
Leo menoleh ke arah lain, ah sungguh dia sangat malu dengan ucapan Ariel barusan. Jika boleh jujur, dia juga menginginkan itu sebagai seorang pria dewasa yang jelas dia juga normal. Tapi oh tapi, bagaimana bisa dia melakukannya jika Ariel malah lebih bersemangat dari pada dirinya? Hah! Ini sebenarnya dia harus senang apa harus bagaimana? Kenapa juga dia mendadak seperti pecundang yang malu malu saat ditawari hal menggiurkan seperti ini?
Sebentar Leo kembali menoleh ke arah Ariel yang masih saja tersenyum, dia menaik turunkan alis dan membuat Leo semakin merona malu. Duh, padahal tadinya ingin menggertak Ariel dengan mengajaknya ewita, tapi malah dia sudah lebih dulu dibuat kalah telak sampai tak bisa bicara padahal dia baru saja tersenyum dan sengaja menunjukkan tatapan berkeinginan.
" Berhenti menatapku begitu! Siapa juga yang mau mengewita mu! "
Ariel tak kehilangan senyumnya, dia terus menatap seolah ewita bukanlah hal yang besar. Entah apakah dia sadar atau tidak, padahal dia sendiri saja hampir tidak pernah berkaca dengan tubuh polos karena pernah sekali dan dia merasa malu sendiri.
" Memang kenapa? Kalau kau tidak mau, kan yah penting aku mau. Nanti kalau mau ewita bilang saja aku siap kok. "
Leo kembali menatap ke arah lain. Ah, sialan! Jujur, dari pada hanya mengatakan ewita melalui mulut ke mulut seperti ini bukankah lebih akan terjadi nyata kalau fisik mereka yang secara langsung bereaksi? Ariel boleh saja terus membicarakan tentang ewita, tapi yakin saja kalau dia pasti akan segera mundur teratur begitu Leo meminta untuk melakukan hal yang lebih seperti sentuhan fisik.
" Oh, coba saja kita lakukan sentuhan fisik. " Leo menatap Ariel dengan berani setelah cukup lama tertekan dengan ucapan Ariel. Dia tersenyum miring penuh keinginan berharap Ariel terdapat merasakan tertekan dan diam tak mau lagi membicarakan tentang ewita yang membuat jantung Leo terus berdebar.
Ariel menghentikan senyumnya, dan itu sukses membuat Leo merasa puas. Tapi, Ariel malah menaikan langkahnya dan membuat Leo kembali menelan salivanya karena merasa gugup dan juga kaget tak percaya dengan keberanian yang dimiliki oleh Ariel.
" Karena kau tidak bisa bangun, aku akan melakukan apa yang kau perintahkan. Katakan saja apa yang harus aku lakukan terlebih dulu. "
Leo terdiam membiarkan matanya bertemu dengan mata Ariel yang terlihat tak main-main dengan ucapannya. Ah, padahal dia hanya mengancam saja kok. Tapi bagiamana bisa Ariel begitu tidak kenal takut dan menanyakan apa yang harus dilakukan terlebih dulu. Leo menelan salivanya, dia mencoba untuk mencari cara agar Ariel mundur, meskipun dia juga ingin melakukanya, tapi karena belum saatnya, maka membuatkan Ariel ketakutan adalah hal yang paling benar saat ini.
" Ariel, aku akan memberitahu satu rahasia padamu. "
" Apa? Rahasia apa? "
" Sebenarnya aku bisa bangun loh, aku bisa menyergap mu sampai habis kalau kau terus memancing seperti ini. "
" Iya, aku kan sudah pernah lihat cucung mu bisa bangun. Memang bagian rahasianya di sebelah mana? "
Leo menghela nafas beratnya.
" Yang aku maksud bukan itu, Ariel. Tapi kakiku, aku bisa bangkit meksipun tidak lama, jadi jangan meremehkan orang cacat ini. "
Ariel mengeryit bingung.
" Kalau begitu, kenapa kau menggunakan kursi roda? "
" Karena aku malas berjalan. "
" Pft! " Ariel menahan tawanya, tentulah dia tidak percaya dengan ucapan Leo. Tapi sudahlah, tidak perlu di perpanjang lagi masalah kaki ini, karena semenjak dia melihat Ibunya sudah dibebaskan oleh Leo, dia sudah akan mengabdikan dirinya untuk Leo seorang. Tidak masalah sih kalau dia harus bekerja keras untuk memberi Leo makan juga, toh dia juga punya uang peninggalan Kakek neneknya juga, jadi untuk beberapa tahun ke depan dia rasa dia bisa memberikan makanan yang layak seperti biasa Leo makan.
Ariel menghela nafasnya, lalu berjongkok di hadapan Leo yang masih terduduk di kursi rodanya.
" Tidak, aku hanya sedang berpikir, seandainya saja kau benar-benar bisa berdiri, akan jadi lebih seru kan? "
Sial! Apanya yang seru?! Ah, lagi-lagi Leo terdiam karena kehilangan kemampuan untuk membuka mulutnya.
" Sekarang aku memang bukan selera mu, tapi aku janji akan menjadi istri yang baik mulai sekarang. "
Leo menelan salivanya lagi, apakah Ariel sedang kerasukan setan mesum? Kenapa tiba-tiba terus bicara seperti pria Casanova yang sangat berpengalaman dalam urusan merayu. Mau memaki mulutnya seperti terkunci rapat, tidak memaki dia takut Ariel tahu kalau dia gugup dan malu mendengar ucapan aneh Ariel sedari tadi.
" Omong kosong apa yang kau bicarakan? " Leo kembali melengos ke arah lain tak ingin menunjukkan betapa aneh wajahnya saat ini karena dia yakin pasti wajahnya merah.
Ariel tersenyum, dia memang bukan wanita yang banyak mengganti selama ini, tali setidaknya dia tahu kalau Leo pasti sedang malu, tapi semenjak dia menduga kalau Leo akan berselingkuh, di tambah sudah membebaskan Ibunya dia menjadi sangat yakin untuk menjadikan Leo suami seutuhnya, dan berjanji akan merawat Leo sampai akhir hayatnya sebagai ucapan terimakasih dan bakti sebagai seorang istri meski benar saja pernikahan mereka terjadi bukan karena cinta.
" Aku tidak omong kosong kok, sayang. "
Apa-apaan?! Leo hanya bisa membuatkan matanya tak berani menatap Ariel yang pasti sedang menatapnya sekarang ini. Sayang? Hah! Panggilan itu kenapa menjadi sangat mesra secara tiba-tiba? Oh, apakah karena Ariel sedang bahagia melihat Ibunya sudah bebas?
" Kalau mau mengucapkan terimakasih, lebih baik jangan melakukan hal aneh, apalagi memanggilku sayang. Pa panggilan itu sangat aneh! " Ucap Leo masih tak ingin menatap wajah Ariel, ucapannya juga sempat terbata-bata jelas mengadakan kalau dia sedang gugup, atau bisa di sebut semakin gugup saja.
Ariel kembali tersenyum menahan tawanya, sekarang dia sekian mengerti bagaimana Leo. Iya, pria itu sebenarnya adalah orang yang baik meski mulutnya sangat pahit melebihi empedu, cara menatap yang tajam adalah kedok untuk menutupi bahwa dia adalah pria yang lembut.
" Kita kan suami istri, bagaimana bisa memanggil sayang di sebut panggilan yang aneh? "
" Berhenti omong kosong, kata ku! "
Ariel bangkit dari posisinya, dia memegang dua sisi kursi roda Leo, membuat Leo menatap bingung. Ariel semakin mendekatkan wajahnya, Leo pikir itu hanya kesengajaan Ariel untuk membuatnya tertindas jadi Leo tersenyum sok berani saja karena dia berharap Ariel lah yang akan mundur karena tidak sanggup.
Ariel semakin dekat, hingga bibir mereka bersentuhan. Leo, pria yang tadinya merasa gugup kini menjadi terbawa suasana dan mulai memejamkan mata. Ah tapi kenapa bibir Ariel tidak sampai juga? Eh, tapi rupanya ada suara berbisik yang membuat Leo membuka matanya karena terkejut.
" Sayang, kalau kau begitu setuju, aku akan coba menggoda mu bagaimana? " Belum juga selsai keterkejutannya, Ariel malah menjalankan tangannya menyusuri tengkuk membuat Leo semakin terkejut.
" A apa yang kau lakukan?! "
Bersambung.