
Mike dan Wiliam kini menatap Mario dengan senyum aneh yang begitu membuat Mario merinding. Hah, ya! Hari ini adalah hari dimana Nara akan menjalani bedah sesar guna melahirkan dua bayi yang ada di perut Nara. Tentu saja tujuan Mike dan Wiliam bukanlah semata-mata ingin menunggu Nara melahirkan saja, dia ingin melihat bagaimana tersiksanya Mario dengan ulah Nara yang paling berbakat membuat orang merasa kesal.
Mario menahan diri untuk tidak menatap Wiliam dan Mike sama sekali, sial! Tatapan mereka benar-benar membuat Mario ngeri sendiri, melihat Mike, dan Wiliam, tentu saja dia tahu niat mereka hanyalah ingin melihat bagaimana dia akan tersiksa nanti berbeda dengan Moza dan Lope yang terus menguatkan Nara agar tidak terlalu tegang dan takut.
" Nyonya Nara, sebentar lagi prosedur untuk bedah sesar akan segera di mulai, harap bersiap ya? " Ucap seorang perawat yang baru saja datang dan berucap dengan ramah.
Nara menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Sebenarnya masih ada sekitar satu jam lebih lagi untuk melakukan bedah plastik, tapi Nara benar-benar tidak bisa membohongi bahwa dia sangat gugup dan takut. Entah sama atau tidak seperti kebanyakan para Ibu yang akan melahirkan, tapi Nara sungguh takut jika nanti dia tidak bisa bangun setelah melahirkan, dan tidak bisa melihat dan mengasuh bayinya sendiri. Nara terus mencoba untuk tenang, tapi semakin dia mencoba tenang dia justru terlihat panik.
" Nara, tenangkan dirimu ya? Lihat, keringatmu jadi banyak keluar. " Mario menggenggam tangan Nara erat, mengecup keningnya dengan lembut. Mario benar-benar bisa melihat wajah Nara yang begitu panik, sekarang dia tahu benar melahirkan jelas bukanlah hal yang main-main. Belum sebentar lagi kulit perut nama akan di iris lapis demi lapis sampai ke lapisan terakhir di mana bayi mereka berada. Sial! Membayangkan itu Mario jadi merasa takut juga, takut kalau saja dia kehilangan Nara, takut jika melahirkan anak akan membuat Nara dalam bahaya. Sekarang tidak masalah, mau digigit, di Jambak, di pukul, di cubit, apapun itu dia akan menyerahkan diri sepenuh hati, dia juga akan berusaha untuk tidak mengaduh asalkan Nara lega, dan bayi mereka lahir selamat begitu juga dengan Nara.
" Nara, kalau kau ingin memukul atau apapun itu, lakukan saja padaku, aku tidak apa-apa, aku janji tidak akan mengeluh. " Ujar Mario sembari mengusap wajah Nara dengan lembut.
Nara menyeka air matanya, hah! Entah sejak kapan dia menangis tanpa suara, dan membuat Wiliam serta Mike tersenyum senang semakin tidak sabar melihat bagiamana penderitaan Mario akan di mulai.
Satu, dua, tiga!
" Sayang, lihat tuh Mike dan Wiliam, mereka tersenyum seperti itu membuatku sangat takut. Wajah mereka menyebalkan sekali, tolong cubit pipi, hidung, dan bibir mereka sayang! Aku benci melihat wajah mereka, kata Ibu kalau aku benci berlebihan, bisa-bisa anak kita mirip orang yang aku benci. "
Mike dan Wiliam terdiam dengan wajah terkejutnya, mereka saling menatap setelahnya dengan perasaan ngeri.
" Bagaimana kalau kita kabur sekarang? " Tanya Mike yang langsung di angguki oleh Wiliam. Tapi baru saja akan angkat kaki, Lope menahan lengan Mike, sementara Moza menahan leher belakang Wiliam agar tak bisa kabur.
" Aduh, istriku sayang, permaisuri ku, lepaskan suamimu ini ya? Ini antara hidup dan mati. " Ucap Wiliam memohon kepada Moza.
Moza membuang nafasnya.
" Berkat Nara aku bisa melahirkan bayi kita dengan selamat, maka sekarang kau harus membantu dia juga! " Ucap Moza yang tidak bisa di bantah oleh Wiliam.
Cih, berkat Dokter lah!
" Anu, sayang. Lepaskan aku ya? Sepertinya aku kebelet pipis nih. "
" Kau tidak dengar Nara mengatakan apa? Demi bayinya, kau harus tahan saja! "
Mario tersenyum senang, dia menatap Wiliam dan Mike dengan senyum miring dan tatapan mengancam.
" Nara, lihatlah bagaimana aku bekerja keras memuaskanmu dan juga bayi kita. " Mario berjalan cepat mengabaikan Wiliam dan Mike yang ketakutan, langsung merangkul leher mereka berdua, tangan Mario bergerak untuk mencubit pipi, hidung, mulut, berkali sampai Nara merasa puas.
" Bagaimana, Nara? Apa wajah mereka masih menyebalkan dan membuatmu merasa takut? " Tanya Mario menghentikan kegiatannya padahal Mike dan Wiliam sudah lemas tak berdaya.
Nara mengangguk dengan wajah sedih manjanya.
" Aw! Sakit! Ah! Ah! Hentikan! Jangan! " Pekik keduanya yang sukses membuat Moza, Lope, dan juga Nara terkekeh senang.
Beberapa saat kemudian.
Proses operasi di mulai, bius lokal di tubuh Nara membuat Nara masih bisa tetap membuka matanya, dan di sana juga Mario yang terus berbisik kepada Nara bahwa semua akan baik-baik saja ketika Nara tenang. Kalimat itu adalah kalimat yang sama di ucapkan Ayahnya saya menenangkan Ibunya dulu, dan ternyata kalimat itu benar-benar mujarab sekali.
" Sayang, apa kau melihat perutku sekarang? Apa perutku sudah di- "
" Jangan pikirkan itu lagi ya? " Mario mengecup dahi Nara dengan lembut. Tentu saja Mario sendiri juga tidak tahu bagiamana perut Nara sekarang karena tentu ada kain yang membatasi di antara mereka.
Nara memang sudah tidak seperti sebelumnya di mana tubuhnya gemetar hebat dan telapak tangannya begitu dingin, tapi tetesan air mata yang jatuh di ujung matanya membuat Mario begitu tersentuh. Yah, dia tahu apa yang di takutkan Nara sekarang ini.
Mario membuang nafasnya, menyingkirkan perasaan campur aduk yang dia rasakan saat ini, menatap Nara yang kini juga menatapnya.
" Nara, aku mencintaimu. " Ucap Mario dengan tatapan yang bersungguh-sungguh.
" Aku mencintaimu, makanya kau jangan berpikir macam-macam, harus sehat dan hidup lebih lama agar kita bisa bersama membesarkan anak-anak kita. "
Nara tersenyum sembari menangis. Akhirnya, ungkapkan cinta itu bisa dia dengar dengan, akhirnya dia lega karena ternyata perasannya bukan perasaan yang bertepuk sebelah tangan.
" Aku juga, aku sangat mencintaimu. "
Mario tersenyum, kalau mengusap air mata Nara, mengecup lagi dahi Nara.
Beberapa saat kemudian lagi, Nara sudah di pindahkan ke ruang perawatan, dan dua bayi yang lahir adalah bayi perempuan yang sangat cantik.
" Selamat untuk kalian. " Ucapan itu terdengar membahagiakan untuk Nara dan Mario. Akhirnya, masa menegangkan itu sudah berlalu. Ariel adalah orang paling heboh menyambut Nara dan kedua bayinya hingga menangis sembari tertawa bahagia.
" Kau ingin mengucapkan selamat? " Tanya Mike yang terlihat murung sekali di tambah penampilannya yang berantakan gara-gara Mario.
" Menurutmu setelah penyiksaan ini, mulutku masih bisa mengatakan selamat? " Ujar Mario yang penampilannya juga tak kalah berantakan.
Kedua bayi perempuan kini sedang berada di gendongan Nara yang masih duduk di brankar rumah sakit, dan satu lagi berada di gendongan Ariel.
Wiliam dan Mike yang baru bergabung, di tambah mereka tahu bahwa kedua anak Mario adalah perempuan, mereka memiliki ide dan niat yang cukup menarik hingga tanpa sadar mereka begitu kompak tersenyum penuh maksud menatap kedua bayi Nara dan Mario.
" Tidak! Hentikan tatapan aneh kalian, jangan berpikir macam-macam! Sampai lebaran babi pun aku tidak akan menjodohkan kedua putriku dengan anak kalian! " Mario menyentuh kedua bayinya karena merasa was-was.
Semua orang tertawa di buatnya. Yah, bayi mereka saja baru lahir, tapi sudah memiliki rencana gila itu?!
" Siapa tahu memang jodoh. Kau tidak menebak kenapa anak kami laki-laki sementara kau memiliki kedua anak perempuan? " Ujar Mike membuat Mario ingin sekali meninju wajah Mike.
Mario membuang nafas kasarnya.
" Tidak! Walaupun jodoh, aku akan jadi pemutus jodoh! Kalau tidak bisa putus, aku akan berdoa pagi, siang, malam supaya tidak berjodoh! Kalau masih saja berjodoh, aku akan memaksa Tuhan sampai Tuhan bosan dengan protesku lalu mengabulkan keinginanku! "
Semua orang semakin tertawa terbahak-bahak oleh tingkah para Ayah baru itu.
Beberapa Minggu setelah itu, Mario mengumumkan kepada publik tentang kelahiran kedua putrinya dengan bangga meski Mario tak pernah memamerkan wajah kedua putrinya. Luna yang melihat hal itu hanya bisa mengubur perasannya sedalam mungkin, karena bagaimanapun usahanya Mario tidak akan menoleh padanya lagi.
Mike dan Wiliam juga melakukan hal yang sama. Mereka kompak mengumumkan tentang putra mereka yang lahir beberapa Minggu lalu. Berbeda dengan Mario, Mike dan Wiliam tampak santai memamerkan wajah sang putra dan membanggakan ketampanan mereka. Yah, isi media sosial ketiga Ayah baru itu sekarang hanyalah tentang istri dan anak saja.
***
Nara tersenyum seraya menjatuhkan kepalanya di lengan Mario. Mereka kini tengah menatap kedua bayi mereka yang sedang tertidur pulas setelah beberapa jam berjuang menidurkan mereka.
" Sayang, kau lelah? " Tanya Nara kepada Mario yang tahu benar betapa lelahnya Mario harus bekerja, lalu pulang membantunya menjaga anak mereka.
" Sedikit, tapi aku bahagia sekali, sayang. " Ujar Mario lalu mengecup singkat kepala sang istri.
" Aku juga. " Nara memeluk lengan Mario.
" Besok dua pengasuh bayi kita akan datang, jadi kau bisa sedikit bersantai, toh Ibu pasti akan mengawasi mereka. "
Nara tersenyum lalu mengangguk.
" Jadi, kapan kita akan buat adik untuk mereka? " Tanya Nara yang langsung mendapatkan tatapan terkejut dari Mario.
Tamat!
Hai hai hai..
Terimakasih sudah mengikuti cerita ini dari awal hingga akhir ya.....
Terima kasih juga untuk like komentar setiap babnya yang kalian berikan sehingga aku jadi tambah semangat untuk up episodenya....
Bonus chapter berakhir ya, tapi wajib untuk kalian mampir ke karya baruku, ( DENDAM SI GADIS PENGGODA)
Di tunggu loh, mampir, mampir, mampir!!!!!!
Sampai jumpa kesayangan akuhhhhhh.
Ingat!
Di tunggu mampir ke karya baruku, ( DENDAM SI GADIS PENGGODA)