
Sephora terbengong-bengong melihat keakraban pria yang dia anggap satu Leo, dan satu lagi Presdir Nard. Mereka justru tidak perduli dengan Ariel yang malah sibuk dengan ponselnya. Benar-benar hampir gila, itulah yang saat ini di rasakan oleh Sephora. Ibunya yang penasaran juga bergegas menyusul untuk melihat apakah benar apa yang di katakan Sephora melalui sambungan telepon. Iya! Itu benar! benar sekali sampai mereka tidak berkedip sama sekali melihat apa yang sedang terjadi di antara Leo dan Presdir Nard.
" Ibu, ini pasti mimpi kan? " Tanya Sephora masih dengan wajah bengong nya yang tak tertahankan. Ibu tiri menggeleng tanpa suara karena dia sendiri juga tidak bisa membedakan apakah ini mimpi atau nyata.
" Ibu, aku pasti sedang mimpi! Ibu cubit aku! " Dengan mata yang tak teralihkan dari dua pria itu, Ibu tiri mengerakkan tangan mencari letak lengan Sephora, dan mencubit kuat begitu dia mendapatkannya.
" Ah! " Pekik Sephora kesakitan, dia segera mengelus lengannya untuk menghilangkan rasa sakitnya. Ariel, Leo, Onard dan Grade kompak menoleh ke arah dimana Sephora berada karena kaget ada suara memekik sakit mereka tengah mengobrol tadi.
" I ibu, mereka menoleh ke arah kita dengan kompak! Ini tidak mimpi! "
Ibu mengangguk dengan mimik pucat, tubuhnya juga dingin karena tidak bisa mengartikan apa yang sebenarnya terjadi hari ini. Masih tak ingin lepas pandangan, mereka betah sekali menatap dan mencuri dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Leo dan Onard. Grade yang merasa terganggu akhirnya bangkit dari duduknya, dia berjalan mendekati Sephora dan Ibu tiri. Iya, ini juga adalah hal yang di sukai Grade, beradu mulut dengan orang lain, dan dia adalah tipe yang tidak akan mengalah sampai lawannya menyerah.
" Hei, kalian ini mau aku congkel matanya hah? " Ucap Grade begitu sampai di hadapan mereka berdua. Sephora yang tidak tahu siapa itu Grade malah beranggapan kalau Grade adalah asisten atau pesuruhnya Leo dengan berani menjawab,
" Kau ini jangan ikut campur! Wanita pekerja rendahan saja sok berkuasa! " Kesal Sephora yang semakin membuat Grade merasa senang karena akan mendapatkan bahan pelampiasan dari kekesalannya beberapa hari terakhir ini.
" Wanita pekerja rendahan? Tidak lihat tuh kain celemek yang baru saja kau gunakan setelah gagal merayu pria itu! Walaupun pekerjaan menjadi pembantu bukanlah rendahan, tapi aku baru kali ini melihat pembantu yang etikanya rendahan. "
Sephora melotot kesal, begitu juga dengan Ibu tiri yang tidak terima dengan apa yah dikatakan oleh Grade. Benar sekarang ini mereka hanyalah pembantu saja, tapi awalnya mereka kan kaya, dan sebentar lagi juga akan kaya lagi.
" Lebih baik kau pergi saja sana! Mengganggu orang saja! "
Grade tersenyum, dia benar-benar semakin semangat dibuatnya.
" Oh, aku ingin tetap mengganggu, bagaimana dong? "
Sephora dan ibu tiri kompak menatap Grade dengan tatapan tak percaya, dia juga merasa jengah dengan Grade yang malah menjadi semakin berani.
" Dasar wanita tidak tahu diri! Kau kan tahu aku ini siapa?! Ini adalah Ibuku, yang berarti Ibunya Ariel! "
Grade menahan tawanya.
Sephora tak dapat menahan kekesalannya lagi sehingga dia memilih untuk meraih tangan sang Ibu dan membawanya pergi meninggalkan Grade yang sangat membuatnya muak.
" Cih! Tidak seru! Ah, sepertinya menginap disini adalah ide yang bagus deh. " Ujar Grade lalu tersenyum.
Sephora kembali ke dapur, dia yang masih merasa sebal dengan Grade memilih untuk mengeluarkan potongan buah dari kemari pendingin, rencananya akan dia suguhkan kepada Leo dan Onard agar dia bisa sedikit tahu apa sih yang sebenarnya terjadi? Kenapa hubungan mereka tetap baik-baik saja padahal jelas dia sudah mengatakan bahwa Presdir Nard menginap di rumah ini bersama Ariel, dan kenapa juga Leo malah terlihat seperti tamu saja?
Sephora menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya perlahan. Dia sudah harus segera tahu, maka dia tidak boleh mengacaukannya. Sephora kembali tersenyum manis, dengan lenggak lenggok cara jalannya yang pasti tujuannya adalah untuk memikat salah satu pria itu dan masa bodoh dengan siapa akhirnya dia akan berakhir yang penting salah satu dari mereka.
" Silahkan di cicipi buahnya, Leo, dan juga Presdir Nard. " Saat menyebut nama Leo, Sephora menatap Onard sembari tersenyum, laku saat menatap Leo yang dia panggil Presdir Nard dia juga tersenyum. Tapi, Onard yang merasa itu bukan namanya tentu saja tidak tahan untuk protes. Tapi sebelum protes dia membuka kaca mata hitamnya, dan menjauhkan masker yang menutupi sebagian mulutnya.
" Hei, jangan panggil aku Leo! Aku ini Onard, Leo yang kau maksud adalah dia! Masak kau tidak tahu sih?! " Protes Onard yang malah membuat Sephora terbengong-bengong luar biasa di buatnya.
Demi apa?! Pria ini sangat tampan! Eh, tapi tadi dia bilang dia bukan Leo kan? Onard? dan yang namanya Leo? Hah?!!!
Sephora beralih menatap Presdir Nard yang nampak acuh dengannya. Dia justru fokus menatap lembaran kertas yang di bawa Onard padanya. Sempat Sephora menggeleng karena tidak ingin percaya, sehingga dia menatap Leo dan Onard secara bergantian sampai beberapa kali.
" Ka kalian kembar?! " Tanya Sephora yang masih terlihat begitu syok.
" Cepatlah pergi, aku tidak suka berisik! " Ucap Leo kepada Sephora dengan tatapan sinis.
" Tuhan, jantungku sepertinya berhenti berdetak. " Ucap Sephora, dia perlahan berjalan meninggalkan Leo dan Onard dengan wajah yang masih sangat syok sembari memegangi dadanya, dan satu lagi memegangi satu lututnya Meksi kedua lutut itu sangat sulit untuk di gerakkan.
" Apa-apaan tadi? Leo adalah Presdir Nard? Presdir Nard adalah Leo? Leo cacat adalah Onard? Ja jadi, sebenarnya apa yang terjadi? Diantara dua pria tampan itu sebenarnya siapa suaminya Ariel? " Gumam Sephora masih menyeret langkah kakinya menjauh, lebih tepatnya dia ingin mencari tempat menyendiri dulu sekarang sampai syok yang ia rasakan bisa sedikit berkurang.
Setelah cukup beristirahat, Sephora segera masuk ke ruangan cuci demi untuk mengambil ponselnya. Dia membuka gosip tentang RC. Wajah jika tidak tahu, itu karena dia sama sekali tidak suka me ingin televisi, atau berita apapun melalui media sosialnya juga.
" Ya Tuhan.... Aku benar-benar hampir mati karena detak jantungku hampir berhenti. Ja jadi, Presdir Nard adalah Leo? Jadi, Ariel menikah dengan pria tampan dan kaya? Kenapa bisa begini?! Padahal aku adalah calon istrinya kan? Ah.....! Sialan! Semuanya gara-gara Ariel. " Kesal Sephora, dia yang gak tahan tanpa sadar mengacak-acak baju yang sudah rapih di setrika hingga tak tersisa satupun yang masih terlipat rapih.
Bersambung.