Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 28



" Sepatu! "


Ariel menghela nafas sebalnya, tidak tahu mau kemana Leo sepagi ini, padahal biasanya dia yang akan lebih cepat pergi saat pagi. Untung saja Ariel yang sudah terbiasa dengan kata, sepatu! Tas! Sisir! Handuk! Lapar! Buang! Ambil! Mandi! Diam! Berisik, bla bla masih banyak lagi kata benda dan perintah yang mulai dia pahami.


" Mau kemana kau sepagi ini? " Tanya Ariel yang tak tahan menahan rasa ingin tahunya. Yah, maklum saja lah ya? Dia itu kan memang tidak tahu apapun tentang Leo yang adalah suaminya sendiri.


" Menjemput wanita. "


Ariel melongo kaget, menjemput wanita? Hah?! Apakah sungguh Leo sama sekali tidak tahu seberapa menyeramkan nya kalimat itu bagi Ariel yang adalah mantan wanita menyedihkan yang kekasihnya berselingkuh dengan kakak tirinya?


Ariel membuang nafas sebalnya, lalu menatap Leo dengan tatapan kesal.


" Kau jangan lupa kalau sudah ada istri! "


Leo tersenyum miring.


" Tapi aku tidak merasa memiliki istri. "


Ariel mengigit bibir bawahnya menahan kesal. Dia meraih kursi roda Leo, memutarnya agar menghadap ke sebuah photo pernikahan mereka yang terpajang di dinding kamar mereka.


" Disana ada wajahmu dan juga wajahku, cincin di jariku adalah cincin pernikahan yang kau pasangkan kalau kau lupa! "


Leo menahan dirinya yang ingin tersenyum, lalu secepat mungkin dia segera memperbaiki ekspresinya.


" Tapi aku tidak merasa diperlakukan sebagai suami, jadi dimana letak kesalahanku? Kita hanya tidur berdua tapi tidak melakukan penyatuan seperti suami dan istri, jadi aku yang pria normal ini bagaimana bisa menganggap mu istri? "


Ariel membuang nafas kasarnya.


'' Dengar ya suamiku tercinta, mandi mu aku yang layani, makan juga aku, mau tidur juga aku, semuanya aku, hanya gara-gara belum ewita lalu kau sudah berani menganggap aku bukan istrimu?! Selama ini aku hanya diam di perlakukan tidak adil olehmu karena kau adalah suamiku yang aku yakini tidak akan selingkuh, tapi sekarang kau terang-terangan ingin menjemput wanita? Apa kau ingin mati hah?! " Ariel melotot dengan begitu tajam, dia bahkan sampai berteriak sembari mengguncang kursi roda Leo hingga membuat Leo menatap kaget seperti agak menahan diri karena takut.


" Kau itu sudah jadi suamiku, jadi jangan pikir kau bisa selingkuh! Aku ini psikopat tahu tidak? Kalau kau macam-macam, akan aku patahkan cucung mu yang besar itu, atau aku akan memotongnya dan memberikan kepada anjingmu, heh! Anjingmu pasti sangat senang ya bisa memakan sosis jumbo full daging. "


Leo menelan salivanya sendiri. Padahal dia sudah dengan tidak tahu malunya membiarkan Ariel melihatnya, menyentuh cucungnya sehingga membuat dia tidak bisa menahan diri dan Tuing juga pada akhirnya. Meksipun dia benar-benar malu, tapi dia juga bisa merasa lega karena sudah bisa menunjukkan kepada Ariel bahwa dia bisa melayani istri seperti suami pada umumnya. Tidak disangka, Ariel malah memiliki fantasi sangat menakutkan seperti itu, sosis full daging? Gila! Sepertinya mulai dari malam ini Leo tidak akan bisa memakan sosis lagi karena jelas akan mengingat terus ucapan menakutkan yang keluar dari mulut Ariel barusan.


" Awas saja kalau kau macam-macam! " Ancam Ariel seraya bangkit dari posisinya, tapi dia juga masih terus menatap Leo dengan tatapan tajam sampai dia masuk ke dalam kamar mandi barulah Leo bisa bernafas dengan lega.


" Dasar wanita! Cuma bilang ingin menjemput wanita saja marahnya sudah tidak jelas. Apanya yang berselingkuh sih? " Gumam Leo sebal, tapi pipinya merona merah karena merasa senang juga Ariel cemburu dan tegas seperti tadi seolah dia benar-benar suami yang sesungguhnya.


Setelah beberapa saat, Leo keluar dari kamar dan Win sudah menunggu di depan kamarnya. Dia tidak menunggu Ariel karena dia sendiri juga tidak sarapan dan memilih untuk langsung pergi saja.


Aduh! Sialan! Membayangkan cucung jumbonya Leo, lalu memikirkan tentang sobek tiba-tiba malah membuatku ingin menjadi janda saja deh.


Dengan perasaan sebal Ariel hanya bisa menikmati sarapan sendirian, berangkat kerja pun dengan bibir manyun karena sulit menahan kekesalannya. Sesampainya di ruangan Presdir Nard, Ariel mulai membereskan ruangan sebelum datang Presdir Nard jadi dia tidak akan kena semprot nantinya. Setelah itu barulah dia duduk di kursinya yang ada di ujung ruangan, dia membuka laptopnya, dan melihat jadwal apa saja yang akan di kerjakan Presdir Nard, lalu bersiap-siap meski si tidak semua pekerjaan dan pertemuan dia harus ikut. Yah, kan memang ada Arumi si kekasihnya yang akan di ajak kemanapun dia pergi.


" Ariel, siapkan teh hijau untuk Presdir Nard ya? Aku harus memeriksa dokumen penting soalnya. "


Baru saja di batin, ternyata Arumi sudah lebih dulu datang. Yah, panjang umur sekali dia.


" Baik. "


" Bagaimana hubunganmu dengan suami? '' Hanya Arumi yang sempat membuat Ariel mengeryit bingung.


" Kami baik-baik saja, dan semoga saja aku sedang hamil karena aku sudah telat dua hari ini, Sekretaris Arumi. "


Arumi nampak semangat, dia dengan segera meraih tangan Ariel dan mengucapkan bagaimana dia turut bahagia.


" Ariel, semoga kau benar-benar hamil ya? Semoga kau dikarunia anak yang tampan, cantik, dan juga menggemaskan. "


Ariel nyengir saja karena tidak tahu mau menjawab amin atau mengatakan tapi bohong! Yah, kalau dilihat-lihat dari ekspresi bahagianya Arumi memang nampak sekali tulus, padahal beberapa hari kemarin dia amat sekut, bibirnya saja manyun setiap kali melihat Ariel, aneh sekali!


" Kalau begitu, aku buat teh dulu ya? "


Arumi mengangguk cepat.


" Hati-hati, Ariel. Perlahan aja jalannya agar kau tidak terjatuh. " Ucap Arumi yang sukses membuat Ariel merinding parah dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Hah! Sepertinya bulu-bulu tersembunyi tak berdosa juga ikut merinding karena ucapan Arumi barusan.


Aku tahu sekarang, mungkin dia sangat takut aku merebut Presdir Nard tercintamu itu ya? Jadi kalau aku hamil, Presdir Nard tidak mungkin merebut ku dari suamiku kan? Dasar dongo! Pria tampan adalah musuh bebuyutan ku sekarang, itu makanya aku tidak jatuh cinta dengan Presdir Nard mu itu!


Dengan santai Ariel membuat teh itu, hingga Presdir Nard sudah datang ke ruang kerjanya saat Ariel belum kembali.


" Eh, Presdir Nard? Selamat pagi? " Sapa Ariel, lalu berjalan untuk meletakkan secangkir teh hijau yang dia buat barusan.


" Arumi bilang, kau sedang hamil? "


Bersambung.