Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 100



Sephora terduduk di pinggiran tempat tidur, dia sudah menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan, begitu beberapa kali dia lakukan agar berharap itu dapat mengubah suasana hatinya yang sempat sedikit melow karena surat dari Ayahnya. Dulu dia pikir Ayahnya hanya diam-diam menyayangi Ariel karena secara tidak langsung Ayahnya justru lebih menyayangi Ariel, dan membuat dia iri secara membabi-buta. Ternyata Ayahnya juga memberikan uang tabungan untuknya yang sudah di siapkan olehnya. Memang tidak banyak, tapi itu cukup membuat Sephora merasa bahagia dan cukup puas karena akhirnya dia tahu bahwa Ayahnya juga menyayanginya.


Ini sudah dua Minggu dia berada di rumah Ariel, dan dua Minggu juga dia menjalani hatinya penuh dengan kebahagiaan. Sephora yang sekarang ini tak tahu membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah benar-benar perubahan yang terbilang sangat besar. Dia sendiri sudah berulang kali mendengar kalimat larangan dari Ibu Maria, bahkan Ariel juga sudah mengingatkannya, tapi kalau hanya duduk saja diam tidak melakukan apapun juga dia merasa sangat bosan. Jadilah Sephora hanya mengerjakan beberapa pekerjaan ringan, seperti membantu menyiram tanaman, menggoreng lauk, dia juga ikut mengelap piring sebelum di simpan ke tempatnya.


Jika Sephora melalui hari dengan bahagia, maka sangat jauh berbeda dengan apa yang sedang di lalui Daniel semenjak kepergian Sephora. Pria yang terikat dengan sebuah tali pernikahan bersama wanita tiga puluh tahun juga adalah wanita yang sudah membuat Daniel seperti kehilangan arah selama beberapa tahun terakhir ini. Awalnya pernikahannya baik-baik saja dan berjalan layaknya rumah tangga pada umumnya, tapi seiring waktu berjalan ujian berat akhirnya datang, bisnis Daniel mengalami penurunan, sementara istrinya diberikan penghasilan yang lebih tinggi dari Daniel hingga masa itu berjalan sekitar dua tahun. Selama dua tahun itu Daniel benar-benar seperti terinjak-injak harga dirinya oleh wanita yang sangat dia cintai. Mulai dari tidak di hargai lagi, mulai mengungkit penghasilan dan ketidak mampuan Daniel dalam memenuhi kebutuhan, bahkan juga Daniel pernah sekali di ludahi wajahnya karena tidak mampu membantu istrinya saat dia mengalami kerugian.


Setelah kekacauan tidak berujung yang terjadi di dalam rumah tangganya, Daniel sudah beberapa kali mengajak istrinya untuk membicarakan masalah perceraian, tapi yang ada Daniel malah selain di tekan dengan banyak alasan tentang rumah tangga, Daniel juga harus menghadapi mertuanya yang ogah untuk mengerti dirinya, bahkan orang tuanya sendiri juga terus mendorongnya agar tetap bertahan tidak perduli betapa sulitnya itu untuknya.


Tiga tahun setelahnya akhirnya Daniel bisa tersenyum lega setelah berhasil bangkit dari keterpurukan ekonomi, dia mulai lagi bisa mengembalikan keadaan dan bisa lebih teliti dalam berbisnis agar apa yang terjadi sbelumnya tidak terulang lagi. Istrinya Daniel yang sudah bangkrut total itu akhirnya begitu menempel padanya lagi seolah apa yang terjadi sebelumnya tidak ada artinya. Lama kelamaan Daniel mulai merasa muak dan bosan hingga dia terbiasa mencari wanita di luar sana untuk menghilangkan rasa bosan yang ia rasakan.


" Sephora, sebenarnya dimana kau bersembunyi? " Daniel meletakkan gelas berisi wine yang biasa ia tenggak saat ia merasa stres. Ini sudah berlanjut selama Sephora pergi, dan kegiatan ini juga membuat istrinya Daniel semakin kesal padanya.


" Sayang, sampai kapan kau akan di sini? Kau tidak lihat ini sudah malam? Ayo kita ke kamar dan istirahat! " Wanita itu menjulurkan tangan kanannya berharap Daniel meraihnya dan ikut masuk ke dalam kamar. Tak seperti harapannya, Daniel justru mengacuhkan ukuran tangan itu seperti tak melihatnya sama sekali.


" Daniel, berhentilah berulah! Ini sudah malam, ayo kita tidur! "


Daniel menghela nafas, dia sebentar menatap istrinya lalu beralih menatap wine yang ada di dekatnya. Jujur saja Daniel sudah benar-benar muak, tapi dia juga tidak bisa berbuat apapun dengan wanita itu. Bukan karena masih ada rasa cinta, tapi Daniel ingin menghukum wanita itu dengan sikap dinginnya, dan membiarkan wanita itu melihatnya memilih wanita lain dan menunjukan wajah anaknya dengan bangga nantinya. Sayang sekali, Sephora menghilang dan dia harus mencarinya dan menjelaskan semuanya agar kesalahpahaman di antara mereka segera terselesaikan, dan hubungan tidak sehat dengan istrinya juga bisa segera di akhiri. Ah, memang akan lebih baik kalau mengakhiri hubungan terlebih dulu, batin Daniel.


" Jangan bersikap seolah kita hidup dengan begitu mesra. Kau tahu kan aku adalah pria yang muda merasa muak? "


Istrinya Daniel terdiam menahan kesal, sebenarnya dia sendiri juga tidak suka dengan sikap Daniel yang begitu berubah, tapi karena dia membutuhkan orang yang bisa menunjang kebutuhannya, di tambah lagi dia juga tidak mampu memberikan anak alias melahirkan anak, wanita itu mau tidak mau hanya bisa menerima saja saat Daniel berbicara kasar, atau bersikap dingin padanya.


***


Grade menenggak segelas anggur sembari menikmati suasana malam yang terasa begitu indah. Ah, ini sudah empat hari dia berhenti merokok sesuai dengan keinginan Onard. Sebenarnya Onard sama sekali tidak memaksa, hanya saja sekali Onard pernah mengatakan jika dia akan merasa sesak jika mengirup asap rokok jadilah Grade mencoba berhenti merokok. Sebenarnya bukan hanya itu saja alasannya, dia juga mulai memikirkan kesehatannya karena usianya yang sudah dia puluh tujuh tahun itu tidaklah terhitung muda, jadi dia perlu baik-baik merawat diri, dia juga sudah tidak mulai mengkonsumsi anggur beralkohol seperti biasanya.


Grade menoleh ke arah sumber suara, dia tersenyum karena dia salah Onard. Pria itu masih setia menggunakan kursi rodanya untuk mondar mandir.


" Aku belum mengantuk, kau tidur saja duluan kalau sudah mulai mengantuk. Oh, apa aku perlu membantumu ke tempat tidur? "


Onard menggeleng dengan cepat.


" Tidak perlu, aku bisa kalau bangkit dan berjalan beberapa langkah saja. Tapi malam ini kan sangat berangin, kalau kau masih terus duduk di sini, takutnya nanti kau akan masuk angin. "


" Kalau angin masuk, kan bisa di keluarkan lagi. Iya kan, suamiku? " Grade tersenyum dengan alis sebelahnya naik turun membuat Onard menelan salivanya sendiri. Benar, mereka memang hanya membicarakan tentang masuk angin, tapi Onard malah berdebar tidak jelas.


" Atau, kau mengajakku tidur untuk melakukan sesuatu? "


Glek!


Onard selain gugup jadinya karena Grade mendekatkan tubuhnya. Hanya senyuman aneh dari Grade yang membuat Onard begitu tidak jelas rasanya. Mungkin ini memang agak berlebihan, tali setiap kali Grade berbicara dengan jarak yang begitu dekat, Onard benar-benar selalu teringat dengan Grade yang begitu semangat ketika berada di atas tubuhnya.


" Kau diam berarti iya kan? " Grade tersenyum, dia bangkit dari posisi, lalu menarik kuris roda Onard untuk masuk menuju tempat tidur.


" Aku akan melayani mu dengan baik, suamiku! "


Kenapa aku merasa seperti pria polos yang di manfaatkan oleh wanita jahanam?


Bersambung.