Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 41



" Sayang, ayo tarik sisi bibirmu, tersenyum! " Ucap Nara sembari mengarahkan ponselnya yang sudah berada di dalam mode kamera on mengarah ke arah mereka berdua. Mario, pria itu benar-benar tak bisa memenuhi keinginan istrinya dengan tersenyum manis seperti yang tengah di lakukan nya.


" Sayang, jangan kaku begitu kalau tersenyum, ayo lebih tulus lagi! "


Mario membuang nafasnya sebentar, lalu berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum seperti yang Nara inginkan. Sial! Dia benar-benar salah lagi karena itu terbukti dengan Nara yang tak jadi menekan tombol untuk mengambil gambar.


" Kalau cara tersenyummu seperti itu, semua orang akan mengira kalau kau sangat terpaksa dan tidak rela photo bersamaku. Kau tahu kan semua kaum iblis berjenis wanita itu selalu menggunjing ku? Di kolom komentar semua orang bertanya kenapa aku tidak pernah berphoto denganmu, dan photonya haruslah photo yang mesra. Tapi kalau cara tersenyummu seperti ini, bisa-bisa mereka mengira kau sangat amat terpaksa menikahiku. Kau mau harga diriku hancur oleh senyum anehmu itu? "


Mario menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Setelah memperlakukan ku seperti anak anjing, setelah menggerayangi tubuhku tidak kenal pagi, siang, malam, sore, subuh, dini hari kau masih memikirkan harga diri? Nara, kalau kau bukan istriku, aku pasti sudah menjitak kepalamu, memasukkan granat ke mulutmu, memakaikan lem besi agar kau tidak bisa membuang granat itu. Duar........! Haha indahnya.....


" Mario, kau sedang membatin apa dengan seringai menakutkanmu itu?! " Nara menatap Mario dengan tatapan kesal, yah bagaimanapun Nara itu sudah mulai mengenal Mario dengan baik. Setidaknya dia menyadari ada yang di pikirkan oleh Mario dengan wajah liciknya itu, bahkan kalaupun Nara adalah cicak sinting, dia juga bisa dengan jelas melihat betapa jahatnya seringai Mario tadi.


" Apa? Memang apa yang bisa di batin oleh ku? " Mario membenahi ekspresi nya, bagaimanapun yang dia pikirkan tadi tidak akan pernah dia realisasikan apapun alasannya, dan seberapa kesalnya dia terhadap Nara. Bukan masalah cinta, toh rumah tangga juga bukan hanya soal cinta saja kan? Asalkan bisa mejalani rumah tangga merasakan dan menikmati suka dukanya meski mengeluh adalah hal biasa tentulah rumah tangga seperti itu yang akan sukses hingga maut memisahkan.


Nara membuang nafasnya, sekarang dia sedang tidak ada mood untuk bertengkar dengan Mario, jadi biarkan saja Mario dengan senjata imajinasi yang pasti sangat kejam.


" Kalau begitu, tolong tersenyumlah selebar mungkin dan perlihatkan bahwa kau sedang bahagia, bahwa kau sangat mencintai istrimu ini! "


" Iya, aku akan usaha sekuat tenaga untuk tersenyum seperti yang kau inginkan. "


" Oke, satu, dua, ti- "


Nara membuang nafas sebalnya dan menatap Mario lagi-lagi dengan perasaan kesal yang langsung saja membuat Mario menggaruk tengkuknya lagi. Padahal sih Mario sudah berusaha keras, tapi melihat ekspresi Nara jelas saja cara tersenyum nya masih salah.


" Mario ku sayang, kalau kau tidak juga tersenyum dengan benar, aku akan mematahkan cucungmu dan akan digantikan dengan wortel di dapur! "


Mario tersenyum tanpa sadar, dan senyum itu benar-benar membuat Nara berdebar. Nara mengangkat ponselnya di saat mereka sedang saling menatap dan Nara sebisa mungkin mengajak Mario untuk bicara agar Mario menunjukkan senyum yang seperti sebelumnya.


" Hanya ada baby wortel, apa kau yakin akan menggantikan milikku dengan baby wortel? Ukuran yang sekarang saja kau berani-beraninya mengeluh, lalu bagaimana jadinya nanti? "


" Setidaknya kalau nanti di gantikan dengan baby wortel lalu kau bisa tersenyum dengan baik aku tidak akan mengeluh lagi. "


" Benarkah? Kalau begitu biarkan aku mencoba dulu milik wanita lain supaya saat di gantikan dengan wortel aku tidak begitu sedih. "


Nara membulatkan matanya menahan kesal.


" Jangan berani-beraninya kau ya?! Kalau kau berani melakukan itu, aku akan menyeret wanita itu, lalu masukkan ke kadang buaya! Aku juga tidak akan ragu-ragu mengirimkan santet, teluh, jaran goyang, papa goyang, apalah itu semua aku akan melakukannya! Kalau juga tidak membuatmu kapok, aku akan membawamu untuk memasang rantai di cucungmu, biar aku yang pegang talinya dan aku bisa mengontrolnya dengan baik! " Mario tersenyum, lalu dia terkekeh karena tidak tahan lagi dengan ucapan Nara yang begitu aneh tapi lucu untuknya.


Berhasil! Nara sudah mendapatkan beberapa gambar yang luar biasa. Meskipun di ambil saat wajah Mario dari sisi samping sedangkan Nara sendiri sedang mangap karena sibuk mengoceh, setidaknya dia berhasil meski tak seindah yang dia bayangkan.


" Baiklah, ayo pergi tidur! " Nara memeluk lengan Mario dan membawanya untuk tidur.


Mario sebenernya masih belum paham apa yang ingin di lakukan Nara dengan mengambil photo lalu tiba-tiba bertengkar dan tidak jadi lagi megambil photo, lalu sekarang mereka bersiap untuk tidur. Tapi ya sudahlah, mau bagaimana tingkah polah Nara dia hanya bisa menerima saja dan tidak memiliki kesempatan untuk mengeluh. Seperti kamar Mario yang sudah berubah menjadi aneh ini. Pertama sprei beserta bantal di ganti warna pink, kemudian cat tembok juga berwarna pink, baju tidur pasangan hampir setiap malam sama, penutup jendela, tirai berwarna pink. Belum lagi di tambah barang-barang Nara yang membuat kamarnya terasa agak penuh, yaitu meja rias, rak sepatu, lemari baju, rak untuk tas Nara yang jelas bukan hanya satu atau dua buah saja.


Sebelum tertidur Nara kembali membuka ponselnya, lalu mengunggah photo bersama dengan Mario. Memang tak seperti yang di inginkan Nara, tapi photo itu benar-benar dia sukai.


Suami tercinta, dia milikku! Ingin merebutnya? Maka siapkan dulu lubang untuk mengubur nyawamu!


Begitulah bunyi keterangan dari unggahan Nara yang membuat banyak kaum wanita merasa iri kepada Nara, sekaligus kesal.


***


Luna, atau mantan kekasih pertama, atau cinta pertama Mario hanya bisa menatap unggahan Nara dengan tatapan pilu. Sungguh dia iri sekali dengan Nara yang bisa menikah dengan Mario, dia juga semakin menyesal karena harus ada perselisihan tidak penting sebelumnya hingga pada akhirnya mereka berpisah begitu saja. Awal nya Luna pikir semua akan baik-baik saja dan dia tidak terlalu memikirkan Mario, tapi lama kelamaan seiring berjalanya waktu di tambah dia merasa kesepian di rumah sakit karena kala itu dia pergi keluar negeri juga untuk berobat, Luna mulai merasa merindukan Mario, tapi dia kesulitan menghubungi Mario karena beberapa hal, terutama orang tua Luna benar-benar mengawasi Luna dan memintanya untuk fokus dulu dengan kesembuhannya.


" Mario, kau terlihat benar-benar tulus saat tersenyum kepada perempuan itu, apa kau benar-benar mencintai dia? Bagaimana bisa kau begitu cepat berubah? Padahal semua orang bilang kau memilih sendiri selama bertahun-tahun karena tidak bisa melupakan aku. "


Bersambung.