Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 88



( Cerita akan berfokus untuk Grade dan Onard dulu ya kesayangan. )


Setelah pembicaraan dengan kakek kemarin, Grade kini sudah menjadi sedikit lebih baik. Dia sudah mau makan, dan juga tersenyum saat ada orang yang berbicara dengannya. Masalah hubungan pernikahan dengan Onard, Grade juga akan mengikuti saran kakek dengan bertahan bersama Onard. Bukan hanya karena sekedar karena nasehat kakek saja sebenarnya, tapi Grade juga merasa lelah dengan kehidupan yang sebenarnya tidak akan ada habisnya jika di kejar. Aneh memang, dulu dia begitu mengejar dunia padahal dunia tidak pernah lari kemanapun. Grade sadar benar jika selama ini dia hanya memburu sesuatu yang semu dan tidak nyata meski terlihat indah. Pria tampan, pergaulan kelas atas yang bebas, mengedepankan kebahagiaan duniawi yang tiada arti, semua itu Grade sudah tidak akan melakukanya lagi demi memenuhi harapan terakhir Ayahnya, juga harapan Kakeknya juga.


Hari ini Grade sudah bangun pagi-pagi sekali, dia berolah raga pagi karena merasa jika tubuhnya sudah mulai melemah karena kegalauannya sebulan kemarin. Setelah selesai berolah raga dia bergabung bersama Onard dan kakek untuk sarapan pagi. Tidak kembali seperti dulu yang sangat suka menggunakan tampilan heboh, make up cetar walau hanya sekedar olah raga, Grade benar-benar terlihat sangat natural meski baju seksi tetap melekat di tubuhnya. Ogah untuk mandi terlebih dulu, Grade ngeyel untuk langsung bergabung membuat Onard yang duduk di sebelahnya panas dingin sendiri.


Tubuh Grade yang lembab karena keringat benar-benar membuat kesan seksi pada dirinya semakin memancar. Cara dia mengunyah makanan, ah! Pokoknya kalau di jelaskan saat Grade memakan paha ayam akan menjerumus ke arah mesum meksipun Grade sendiri tidak memiliki niat demikian.


" Kek, hari ini aku akan pergi menemui temanku ya? Aku ingat di memberikan undangan pernikahan sudah lama, untungnya aku ingat tanggal hari ini. "


" Iya pergilah, tapi jangan lupa ajak suami mu juga. "


Onard mengeryit menatap kakek, bukanya tidak ingin ikut, hanya saja dia tidak mau membuat Grade kesal dan memasang wajah sedih lagi seperti kemarin kemarin.


" Kakek, lebih baik kalau- "


Belum selesai Onard berbicara, ternyata Grade menyetujuinya tanpa terlihat berat hati alias sangat tidak masalah untuknya.


" Oke! "


Sampai waktunya tiba, Onard hanya bisa terus memperhatikan wajah Grade takut kalau nantinya Grade akan merasa tidak nyaman.


" Kau perlu dibantu untuk ganti baju? " Tanya Grade karena sedari tadi melihat Onard dan pria itu hanya diam terus memperhatikannya.


" Aku bisa bangun dan ganti baju sendiri, tapi masalahnya kau benar-benar tidak masalah kalau mengajak ku juga? Kau benar-benar tidak masalah? "


Grade menghela nafas, dia berjalan mendekati Onard, duduk di sampingnya, menatap Onard sembari berkata,


" Aku kan sudah bilang oke, kau jangan menganggap ku tidak konsekuen dengan ucapan ku sendiri. Pergilah ganti baju, aku juga harus mengganti baju ku. Oh, atau kau ganti baju disini saja dan aku di kamar mandi agar kau lebih aman? "


" Terserah kau saja. "


Grade mengangguk, dia bangkit dari duduknya berjalan menuju kamar mandi sembari menenteng satu dress yang akan dia gunakan nanti. Sebenarnya yang di rasakan Grade sekarang ini adalah kasihan, rasa kasihan itu timbul entah sejak kapan ketika melihat Onard. Seakan mengingatkan jika keadaan Onard adalah karena kesalahan orang tuanya, Grade menjadi merasa jika bersikap baik dengannya adalah hal yang benar.


Setelah keluar dari kamar mandi dan yang pastinya juga sudah berganti dengan dress ketat berwarna hitam, serta bagian atasnya agak terbuka Grade kini berjalan menuju meja rias untuk memoles wajahnya agar terlihat lebih fresh. Sedangkan Onard, pria itu hanya tinggal menyisir rambutnya saja karena dia kan tidak menggunakan make up hanya sedikit krim untuk wajahnya agar tidak iritasi.


" Kau sudah siap? " Tanya Grade sembari berjalan mendekati Onard.


Onard benar-benar tidak tahu kenapa dia menelan saliva melihat penampilan Grade yang sangat seksi itu. Ini kali pertama Onard melihat tubuh wanita sedekat ini, tubuh wanita yang mengeluarkan aroma wangi seperti campuran buah persik dan bunga lili itu begitu dekat hingga membuatnya tertegun menikmati aroma yang menyenangkan.


" Pakaian yang pakai sudah bagus kok, juga senada dengan dress yang aku gunakan. Kita berangkat sekarang saja ya? "


Onard mengangguk saja tapi sungguh matanya sulit teralihkan ke arah lain. Terus menerus dia menatap betapa cantiknya Grade, dan tubuh indah Grade membuatnya tak bisa berkata-kata.


Selama di dalam perjalanan juga Onard tak mengatakan apapun sehingga Grade juga tak bicara. Mereka memilih diam dengan pemikiran mereka masing-masing. Onard dengan keheranan sendiri karena begitu terpesona dengan Grade harini ini hingga sulit bicara. Semetara Grade, wanita itu sedang memikirkan bagaimana caranya dia akan memutuskan hubungan pertemanan yang dia rasa kurang sehat untuknya. Selama ini teman-temannya hanya karena merasa takut dan menginginkan keuntungan barulah berteman dengannya, dia juga yakin benar jika di undang ke pernikahan temannya hanya karena temannya tidak berani menentang Grade. Masalah Ayahnya Grade tentu dia tidak terlalu khawatir bagaimana pendapat orang tentang itu, karena apapun yang orang katakan, baginya sosok Ayah adalah yang terbaik untuknya.


" Silahkan masuk, Tuan dan Nyonya. " Ucap si penyambut tamu kepada Grade dan juga Onard. Tidak membawa asisten Onard, itulah mengapa Grade yang mendorong kursi roda Onard. Onard sebenarnya bisa berjalan sendiri, tapi kekuatan kakinya yang belum bisa disamakan dengan orang yang berkaki normal tentu tidak semudah itu melakukanya karena jelas Onard akan merasakan ngilu yang luar biasa jika terlalu memaksakan diri.


" Hai Grade? " Sapa salah satu teman Grade, sebentar mereka saling menempelkan pipi kanan dan pipi kiri.


" Ini, siapa? " Tanya wanita itu kepada Grade.


" Suamiku. " Jawab Grade cepat.


Wanita itu menatap Onard dari atas hingga ke bawah dengan tatapan yang jelas bisa dengan mudah Onard artikan.


" Oh, Grade kita bergabung bersama teman-teman yuk! "


" Iya, sebentar. "


Grade menatap Onard sebentar untuk pergi sebentar.


" Aku kesana sebentar, jangan kemana-mana ya? Kau mau makan camilan tidak? " Tanya Grade karena tidak mungkin juga meninggalkan Onard begitu saja.


" Pergilah, aku akan ambil sendiri jika membutuhkan apapun. " Grade tersenyum, lalu mengangguk setelahnya sebelum di bergabung bersama dengan teman-temannya.


Tak berapa lama setelah kepergian Grade, datanglah seorang pria menyapa tapi tatapannya nampak menghina.


" Tadi aku tidak sengaja dengar Grade menyebut mu sebagai suami, jadi kau sungguh suaminya? "


Onard menghela nafas, tapi dia tersenyum setelahnya. Dia tidak bisa seperti Leo yang akan berwajah dingin sepanjang waktu saat berada di pesta semacam ini, tapi Onard tahu benar cara menangani orang semacam ini.


Bersambung.