
Mario terdiam dengan tatapan kosong membuat Mike dan Wiliam menatap keheranan. Iya iya! Ini adalah kali pertama mereka melihat Mario frustasi, dan ternyata melihat Mario seperti itu mereka cukup bahagia juga rupanya. Ah, akhirnya ada juga masanya Mario bertemu orang yang mampu mengubah mimik wajahnya yang selalu datar, dan menyebalkan.
Sebenarnya Mario benar-benar tidak memahami bagaimana wanita jaman sekarang dalam menjalin hubungan, maklum saja, dia hanya punya satu mantan kekasih itu pun sudah lama sekali sehingga dia amat sangat terkejut apalagi Nara menjelma sebagai istri yang datang dengan tiba-tiba membawa kutukan kesialan untuknya. Baru saja semalam menjadi istri dia sudah berani memegang si kemoceng berbulu yang selama ini di simpan rapih seperti memiliki cita-cita untuk menjadi Kasim atau biksu. Ah, sialan bahan bukan hanya memegang, tapi meremas, membuatnya mau tak mau jadi bereaksi dan hampir saja terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan.
Jika saja Mario adalah pria lain, tentu saja dia tidak akan melewatkan kesempatan emas seperti itu. Masalahnya adalah, Mario begitu trauma dengan kekasih pertamanya sampai stres parah, jadi dia beranggapan dan memerintahkan kepada dirinya sendiri untuk jangan berurusan dengan wanita jika tidak mau merasakan sakit hati yang bisa saja membuat otak tidak waras, lalu melakukan hal-hal diluar nalar manusia.
Krek!
Mario terlihat stres sekarang ini hingga tanpa sadar dia meremas botol air mineral dengan kuat.
" Wah, senang sekali melihat ekspresimu hari ini, Mario. " Wiliam terus menatap Mario dengan senyum bahagianya, Mike juga mengangguk setuju, ekspresi nya juga tidak lain seperti ekspresi Wiliam.
Mario menatap Wiliam dan Mike bergantian, lalu menghela nafas setelahnya. Sungguh dia tidak sanggup mengontrol mimik wajahnya hah biasanya akan terlihat kaku, datar begitu saja.
" Aku tidak sanggup menghadapi wanita itu. Rasanya aku ingin meminta seseorang untuk menculiknya dan menjauhkan dia dariku sebuah mungkin. Yah, kalau bisa aku ingin mengirimnya ke planet yang lebih jauh dari Pluto itu. "
Wiliam dan Mike kompak tersenyum senang, ah senangnya melihat wajah frustasi Mario yah semakin terlihat nyata, apalagi Mario sampai mengakuinya, benar-benar membuat mereka merasa begitu bersyukur adanya wanita yang namanya Nara itu.
" Bajingan! Berhentilah menatapku seperti itu. Kalian pasti mengalami hari yah tidak baik setelah menikahi dia makhluk berinisial wanita itu kan? " Tanya Mario yang yakin benar kalau pernikahan ini benar-benar membuat kehidupan mereka sengsara.
" CK! Yah kau seharunya tahu kan? Sebulan aku sudah di kurung oleh Ayah dan Ibuku, satu bulan juga kemoceng berbulu milikku ini di sekap, aku saja hampir lupa bagaimana caranya menganu perempuan. Sudah ada malam pertama, eh malah Sevia datang bulan. Benar-benar tidak beruntung, padahal sudah dirugikan dengan menikahinya, rugi lagi gagal menganu dia. " Kesal Mike lalu membuang nafas sebalnya.
" Istrimu bukanya Lope namanya? " Ujar Wiliam karena dia kan melihat papan nama ketiga Padang pengantin kemarin.
" Aduh! Lupa lagi aku, iya namanya Lope. " Mike tersenyum lebar dengan perasaan malu.
Mario berdecih dengan tatapan datar, sementara Wiliam menggeleng heran.
" Bagaimana denganmu? " Tanya Mike kepada Wiliam.
Wiliam jelas juga tak beda dari Mario dan Mike, dia sama kesalnya mengingat bagaimana si menyebalkan yang bernama Moza. Benar, Moza memang cantik, tapi tetap saja gayanya yang keren dan auranya yang bersinar membuat Mario tak senang. Entah mengapa jika di dekat Moza dia seperti redup tak memiliki cahaya lagi untuk bisa membuatnya percaya diri seperti sebelumnya.
" Aku sebenarnya tidak nyaman karena aku merasa auranya jauh di atasku. "
" Jadi maksudmu, kau cemburu dengan aura istrimu sendiri? " Tanya Mario dan Mike bersamaan.
" Iya kurang lebih begitu, semalam aku melihat dia duduk dengan sangat keren, gila! Aku benar-benar belum pernah melihat orang berdiam diri malah terlihat sangat keren. Yah, meksipun ujungnya dia mengatakan tidak suka pria yang tidak mampu dan lemah, aku jadi ingin membuktikan betapa hebatnya aku dalam membuat wanita merintih di atas tempat tidur sampai pingsan juga bisa. Tapi, mengingat dia lebih keren dariku, aku benar-benar kesal dan tidak terima. "
" Halo? " Ucap mereka berupa bersamaan.
" Aku tidak ingin pulang. " Ucap mereka bertiga dengan mimik sedih setelah memutuskan sambungan telepon masing-masing.
Rupanya istri mereka menghubungi dan meminta untuk para suami segera kembali, tentulah mereka bertiga alias para istri di perintahkan oleh ketiga pria itu karena mereka tahu benar jam pulang kantor mereka bertiga.
Dengan wajah sedih, tubuhnya yang bergerak malas akhirnya mereka bertiga kembali kerumah mereka masing-masing.
" Sayang, sudah pulang ya? " Nara tersenyum begitu manis, dia berjalan mendekati Mario yang baru saja masuk ke dalam kamar lalu tanpa izin mencium pipinya. Mario sebenernya ingin menghindar, tapi Nara bergerak sangat cepat melebihi tokoh flash dan bibirnya sudah mendarat di pipinya begitu saja.
" Kau, sudah kubilang jangan sembarang mencium! "
Nara kembali tersenyum, dia memeluk lengan Mario memaksa dengan caranya ketika Mario terus mencoba untuk menyingkirkan tangannya, tapi Nara dengan lihai masih saja bisa memeluk lengan Mario begitu erat.
" Sayang, aku bantu memandikanmu ya? "
Mario ternganga frustasi, rasanya ingin kabur dari sana, tapi sial sekali karena dia sempat melihat Ibunya mondar mandir ke sana seperti ingin memastikan keadaan. Ah, apakah sekarang dia tidak bisa menolak? Huh! Ternyata di ujung ruangan juga ada kamera pengawas, Nara pasti sudah tahu makanya dia bertindak begitu agresif seperti ini kan?
Ini pasti karena Ibu kan?
" Sayang, biar aku bantu melepaskan kemejamu, dan celana yang kau pakai ini ya? "
" Jangan! Aku bisa, aku bisa melakukan semua itu sendiri, kau diam saja disini dan biarkan aku mandi dengan tenang. "
Nara menolak untuk menjauh, dia justru sudah menarik gesper Mario entah kapan dia melepas kuncinya. Benar-benar tangannya sangat lihai seperti pencopet, batin Mario kesal dan ngeri terhadap Nara.
" Ayo sayang! " Nara menarik tangan Mario yang masih gelagapan karena Nara melepaskan ikat pinggangnya dengan mudah.
" Jangan! Aku tidak mau! Aku bisa sendiri! "
Dari luar kamar mandi hanya terdengar suara memekik Mario, dan juga ucapan kesalnya terhadap Nara.
" Ah, jangan menyentuh itu! Hei, jangan remas bokongku! Kau ini wanita macam apa?! Hei! Jangan mengerakkan itu ku! Hei, jangan membuat gerakan aneh itu! Hentikan! Hentikan! Aku bilang jangan! Ah...... Tolong! Siapapun tolong aku! "
Bersambung.