
Paman Daris menatap Leo, Onard, Win dan kakek dengan tatapan marah. Sekarang ini dia sudah tidak bisa melakukan apapun lagi karena semua bukti kejahatan, serta memanipulasi perijinan, dan juga banyak hal lain dari kejahatan yang sudah di kantongi oleh pihak berwajib. Paman Daris sudah benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk bebas dalam waktu dekat karena dia bukan hanya tahanan dalam negeri saja, dia juga telah menjadi tahanan negara asing.
Sungguh Win begitu senang hingga tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum. Iya, semua kekacauan ini jelas Win yang sudah mengomporinya. Jika saja Paman Daris tidak terburu-buru seperti rencana Gun, tentu saja semua ini tidak akan begitu cepat selesai. Gun dan paman Daris adalah dua orang yang sebenarnya sangat manipulatif, mereka juga memiliki kelicikan yang sebenarnya bisa membuat mereka memiliki satu pemikiran yang sama, dan hasilnya pasti akan menjadi jangan menyeramkan jika sungguh terjadi. Untung saja Win cepat mengecoh dengan beberapa tindakan, membuat Paman Daris panik dan bertindak buru-buru, sedangkan Gun yang biasanya selalu bertindak hati-hati membuat Paman Daris menjadi tidak tahan dan membuang-buang waktu. Iya, jadilah seperti sekarang ini, kekacauan sudah terjadi, dan semua berakhir.
" Aku akan membalas mu nanti. " Ucap Gun lirih saat melintas di hadapan Win bersama dua orang polisi yang menggiring tubuhnya.
" Tidak, kau tidak akan bisa melakukannya. Aku akan pastikan itu, dan aku doakan semoga kau bisa mengambil hati teman-teman mu di dalam penjara sana ya? Mereka pasti akan membuat ulah, semoga kau tidak mati sebelum merayakan ulang tahun mu di tahun depan ya? "
Gun mengeraskan rahangnya dengan tatapan marah. Dia sungguh bisa menebak jika Win sudah membayar tahanan yang akan satu sel dengannya. Win memang memiliki banyak koneksi, juga sangat berhati-hati dalam bertindak. Jika tidak melakukannya dengan totalitas, maka bukan Win namanya.
" Jika ada kesempatan untukku, aku benar-benar akan membuatmu merasakan apa yang aku rasakan. "
Win tersenyum.
" Sudah ku bilang kau tidak akan memiliki kesempatan, jadi baik-baik saja hidup disana. "
" Semuanya berakhir seperti ini, dan ini karena kakek. " Ucap Kakek pelan. Pria tua itu hanya bisa menatap pilu saat Paman Daris di masukkan ke dalam mobil secara paksa oleh polisi, bahkan dia juga terus memandangi mobil polisi itu dengan mata memerah menahan tangis.
" Kakek, ada harga yang harus di bayar untuk sebuah kejahatan. Dia bukan hanya telah melakukan satu kejahatan besar saja, jadi ini lantas untuknya. " Ucap Onard menenangkan sang kakek yang terlihat begitu bersalah.
" Dia menjadi pendendam karena sikap ku, jadi aku lah yang sudah membuat semua ini terjadi. "
Semua orang terdiam tak berani berkomentar. Sebenarnya paling banyak tahu tentang kakek adalah Onard, karena selama dalam perawatan bertahun-tahun, menjalani ratusan operasi juga semuanya karena bujukan kakek. Mereka yang awalnya tidak dekat sama sekali menjadi begitu akrab, kakek benar-benar merawat Onard dengan baik tanpa sepengetahuan Daris, biarpun mereka terpisah oleh jarak, nyatanya Kakek tetap memberikan perhatian dan semangat melalui sambungan telepon.
" Apakah kalian sudah puas? Sekarang apakah kalian berniat membunuhku? Tau membuang ku? "
Semua orang menoleh ke arah sumber suara. Dia adalah Grade, gadis cantik yang tak lain adalah anak dari Paman Daris, dan adik dari Mark. Sebagai seorang adik tentu dia sudah sangat terpukul karena kehilangan kakaknya, ditambah dia harus kehilangan Ayahnya juga, Gun juga ikut pergi padahal dia sudah di anggap kakaknya juga. Semua orang sudah pergi, tidak ada satu pun keluarga yang dia miliki, jadi apakah dia harus mati juga? atau dipenjara? Ataukah dia akan di buang jauh ke daerah luar?
" Kau bicara apa nak? Kau bisa tinggal bersama kakek. " Ucap Kakek melas.
Grade tersenyum kelu.
" Tinggal bersama orang yang sudah membuat keluargaku meninggalkan ku? Orang yang sudah membuat aku ditinggal seorang diri? Apakah Kakek pikir aku mampu melihat wajah Kakek, dan wajah kalian? Tidak! Aku tidak akan sanggup! "
" Aku kan bukan cucu kandung kakek, aku bukan cucu yang kakek inginkan, bahkan kakek juga hampir tidak pernah bertanya kabar ku sebelumnya kan? Bagaimana bisa aku tetap hidup dan bertahan mengingat apa yang terjadi ini? Tolong, tolong lah bunuh aku, tolong jangan membuatku hidup dan terus mengingat apa yang terjadi sekarang ini. " Grade menyeka air matanya. Sungguh dia sangat sedih, tapi juga tidak merasa pantas berharap untuk bahagia, maka mati adalah jalan yang indah sekarang ini kan?
Onard tersenyum miring.
" Bagaimana rasanya? Sedih? Heh! Ayahmu sudah membunuh Ayahku, dan istrinya. Ayahmu juga ikut membakar ku hidup-hidup di hari pertama aku datang ke rumah Ayahku untuk menyapa dan memberi salam. Tidakkah kau berpikir, rasa sedih seperti ini lah yang dirasakan oleh ku, kakek, dan Leo yang kehilangan kedua orang tuanya di saat bersamaan dengan cara yang sangat tragis. "
Leo terdiam karena tak tahu harus mengatakan apa. Grade memang sangat menyebalkan, saat kecil dia itu sangat suka meledeknya habis-habisan, sudah besar pun kalau bertemu juga seperti itu, dia sangat suka menyindir, menghina, bicaranya sangat brutal, tapi Leo merasa tidak tega karena dia tahu benar bagaimana rasanya di tinggalkan oleh keluarganya sendiri.
" Benar, Ayahku penjahat bagi kalian, tapi dia malaikat bagiku. Dia pria yang selama ini melindungi ku dari banyaknya luka. Dia tidak pernah memperlakukan dengan buruk, dia tidak pernah berlaku seperti iblis kepadaku. Tapi, dia akan menjadi iblis kepada orang yang sudah membuatnya seperti itu. Aku sangat mengenali Ayahku, jadi aku tahu benar Ayahku seperti apa. Dia boleh licik dan jahat kepada kalian, itu karena kalian sudah menorehkan luka padanya. Kalian tidak pernah kan melihat senyum yang begitu lembut penuh kasih dari Ayahku? Itu karena Ayahku merasa kalian tidak pantas untuk melihat itu darinya. "
" Cih! Anak iblis ini mengoceh apa sih? " Gerutu Onard sembari menggosok telinganya yang gatal mendengar kalimat menyebalkan dari mulut Grade.
Grade tersenyum kelu. Oh, rupanya apapun yang dia katakan tidak akan mengubah sudut pandang satu pun orang tentang Ayahnya. Tidak apa-apa, toh semua sudah terjadi. Grade menyeka air matanya, dia berjalan keluar dari rumah dengan tatapan yang tak bisa di baca.
" Grade, mau kemana? " Tanya kakek khawatir. Tak menjawab, Grade terus berjalan keluar.
" Win, aku memang bukan Tuan mu, tapi tolong bawa anak iblis itu kembali ya? " Pinta Onard.
" Apa anda sedang butuh mainan? "
" Main boneka sesekali boleh kan? "
" Pria sejati tidak memainkan boneka. " Ujar Win.
" Win, apa kau tahu kalau kau sangat brengsek? "
" Terimakasih pujiannya. "
Bersambung.