Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 80



Sephora gelisah sendiri mendapati kenyataan yang dia rasa begitu merugikannya. Padahal dia sengaja menolak Leo karena dia tidak ingin menikahi pria yang jelek, cacat, dan tidak berguna. Ah, tapi kenapa semua itu jadi terbalik? Entah bagaimana ceritanya ternyata Leo berpura-pura jelek, padahal dia sangat tampan, ditambah lagi sangat kaya, tubuhnya tinggi besar. Gila! Sephora malah menjadi membayangkan benda bawah milik Leo yang ukurannya pasti sangat menggiurkan.


" Duh, sialan! Pokoknya aku harus merebut Leo dari Ariel. Kalaupun gagal, yang mirip seperti Leo itu juga lumayan, tadi aku lihat dia mengerakkan kaki, berarti dia tidak benar-benar cacat kan? Ah, memang tidak masuk akal mereka berdua ini! Kenapa juga sih harus berpura-pura cacat membuat aku pusing saja! "


Sephora membuang nafas kasarnya, rasanya benar-benar tidak rela hingga dia sampai memikirkan ide yang begitu murahan, dan tidak beretika.


" Pokoknya, aku harus memiliki salah satunya. Aku tidak boleh terlalu mengharapkan Bram yang kurang ajar itu! "


Sephora tersenyum sembari memegangi, dan menatap serbuk obat yang sudah sering digunakan oleh wanita atau pria untuk membuat orang yang ingin mereka buat mabuk kepayang seperti orang yang kehilangan jati diri tapi tubuhnya masih sadar dan bereaksi dengan sentuhan-sentuhan lembut dan menggoda.


" Duh, membayangkan bisa tidur dengan Leo saja aku sudah bahagia. " Sephora tersenyum senang, dia bahkan sampai memeluk serbuk obat itu membawanya ke dada erat-erat.


Grade, wanita itu hanya bisa mondar mandir di kamar tamu yang ada di rumah Leo. Sebal karena yang dia lihat lagi-lagi hanyalah Onard seorang, dia butuh orang yang bisa membuat sebal dan suntuknya hilang. Grade teringat dengan Sephora, jadi dia putuskan untuk menemui Sephora entah apa alasannya yang penting ada yang bisa membuat mulutnya memiliki lawan.


Setelah bertanya kepada salah satu pelayan, akhirnya dia tahu dimana Sephora istirahat. Dengan cepat dia menuju kesana, mengetuk pintunya begitu dia sampai di sana dengan begitu semangat.


Tok Tok


Suara ketukan pintu membuat Sephora yang masih asik melamun menjadi sebal karena suara ketukan itu terus terdengar dan semakin kencang. Dengan perasaan kesal Sephora bangkit setelah menyimpan baik-baik bubuk obat itu dan membukakan pintu.


" Apa-apaan sih?! " Kesal Sephora begitu membuka pintu. Tatapannya semakin menajam jelas begitu yang dia lihat adalah Grade. Wanita itu masih di anggap sebagai asisten atau sekretarisnya Onard.


" Buatkan aku teh hijau! "


Sephora terperangah kesal hingga menggigit bibir bawahnya. Setelah membuang nafas kasarnya dia kembali menatap Grade dan masih menunjukkan betapa kesalnya dia.


" Hei, aku ini bukan pembantu ontime dua puluh empat jam! Ini juga seharusnya aku sudah pulang ke rumah! Aku tetap disini karena aku kelelahan, jadi jangan asal suruh saja! Matamu tidak lihat apa ada banyak pelayan?! Kenapa juga harus repot-repot datang ke sini, hanya untuk menyuruhku membuat teh?! " Sephora memegangi dadanya yang naik turun karena tarikan nafasnya yang menderu karena terus bicara untuk meluapkan kekesalannya.


Grade melipat kedua lengannya, dia menyenderkan separuh tubuhnya di ambang pintu, tatapan matanya nampak sangat ambigu dengan senyuman aneh yang tidak bisa di artikan oleh Sephora.


" Aku hanya merasa kau cocok untuk di suruh-suruh olehku, jadi jangan salahkan aku mendatangi mu untuk memerintahkan mu. "


Astaga! Rasanya ingin sekali Sephora menyodok mulut kurang ajar Grade yang membuat otaknya kejang bukan main.


" Sini, biarkan aku mencekik mu sampai mati! " Kesal Sephora sembari menggerakkan kedua tangannya ingin meraih rambut Grade, tali sialnya Grade seperti sudah akan tahu gerakan itu, jadi cepat dia menepis kedua tangan Sephora dengan kuat, sampai membuat Sephora jatuh tersungkur di lantai.


" Brengsek! Kau berani melakukan ini padaku?! Awas kau ya! " Sephora bangkit dengan wajah marahnya, dia ingin memukul wajah Grade, tapi Grade malah lebih dulu menendang lututnya membuat Sephora tak jadi dengan tujuannya dan mengaduh kesakitan.


" Dasar kau orang gila! Bagaimana bisa kau memiliki hati sekotor itu! "


Grade memicingkan matanya, dia tersenyum dengan begitu penuh maksud.


" Itulah kenapa aku suka melihat orang menderita. " Grade tersenyum kembali, dia berbalik, melambaikan tangan sembari memberikan punggungnya yang semakin menjauh meninggalkan Sephora di sana.


Sephora menatap kesal Grade yang dengan tidak bersalahnya pergi setelah membuatnya kesakitan seperti sekarang ini. Sebenarnya dia jadi ingat saat dia terus mengerjai Ariel, kurang lebih seperti inilah kejadiannya. Sephora sangat senang membuat gara-gara, dia paling suka melihat Ariel menangis, kesakitan karena ulahnya, apalagi kalau Ariel di pukul oleh Ibunya,aku di marahi oleh Ayahnya, saat menyaksikan itu dia benar-benar sangat bahagia, dan merasa jika air mata juga kesakitan Ariel adalah sumber dari kebahagiaannya.


" Ariel, wanita itu pasti di suruh Ariel untuk membalas dendam padaku, Ariel pasti ingin membuatku merasakan apa yang dia rasakan dulu. Lihat saja kau Ariel, aku tidak akan tinggal diam, aku akan membalas ini berkali-kali lipat. " Sephora bangkit dari posisinya, dia berjalan kembali mendekati pintu kamarnya, masuk ke dalam dan perlahan menutup pintu sembari meringis menahan rasa perih di lutut dan telapak tangannya.


Di dalam kamar.


Ariel dan Leo menggeleng heran melihat apa yang terjadi di antara Sephora dan juga Grade tadi. Benar-benar dua orang yang sangat berani, Meksi itu mengingatkan Ariel kepada masa dimana Sephora terus menindas dan membuatnya sedih, tapi ketika ini terjadi pada Sephora dia malah merasa kalau kejadian itu tidak sesedih yang dia alami, dan nampak lucu.


" Grade benar-benar sangat suka mencari gara-gara ya? " Ujar Leo sembari menutup laptopnya karena mereka juga sudah selesai menonton.


" Iya, mereka itu hampir sama sih, cuma Grade itu lebih berani saja di banding Sephora. "


Leo tersenyum, dia dagu Ariel berniat menciumnya.


" Jangan aneh-aneh, aku sedang datang bulan. "


" Kenapa?! Kenapa tiba-tiba datang bulan?! Tadi pagi kan tidak?! " Protes Leo karena pagi tadi juga mereka melakukannya.


" Iya, dia datang bulan karena memang sudah waktunya! " Jawab Ariel melengos malas saja kalau sampai Leo melihat dan mengartikan tatapannya itu. Iya, dia bohong!


" Kau bohong ya? "


" Tidak! " Jawab Ariel tak mau menatap Leo.


" Kalau begitu, biar aku lihat sendiri! " Leo membawa tubuh Ariel ke atas tempat tidur, memaksanya untuk membuka kedua kaki Ariel dan dengan cepat dia bisa melihatnya. Setelah mematikan itu, Leo tersenyum sembari menatap Ariel, dan sontak membuat Ariel merasa sangat kesal karena lagi-lagi harus merasakan pegal di tubuhnya.


Bersambung.