat tidak menyukai kau yang seperti ini kan? Cobalah untuk menerima semua yang sudah terjadi, dari pada kau sibuk meratapi kepergian Ayahmu yang jelas tidak akan bisa kembali lagi, bagaimana kalau kau mendoakan dia terus agar dia bahagia di sana, dia bisa bertemu dengan Kakak dan juga Ibumu yang pasti sudah menunggunya. "


Grade menoleh menatap Onard yang juga menatapnya. Sempat ingin sekali menyalahkan Onard, tapi kenyataan yang menjelaskan bahwa Onard bukanlah orang yang bersalah membuatnya tak mampu mengatakan apapun. Dia ingat benar pesan Ayahnya untuk memperlakukan Onard dengan baik, dia juga tidak ingin kalau Grade bersedih terlalu lama. Ini memang sudah satu bulan, tapi dia bahkan tidak tahu sudah selama itu dia hanya diam menangis meratapi kesedihannya.


" Onard, aku tahu aku tidak boleh sedih terlalu lama, tapi aku selalu bertanya-tanya kepada dirimu sendiri dan membuat ku tidak tahan untuk menangis. Ketika Ayahnya di tembak mati, aku penasaran seberapa menyakitkannya itu, seberapa banyak darah yang keluar dari tubuh Ayahku, apakah sampai penghujung nyawanya dia masih tidak ingin melihatku? Saat dia akan menutup mata untuk selamanya itu, apa yang sedang dia pikirkan? Apakah ada di dalam hatinya berharap itu tidak pernah terjadi? "


Onard menghela nafas pilu seolah dia bisa merasakan bagaimana sedih ya Grade sekarang ini.


" Itulah sebabnya dia tidak ingin melihatmu sebelum dia meninggal. Kau hanya perlu hidup dengan baik, dan aku tidak keberatan untuk menjadi sahabat mu. "


Bersambung.