Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 33



Hari demi hari terlewati, semenjak benar-benar menjadi suami istri dalam arti, ' Sungguhan ' Wiliam dan Moza memang masih sama-sama menjaga kekakuan dan sok tidak gugup satu sama lain. Hanya saja ada beberapa hal yang belum berubah sepenuhnya, yaitu Wiliam masih meladeni beberapa pesan yang dikirimkan padanya dari seorang wanita. Mengenai melakukan ehem ehem atau ewita di luar sana bersama wanita lain, sepertinya Moza sudah bisa mengontrol semua itu dengan baik.


Beberapa waktu setelah mereka melakukan hubungan suami istri, ' ewita ' Moza mulai menghitung waktu yang di butuhkan Wiliam untuk bekerja, dan sebagainya. Jika Wiliam tidak sampai di rumah tepa waktu, maka Moza akan terus menghubungi, jika saja tidak mendapatkan jawaban, maka senjata terampuhnya adalah mengadu kepada Ayah mertuanya.


Benar saja perubahan itu muka terasa, Wiliam tidak banyak lagi menghabiskan banyak waktu di luar. Biarpun Wiliam meminta izin untuk pergi dia selalu memberikan kabar kepada Moza, lali mengirimkan lokasinya kepada Moza, bahkan seperti keinginan Moza untuk mengirimkan video dan bukti nyata bahwa Wiliam pulang dalam keadaan utuh.


Kalau kau masih saja ingin berbohong, aku akan meminta dokter menghitung berapa banyak jumlah cairan milikmu sebelum kau pergi, dan menghitungnya setelah kau kembali.


Haha..... Aneh sekali bukan? Tapi ya sudahlah, Moza memang bukan wanita yang akan mudah untuk di tolak keinginanya. Moza yang amat di siplin, rajin, kutu buku yang sesungguhnya mulai bisa diterima oleh Wiliam yang awaknya begitu tidak rela pesonanya jauh lebih rendah di bandingkan istrinya sendiri.


Ini sudah satu pekan Moza menjadi dosen di kampus yang pernah Wiliam menempuh sarjana satu nya di sana. Satu pekan semenjak Moza sibuk menjadi Dosen Wiliam juga akhirnya sukses beberapa kali mencuri waktu untuk bertemu teman, atau bahkan dia pernah bertemu dengan seorang wanita meski tak sempat melakukan hal yang enak enak bersama.


Ah, hari ini juga Wiliam terpaksa menjemput Moza karena permintaan Moza sendiri tentunya. Alasannya karena dia merasa pusing dan malas kalau harus memesan taksi dan perlu menunggu. Pekerjaan jemput menjemput tentu saja menyebalkan untuk Wiliam, tapi saat sampai di gerbang kampus dan minat betapa banyak mahasiswa muda yang mengerubungi Moza, Wiliam benar-benar merasakan apa arti menyebalkan yang sesungguhnya.


" Sialan! Kenapa mereka semua tampan? Hah! Tida bisa, kalau salah satu dari mereka meminta nomor ponsel Moza lalu komunikasi.errka lancar jaya bak perosotan anak TK bagaimana? Ah! Ogah sekali, dan juga sayang sekali kalau tubuh Moza juga di sentuh pria lain! "


Wiliam tadinya ingin langsung keluar dan membubarkan kawanan lalat yang mengerubungi Moza, tapi melihat mereka semua adalah pria yang lebih muda darinya dan juga tampan, Wiliam sebentar membenahi tampilannya, lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum dia benar-benar keluar dari sana.


" Hai sayang? " Wiliam sengaja mengeraskan suaranya, melambaikan tangan kepada Moza yang terdiam menatapnya dengan dahi mengeryit.


" Kak Moza, itu siapa? " Tanya salah satu mahasiswa di sana.


" Petuwa! " Jawab Moza dengan nada suara yang datar.


" Eh? Namanya petuwa? "


Iya, penjelajah tubuh wanita.


" Kalau begitu aku duluan ya? Kalian hati-hati dalam perjalanan pulang. " Ucap Moza lalu segera menuju kepada Wiliam yang masih tersenyum seperti orang bodoh entah apa maksudnya.


" Kenapa kau melambaikan tangan dan memanggilku sayang? Kau tahu ini di mana kan? "


Moza membuang nafas sebalnya.


" Beberapa waktu lalu saat kau menjatuhkan anggur kau menyebutnya sayang sekali, saat kau mendapatkan pesan dari wanita aku yakin kau juga membatin, sayang sekali kalau tidak di balas. Kau juga mengatakan sayang saat akan membeli kado mahal untuk adikmu yang paling kecil kan? Mulutmu begitu terbiasa menyebut kata sayang aku jadi merasa terbebani dengan sebutan itu. "


Wiliam terdiam tak bisa lagi bicara. Apa-apaan sebenarnya?! Sayang dalam artian tindakan dan panggilan tentu saja berbeda kan? Sebenarnya otak Wiliam yang dol atau Moza yang sengaja mencari bahan untuk bertengkar?


***


Nara tersenyum dengan tatapan tajam mengancam setelah diam-diam menerima panggilan telepon dari seorang wanita. Luna, wanita masa lalu yang pernah dia lihat Mario terus memandangi photo wanita itu. Cemburu? Iya! Kalau iya memang kenapa?! Sejak kapan jatuh cinta dengan Mario? Huh! Tidak tahu, benar-benar tidak tahu! Sekarang yang Nara tahu adalah, dia benar-benar tidak bisa menerima kalau sampai ada wanita yang akan mencuri suaminya. Cih! Jangankan seorang wanita, gerombolan singa betina liar juga akan dia hadapi dengan gagah berani.


" Apa? Kenapa menatapku seperti itu? " Tanya Mario keheranan juga merasa ngeri melihat cara Nara menatapnya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


" Luna, wanita itu benar-benar aktif sekali mengirim pesan untukmu suamiku sayang? Aku sih tidak melihat satupun balasan darimu untuknya, tapi bisa saja kau menghapus pesan yang kau kirimkan padanya kan? Yah, bagaimanapun kau pernah menatap photo wanita itu sampai kedua bola matamu hampir menggelinding ke lantai. Aku juga ingat kau sampai alergi wanita gara-gara perempuan iblis durjana, terkutuk, tidak tahu malu, menyebalkan, dan masih banyak lagi! "


Mario tersentak sampai tubuhnya reflek bergerak kaget ketika Nara meninggikan ucapannya di kalimat Paling akhir.


" Kau ini bicara apa sih? Jemariku sibuk dan tidak ada waktu untuk membalas pesan dari dia. " Ucap Mario karena memang begitu lah adanya. Sayang sekali, Nara benar-benar tidak bisa mempercayainya dan malah semakin terlihat kesal luar biasa.


" Jangan bohong! Kau tidak tahu pernah melihat sinetron azab kan? Akan aku ceritakan padamu ya.... Suatu hari ada seorang suami yang berselingkuh dengan mantan kekasihnya karena jatuh cinta kembali saat mereka bertemu kembali, suami itu dengan tidak punya perasaan menjalin hubungan yang dalam sampai ewita berkali-kali dengan selingkuhannya itu. Kemudian suaminya mulai merasakan ada yang tidak beres padanya, dia muntah darah campur paku, lesung, obeng, silet, rantai kapal, bahkan sampai ada yang seluruh tubuhnya terdapat benda tajam. Kau tahu kenapa? Itu karena sumpah serapah istri sahnya yang begitu sakit hati. Kemalangan tidak berhenti sampai di situ saja, si suami itu akhirnya mati saat ada ular piton yang keluar dari lubang pembuangannya, dan lubang kecil di bagian cucung juga mengeluarkan kaki seribu yang sangat banyak! "


" Nara! Hentikan! " Mario memegangi dadanya karena sedari tadi dia benar-benar panas dingin mendengar apa yang di ucapkan Nara. Sinetron azab? Sialan! Sinetron menakutkan seperti itu seharusnya tidak memiliki izin tayang kan?


" Aku belum selesai, ada satu kisah lagi loh..... "


" Aku, aku rasa mandi ku tadi belum bersih, jadi aku ingin mandi lagi. " Buru-buru Mario kembali masuk ke dalam kamar mandi.


" Cih! Lemah! " Maki Nara.


Bersambung.