
Pagi hari.
Wiliam perlahan membuka matanya karena suara alarm membangunkannya. Seperti biasa, Moza sellau bangun lebih pagi dari pada dirinya, bahkan Moza juga sudah menyiapkan sarapan untuk mereka di dapur. Dengan segera Wiliam bangkit dan menuju kamar mandi tentunya ya untuk membersihkan dirinya sebelum bekerja.
Wiliam membuka satu persatu pakaian yang ia gunakan, lalu meletakkan ke keranjang khusus untuk baju kotor, lalu berjalan menuju shower. Begitu dia menyalakan keran shower, dia tak sengaja melihat sebuah alat yang sepertinya tidak asing. Benda kecil itu adalah alat penguji kehamilan yang pasti lah itu adalah milik Moza, ya iya lah, mana mungkin milik Wiliam.
Dengan seksama Wiliam mengamati alat penguji kehamilan itu, ada dua garis di sana dan itu artinya adalah positif kan? Yah, walaupun Wiliam adalah seorang pria, dia tentu paham benar dengan benda itu secara dia adalah pria yang banyak berurusan dengan wanita sebelumnya.
Wiliam tersenyum, jadi Moza benar-benar hamil? Tidak jadi mandi, Wiliam memakai handuk yang dia lingkarkan di pinggangnya dan keluar dari kamar mandi untuk mencari keberadaan Moza yang pasti sedang berada di dapur.
" Moza istriku, ada di mana kau sayang? "
Moza yang kala itu tengah membaca sebuah buku di meja sarapan sembari meminum teh hangat bisa menghela nafas dengan cara Wiliam memanggil namnya yang begitu menggelikan untuk dia dengar.
Cup!
Wiliam langsung mencium pipi Moza, lalu duduk di sampingnya mengabaikan tatapan Moza yang nampak tak suka.
" Kenapa kau pakai handuk ke meja sarapan? Kau belum mandi ya? "
Wiliam tersenyum, lalu dia menunjukkan alat penguji kehamilan yang tau dia temukan di dalam kamar mandi.
" Aku menemukan ini! Ini milik mu kan? " Tanya Wiliam dengan semangat, matanya juga berbinar bahagia.
Moza terdiam sebentar, lalu dia mengangguk.
" Jadi kau hamil? " Tanya lagi Wiliam.
Moza tersenyum dan mengangguk.
" Sungguh? "
" Hem."
" Yes! Yes! Yes! " Wiliam memeluk Moza dan mengecup terus pipi, dahi, juga bibir Moza hingga beberapa kali.
Menyadari Moza yang tak begitu bahagia seperti dirinya, Wiliam mengeryitkan dahi dan menatap penuh tanya.
" Kenapa kau tidak bahagia? "
Moza menghela nafas.
" Kata siapa aku tidak bahagia? Tadi saat aku melihat hasil alat uji kehamilan itu, aku sampai menangis karena bahagia. Tapi, kemudian aku berpikir begini, ketika perutku membesar nanti, penampilan ku sudah tidak menarik lagi, akan ada bagian tubuh yang kulitnya akan tidak mulus lagi, aku akan sibuk mengurus anak, kalau suami ku saja memiliki sikap sepertimu, bukankah kehamilan ini hanya akan menjadi masalah untukku? "
Wiliam terdiam sebentar, sebenarnya dia ingin mengatakan jika hamil memang adalah sebuah kodrat seorang wanita, tapi kalau di pikirkan kembali, bukankah ketakutan Moza itu adalah hal yang wajar? Selama ini bagi Wiliam sendiri penampilan fisik adalah yang utama, jadi apakah dia bisa bertahan di fase itu?
" Moza, aku juga tidak berani berjanji dengan kalimat uang meyakinkan. Tapi, berikan aku kesempatan, berikan aku kepercayaan dan biarkan aku menjaga kepercayaan itu sekuat tenaga. Aku memang tidak bisa menjanjikan akan benar-benar berada di jalan yang kau inginkan sebagai suami yang baik, tapi aku akan mencoba semampuku mengingat tubuhmu juga sudah kau korbankan demi kelangsungan hidup anak kita. "
Moza tersenyum tipis, tidak berniat mengatakan janji sumpah setia, tapi dia akan mencoba sekuat tenaga. Bagus, setidaknya Wiliam sedikit bijak dalam memahami masalah ini. Sebenarnya kehamilan tidak pantas disebut masalah mengingat mereka adalah pasangan suami istri yang sah. Tapi, efek dari kehamilan yang akan merembet kesana kemari itu lah yang di sebut masalah.
" Apa? "
" Kalau anak kita laki-laki nanti, aku benar-benar takut dan tidak mau dia memiliki sifat sepertimu. Kalau anak kita perempuan, aku juga takut dia akan bertemu pria seperti Ayahnya, dan merasakan apa yang di rasakan wanita milik Ayahnya dulu. Bagaimana kau akan menyikapi ini? Ini memang masih jauh karena kehamilan ini masih baru. Tapi, memikirkan masa depan anak sedini mungkin tentu adalah tanggung jawab para orang tua kan? "
Wiliam menelan salivanya sendiri. Apakah begini rasanya dilema dan merasa bersalah kepada anak sendiri? Padahal anak juga masih sebesar biji kacang hijau, tapi sudah di pikirkan sejauh ini, ah! Tapi mau bagaimana lagi kalau istrinya adalah seorang Moza?
" Seperti yang aku katakan tadi, Moza. Aku akan berusaha semampuku, aku juga akan mengingat kata-katamu barusan sebagai pengingat jika aku akan melakukan kesalahan. "
Moza bangkit dari duduknya, menghadap Wiliam, lalu membungkuk supaya wajah mereka dekat dan saling menatap.
" Wiliam, apa kau pernah dengar kalimat ini? Sumpah dari Ibu hamil biasanya adalah sumpah yang paling manjur. Maka aku akan menyumpahimu, kalau kau berani main gila di luar sana dengan wanita, maka aku akan mengutuk cucungmu itu supaya tidak bisa berdiri sama sekali, bahkan juga mengecil lalu lama kelamaan menjadi berbentuk sama dengan milikku. Bagiamana? "
" Ha? " Wiliam terkejut luar biasa, sungguh ucapan alias sampah yang menjurus ke arah mengutuk dari mulut Moza itu membuatnya tak habis pikir dan ingin terus menggelengkan kepala karena keheranan.
***
Nara bangkit dari posisi berbaring di tempat tidur. Sungguh dia lelah sekali semalam makanya hampir pukul tujuh pagi dia baru saja terbangun. Mario, pria itu tentu saja sudah rapih dan hanya tinggal sarapan dan berangkat bekerja saja.
" Sudah bangun? Mandi cepat ya, terus kita sarapan. " Ucap Mario sembari memandang dasi, berdiri di depan cermin.
Nara tersenyum, duh! Ternyata kalau di pikirkan lagi, Mario itu benar-benar sangat perhatian, dia tidak pernah memprotes sekalipun saat Nara bangun siang, atau bahkan saat dia melakukan kesalahan ringan.
" Sayang...... "
Mario menoleh menatap Nara, heh! Apakah karena semalam Nara sudah begitu puas sehingga panggilan sayang yang sudah hampir dua hari tidak dia dengar itu kini bisa dia dengar, bahkan nadanya juga begitu lembut sampai-sampai buku kuduk Mario di buat berdiri.
" Nara, apa kita perlu olah raga pagi supaya seharian kau tidak merengut? "
Nara tersenyum, lalu segera bangkit dari posisinya dan berjalan mendekati Mario untuk memeluknya.
" Duh, sebenarnya aku juga mau sih. Tapi, ini kan sudah siang, kau juga harus bekerja kan? Tapi, kalau kau tidak keberatan, bagaimana kalau aku ikut kau saja? Jam istirahat kan lumayan panjang, bagaimana kalau- "
" Tidak boleh! "
Nara menatap sebal Mario yang kini sudah berbalik menatapnya.
" Kantor itu tempat bekerja, Nara. Kalau kau ikut kesana terus, yang ada aku hanya memikirkan yang tidak-tidak dan malah jadi tidak bisa bekerja. "
" Cih! Dasar laki-laki! Baik kalau ada maunya saja, para laki-laki ini suka seenaknya saja. Memangnya dia pikir lubang perempuan itu milik negara bisa dipakai kapan saja dan di acuhkan saat tidak butuh? Dasar! "
Mario ternganga heran.
" Nara, aku tidak pernah menganggap lubang istriku sama dengan lubang negara ya? Kau seharunya tahu kalau sudah milik negara artinya milik banyak orang. "
" Bagus kalau begitu, jadi tahu macam-macam rasa. " Ujar Nara seraya berjalan menuju kamar mandi.
Bersambung.