Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 12



Mario terdiam menatap sebuah photo dari pigura berukuran kecil di tangannya. Itu adalah photo miliknya dan juga milik wanita pertama yang membuat hatinya jatuh cinta. Ingat benar kala itu seorang gadis bernama Luna datang menghampiri dengan rona merah di wajahnya, dia menatap Mario dengan tatapan malu-malu. Aku mencintaimu, senior! Ucap gadis itu dengan lantang membuat Mario terdiam karena merasa kaget dan heran. Tapi saat dia mengatakan jika dia sedang dihukum karena kalah dalam permainan masa orientasi mahasiswa baru, Maria langsung tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya.


Awalnya Mario tidak ingin memikirkan hal itu, tapi beberapa kali mereka bertemu di kampus membuat mereka berdua jadi Laing menyapa dengan perasaan malu satu sama lain. Hingga suatu hari Luna tidak di jemput oleh supirnya karena supir mengalami kecelakaan saat akan menjemputnya, Mario yang kala itu melihat Luna kebingungan akhirnya menawarkan tumpangan. Selama perjalanan menuju rumah Luna Mario dan Luna terus mengobrol hingga membuat Mario merasa jika Luna adalah gadis yang cocok dengannya, Luna juga sangat cantik, juga lembut dan baik dalam bersikap.


Hubungan mereka berjalan semakin dalam, cinta di antara mereka semakin besar, bahkan kala itu Mario yang baru berusia dua puluh satu tahun sudah memiliki niat untuk segera menikah. Tapi, baru saja beberapa bulan menjalani hubungan asmara, Luna mulai menunjukan sifat yang selalu bertolak belakang dengan Mario. Mulai dari Luna yah suka sekali party dan meminum alkohol, bergaul dengan banyak pria dengan alasan bahwa berteman bukan berarti hanya dengan gender yang sama. Mario hanya memilih diam kala itu karena dia pikir selama Luna tetap menjadi kekasihnya maka semua akan baik-baik saja. Tapi lagi-lagi dia harus merasakan kekecewaan saat Luna kalah dalam permainan truth or dare, dia mencium pria yang ada di hadapannya, dan siap sekali Mario saat itu berada di samping Luna. Jadilah Luna mencium bibir pria itu di hadapan Mario.


" Apa kau begitu menyukai permainan itu? " Pertanyaan itu lolos dari bibir Mario karena benar-benar tidak tahan lagi dengan apa yang dilakukan Luna.


" Mario, itu hanyalah sebuah permainan saja. Sudahlah, jangan di pusingkan, kami terbiasa untuk menuangkan permainan ini kok. Kau sudah bersedia menjalin hubungan denganku, artinya kau juga harus bisa menerima apa yang aku sukai kan? " Protes Luna kala itu.


James masih menerima dan memaafkannya, dengan bodohnya dia terus mencoba untuk mengerti dan mengikuti saja kemauan Luna meski hatinya terus saja menolak tak terima. Hingga suatu ketika sebuah video viral di berita kampus, dia adalah Luna yang kalah di permainan truth or dare, Luna memegang milik laki-laki yang adalah temannya, itu pengakuan dari Luna saat itu, Luna dengan semangat memegang sembari terbahak-bahak membuat Mario tak habis pikir dengan hobi gila yang sangat menjatuhkan harga diri seseorang seperti itu.


Dengan perasaan kesal Mario mencari keberadaan Luna yang kala itu tengah berada di kantin kampus. Mario menggebrak meja di mana Luna berada dan menunjukan video yang tengah menjadi perbincangan di kampus.


" Kenapa kau segila ini, Luna? "


Luna terdiam karena awalnya dia tidak menganggap itu penting. Semua teman kampus jelas tahu jika itu terjadi karena sebuah permainan, tapi dia tidak menyangka kalau Mario akan datang dengan marah seperti ini membuatnya malu luar biasa karena semua orang di kantin sekarang tengah melihat ke arahnya dan juga Mario.


" Luna, kau ini adalah seorang gadis, kau apakah tidak merasa malu sama sekali? "


Luna kini semakin kesal, dia tidak mau menyembunyikan kekesalannya, bagaimanapun dia juga perlu menjaga harga dirinya di hadapan semua orang.


" Kau siapa hah?! Kau bukan orang tuaku, kau bukan siapa-siapa selain pria yang menjadi pacarku. Kau ingin mengaturku ini dan itu bertingkah seperti seorang suami, kau dan aku hanya pacaran jadi jangan berlebihan dalam mengaturku! "


Mario sebentar terdiam untuk menahan emosinya yang semakin naik begitu Luna malah membuatnya tambah kesal.


Luna menampar wajah Mario karena merasa sangat di rendahkan oleh Mario. Jika saja Mario tidak mengatakan itu di sana dan dilihat banyak orang, mungkin saja Luna akan memilih diam saja dan mencoba untuk memahami, tapi sayangnya semua orang kini tengah menatapnya seperti begitu setuju dengan apa yang dikatakan Mario, dan tentulah dia merasa sudah begitu dipermalukan oleh Mario, pria yang dia anggap sangat baik dan sangat dia cintai serta pria satu-satunya yang akan ada di hatinya.


" Yang merendahkanku adalah kau! Kau mengatakan semua itu di hadapan banyak orang membuat mereka berpikir sama seperti yang kau pikirkan. Kau mau mempermalukan ku sampai seberapa jauh lagi, hah?! " Luna menangis setelah selesai mengatakan itu membuat Mario menyadari benar akan kesalahan yang ia lakukan. Mario tadinya ingin meraih tangan Luna, memeluknya dan meminta maaf, tapi Luna menolak keras dirinya dan pergi meninggalkan kantin. Sebentar Mario berpikir apakah perlu untuknya memberikan waktu untuk Luna tenang? Tapi karena justru Mario lah yang tidak tenang sehingga dia memilih untuk mengejar Luna, sayangnya Luna sudah masuk ke dalam taksi dan mulai menjauh dari gerbang kampus.


Beberapa hari terlewati, Luna tidak pernah datang lagi ke kampus, dia juga tidak membalas ataupun pesan yang Mario kirimkan padanya. Hampir setiap hari Mario mengirim pesan untuk meminta maaf padanya, mengirim bunga brugmansia, bunga kesukaan Luna dan menyelipkan kartu ucapan untuk permintaan maaf, tapi Luna juga sama sekali tak pernah menanggapinya.


Tak ingin menyerah begitu saja, Mario mendatangi rumah Luna dan saat itu dia berpapasan dengan ambulan yang keluar dari gerbang rumah Luna. Segera Mario bertanya kepada satpam rumah Luna yang akan menutup gerbang untuk menyatakan perihal ambulan yang keluar dari gerbang rumah Luna.


" Pak, ambulan barusan membawa siapa? "


" Anda siapa? " Tanya satpam itu kepada Mario.


" Saya Mario, saya teman kampusnya Luna. Saya datang ke sini karena penasaran kenapa Luna tidak datang kuliah beberapa hari terakhir ini. "


Satpam itu nampak lesu.


" Non Luna sedang sakit, dia memang sudah lama menderita ganguan pernafasan, hanya akhir-akhir ini keadaanya memburuk. Ambulan tadi membawa Non Luna yang akan di bawa ke rumah sakit sembari mengecek kondisi non Luna yang akan di bawa ke luar negeri untuk berobat. "


Mario berpegangan pada besi pagar karena tubuhnya begitu lemas mengetahui kondisi Luna yang sangat tidak baik. Jelas dia menyalahkan dirinya sendiri. Sejak saat itu Mario terus mencari keberadaan Luna, tapi keluarga Luna seperti sengaja menutupi darinya. Bertahun-tahun Mario menjalani hari dengan rasa bersalah, terhukum oleh rindu dan juga kesedihan. Sudah lama sekali sehingga Mario begitu membatasi diri dari wanita karena tidak ingin merasakan perasaan patah hati yang sulit mengembalikan dirinya yang seperti sebelum kenal apa itu patah hati.


Bersambung.