
" Nara, apa terjadi sesuatu dengan kalian berdua? " Tanya Ariel menatap Mario dan Nara bergantian.
Nara memaksakan senyumnya, sebenarnya memang tidak ada masalah, hanya saja dia yang kurang sadar diri dan terus menginginkan lebih dari apa yang dia dapatkan sekarang. Padahal kalau di pikir baik-baik, bukankah Nara termasuk sangat beruntung? Pertama dia mendapatkan suami yang tidak suka main perempuan, biarpun bicaranya agak menyakitkan nyatanya Mario memang suami yang baik. Masa iya hanya karena masalah kurang sedikit lagi di perhatikan dia sampai harus mengadu apalagi membuat Mario di marahi kedua orang tuanya? Tidak, ini adalah salahnya yang rakus akan perhatian jadi dia berharap ketika dia kembali ke rumah orang tuanya, dan pulang ke keluarga suaminya sudah dalam keadaan atau suasana hati yang baik dan lega.
" Ibu, tidak ada apa-apa kok, sungguh. Aku memang ingin pulang ke rumah Ayah dan Ibuku karena aku rindu mereka. "
Ariel memaksakan senyumnya, bukannya sok tahu, tapi dia juga wanita dan dia sudah pernah mengalami masa muda seperti yang di rasakan oleh Nara sebagai istri. Mungkin memang masalahnya bukan masalah yang serius, tapi kalau di biarkan saja tentu lama kelamaan akan menggunung dan jelas akan menjadi masalah besar dan bisa jadi pula tidak ada solusi selain perpisahan. Hah! Tidak, biarpun dia belum kenal lama dengan Nara, tapi Ariel yakin benar Nara adalah gadis yang baik dan pantas dengan status istri dari putranya.
" Nanti biar Mario yang antar ya? " Ucap Ariel.
" Iya, Bu. "
Setelah kegiatan makan malam selesai, Nara dan juga Mario kembali ke kamar mereka. Tentu saja bukan untuk langsung tidur, karena belum lama makan jadi tidak baik juga kalau langsung tidur. Untuk menunggu nasinya turun (kalau kata orang jaman dulu) Nara ingat benar belum membersihkan wajah, jadi segera dia melakukan itu, dan menggunakan perawatan kulit wajahnya seperti biasanya.
Sedangkan Mario, pria itu memang memegang ponsel, tapi matanya terus menatap ke Nara tak teralihkan. Di dalam hati dia terus bertanya Sebenarnya ada apa? Apakah hanya karena dia tidak sengaja bertemu dengan Luna jadi Nara marah seperti sekarang ini? Tapi bukankah jika itu adalah alasannya, Nara begitu kanakan bukan? Tapi ya mau bagaimana lagi? Sifat Nara yang hobi cemburu tidak jelas adalah hak yang biasanya dia hadapi.
" Nara, apa masih lama mengurus wajahmu? " Tanya Mario yang tidak tahan lagi menunggu Nara selesai karena dia juga ingin segera mengajak Nara bicara.
" Sebentar lagi. " Ujar Nara, lalu setelah di rasa selesai, dia dengan segera berjalan menuju tempat tidur dan duduk sama seperti yang Mario lakukan kala itu.
" Ada apa menungguku? " Tanya Nara.
Mario menghela nafas, lalu menatap Nara dengan tatapan serius.
" Katakan padaku, aku salah di mana? Apa yang salah supaya aku bisa memperbaikinya? "
Nara tersenyum.
" Memangnya kau salah? Aku kan tidak mengatakan seperti itu, Mario. "
Mario menutup bukunya, lalu kembali menatap Nara.
" Saat kau sedang marah, membuat batasan, kau akan memanggilku Mario tanpa kau sadari. Dan sudah sedari tadi kau terus memanggilku begitu. "
Nara terkekeh, mengecup bibir Mario sebentar lalu tersenyum.
" Jangan bicara yang aneh-aneh, selamat malam. " Ucap Nara seraya mengambil posisi untuk tidur.
Mario membuang nafas kasarnya. Entah harus memaksa Nara untuk bicara atau bagaimana. Tapi kalau di paksa yang ada pasti mereka akan bertengkar, kalau tidak di paksa Nara pasti akan begini terus menerus tidak tahu sampai kapan.
" Nara? "
" Aku ngantuk sekali, sayang. "
Mario terdiam, sepertinya Nara benar-benar tidak ingin bicara, jadi lebih baik jangan memaksa. Mario mengambil posisi untuk berbaring dia belajar Nara, menatap Nara yang kini memunggunginya padahal biasanya Mario yang akan melakukan itu.
Besok paginya.
Nara sudah bersiap untuk pergi ke rumah Orang tuanya, sementara Mario juga sudah bersiap untuk pergi ke kantor dan juga mengantarkan Nara dulu tentunya. Di dalam perjalanan mereka tak mengobrol sama sekali, benar-benar aneh karena mereka seperti merasa canggung padahal mereka juga sudah terbiasa berada di mobil berduaan seperti ini.
" Jangan, kan aku sudah bilang mau menginap. "
" Besok pagi-pagi sekali aku jemput kalau begitu. " Ucap Mario.
" Jangan juga, aku ingin menginap sekitar dua atau tiga hari. "
Mario menggeleng heran, benar-benar tidak mau bicara padahal ini termasuk cukup lama Nara aneh seperti ini.
" Nanti malam aku akan menghubungimu lewat panggilan video, kau harus angkat, dan temani aku tidur. "
Nara tersenyum, dia benar-benar tidak berani mengangguk karena dia tahu di waktu sekarang ini dia sedang membutuhkan ketenangan agar dapat berpikir dengan baik, dan bisa mengontrol perasaannya yang mudah sekali cengeng akhir-akhir ini.
" Aku pasti akan sibuk di rumah Ibu, nanti kalau aku tidak Sengaja melewatkan panggilan video darimu tolong jangan marah ya? "
" Marah, aku tetap marah! "
Nara menyebikkan bibirnya untuk meledek Mario yang malah bertingkah seperti bocah kecil saja.
Begitu Nara sudah berada di rumah orang tuanya, Mario langsung ke kantor tak lama, tentunya dia juga sudah menyapa Aya dan Ibu mertuanya.
Selama di kantor dan bekerja seperti biasanya sih tidak ada masalah, tapi begitu pulang dari kantor dah tidak ada Nara di dalam rumah, suasana memang sangat jauh berbeda.
Mario coba untuk mengerjakan apa yang dulu dia kerjakan sendiri. Mandi dan menyiapkan baju ganti, menyiapkan vitamin yang biasa dia minum, membaca buku untuk tidak terus merasa sepi, tapi nyatanya dia tetap tidak bisa kalau tidak ada Nara.
" Kenapa sih telepon dariku tidak di angkat? " Gumam Mario setelah menghubungi Nara sekitar tiga kali dari selesai dia membaca buku.
Mario memutuskan untuk mengirim pesan kepada Nara, dan lucunya Nara langsung membalas pesan darinya.
*Sedang lakukan apa?
Sedang membantu Ibu membuat kue kering.
Angkat telepon ku!
Maaf, aku sedang sibuk sekarang*.
" Cih! Malam begini untuk apa membuat kue kering? Memang tidak ada esok hari apa? " Kesal Mario.
Sudahlah, lebih baik dia coba saja untuk mengambil posisi tidur dan memejamkan mata berharap segera dia bisa beristirahat dan besok bangun pagi untuk bekerja. Tapi sial, benar-benar sial karena sudah berjam-jam Mario mencoba untuk tidur, nyatanya dia malah semakin tidak mengantuk dan terus mengingat Nara.
" Ah! Sialan! Apa aku kerumah orang tuanya Nara saja ya? " Mario mengusap wajahnya dengan kasar karena kesal sendiri dengan otaknya yang terus saja memikirkan tentang Nara.
Mario bangkit dari posisinya, berjalan untuk mencari kunci mobilnya.
" Nara, tidak ada lagi izin menginap di luar rumah, masa bodoh juga kalau itu adalah rumah orang tuamu. Aku datang, Nara! "
Bersambung.