
Nara menyiapkan semua yang di butuhkan oleh Mario untuk pergi dinas keluar kota, memang tidak lama, Mario hanya berbuat menginap semalam di sana dan kembali saat paginya. Tapi Nara yang tahu benar Mario bukan orang yang mudah merasa nyaman di tempat asing, tentulah dia menyiapkan segala kebutuhan agar Mario merasa nyaman. Tidak mengatakan banyak hal, Nara justru diam sekali hari itu.
" Vitaminmu yang di botol sebelumnya hanya tinggal dua butir, untuk berjaga-jaga aku bawakan yang baru juga. " Ucap Nara masih sibuk mengemas barang yang akan di bawa Mario.
" Iya. " Jawab Mario sembari terus menatap Nara yang sangat berbeda sekali dari Nara biasanya. Semalam saat Mario pulang ke rumah, ternyata Nara sudah tidur padahal biasanya Nara akan menunggunya, dan ketika dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Nara justru memiringkan tubuh membelakangi. Asalnya Mario memang merasa kalau ucapannya kepada Nara agak keterlaluan, tapi setelah di pikirkan lagi bukannya apa yang dia katakan adalah hal yang wajar dan benar?
Setelah selesai Nara membantu Mario untuk memasangkan dasi, dan lagi-lagi dia tidak banyak bicara seperti sbelumnya. Bukan marah, tapi Nara justru tengah merasa kalau memang selama ini dia begitu agresif tidak perduli perasaan Mario. Untuk Nara pernikahan mereka adalah sebuah kebahagiaan meski ada niat tersembunyi ketika awal, tapi Nara memuliakan satu hal penting yaitu, Mario adalah tokoh yang paling di rugikan karena mau tidak mau dia justru harus menikah dengan Nara. Setelah menikah pun Nara menjadi begitu manja meski asalnya hanya pura-pura saja tapi lama kelamaan Nara menjadi nyaman dan terbiasa dengan kebiasannya itu.
" Kau sedang marah ya? " Tanya Mario yang lama-lama tidak tahan juga dengan Nara yang tidak seperti biasanya.
Nara menghentikan sejenak kegiatannya, lalu menatap Mario.
" Tidak. "
" Tapi kau sangat aneh, kau tidak seperti biasanya. "
" Perasaanmu saja, aku tidak marah, mungkin memang karena tidak ada yang mau di bicarakan makanya aku tidak banyak bicara. "
" Biasanya apa saja mau bicarakan, motif dasi, warna kemeja, kancing baju yang bentuknya tidak bagus, rambut ku, kuku, jam tangan, banyak hal lain yang biasanya kau bahas. "
Nara membuang nafas sebalnya.
" Iya, mulutku sedang pegal. "
" Oh..... " Mario tak lagi ingin bicara karena sepertinya Nara memang sedang marah dan tidak bisa di ajak bicara sekarang.
Setelah semuanya siap, sarapan juga sudah selesai, Nara mengantar Mario hingga ke depan seperti biasanya.
" Aku berangkat dulu. " Ucap Mario lalu seperti biasanya dia mencium kening Nara dan sebentar di bibir.
Nara memaksakan senyumnya dan mengangguk.
" Hati-hati di jalan. "
Setelah kepergian Mario, Nara kembali masuk ke dalam kamar. Dia terus merenungi semua yang di katakan Mario dan mencoba mengartikannya dengan artian baik, memang benar sih dan wajar saja kalau Mario kesal hai itu, dia memang kekanakan karena terlalu berpikir sempit setelah bermimpi Mario memiliki wanita lain, di tambah dia yang belum juga hamil. Karena tidak ada kerjaan yang bisa di kerjakan selain pergi ke salon dan bermain gadget, iseng-iseng Nara membaca Novel, kadang menonton Drama yang isinya adalah CEO yang menyewa rahim wanita lain saat istrinya tak bisa hamil, CEO yang memiliki banyak wanita simpanan, dan masih banyak lagi rumor tentang CEO muda di dalam novel dan juga drama yang ia tonton sehingga semakin saja membuat Nara ketakutan sendiri. Bagaimanapun Mario itu kan memang tampan sekali, tentu saja banyak wanita yang suka padanya, jadi apakah salah kalau Nara cemburu berlebihan?
Sudah waktunya pergi ke pesta pernikahan teman, Nara dengan segera bersiap-siap sebaik mungkin. Nara yang sudah cantik dengan sapuan make up sedikit tebal, rambut yang terurai dan memilki Curly di ujung rambutnya benar-benar membuatnya semakin terlihat anggun. Dress polos membentuk lengkuk tubuhnya melekat indah dengan sempurna. Nara menggunakan anting yang berukuran kecil, cincin berlian yang sewajarnya saja, juga kalung pemberian Mario beberapa bulan lalu. Bukan untuk pamer dengan materi yang di miliki suaminya, Nara hanya ingin menunjukkan serta membuat orang lain percaya jika selama ini di dan juga Mario memang hidup bahagia dan saling mencintai sehingga Nara bisa mendapatkan apa yang dia inginkan setelah menikahi Mario yang juga mencintainya.
Begitu sampai di sana, Nara dengan ramah menyapa satu persatu teman yang sudah lama tidak bertemu dengannya. Maklum saja, setelah lulus sekolah mereka jarang sekali bertemu karena kesibukan masing-masing. Ada yang memilih melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, ada juga yang memilih untuk menjadi Ibu rumah tangga jadi wajar kalau momen kumpul seperti ini sangat sulit mereka dapatkan.
" Nara? " Sapa seorang pria yang dulu juga adalah teman sekelas Nara.
" Abigail? "
" Apa kabarmu, Nara? "
" Baik, aku benar-benar tidak menyangka kalau kau akan berubah menjadi setampan ini, Bigail? "
Pria itu tersenyum menahan malu.
" Tapi sayangnya saat sudah bisa merubah penampilan kau malah sudah menjadi istri orang lain. Ngomong-ngomong aku sering sekali melihat wajahmu di televisi acara gosip, bahkan juga media sosial lainnya. Kau sama, asli dan ada di televisi benar-benar sangat cantik. "
Nara tersenyum, Abigail ini dulunya adalah orang yang sangat jauh dari penampilan modern. Dia tak pernah melepas kaca mata tebalnya sekalipun, cara mengancing baju, semuanya jauh dari kata modern padahal Abigail adalah anak dari orang kaya. Untunglah sekolah menengah saat dia sekolah dulu tidak banyak yang namanya bully. Biarpun Abigail pantas di sebut norak dan kuper, nyatanya teman sekelas juga tak mengucilkannya.
" Ngomong-ngomong kau datang dengan siapa? " Tanya Nara.
" Sendiri saja, sampai sekarang aku belum juga pacaran soalnya. " Abigail menggaruk tengkuknya dengan wajah memerah karena amanat malu sekali.
Nara terkekeh.
" Wajahmu sekarang ini sangat tampan, bagaimana bisa belum juga pacaran sih? "
" Soalnya aku mau cari yang mirip denganmu. "
Nara membuang nafas kasarnya.
" Cih! Jangan begitu, kalau kau tahu bagaimana kemauan ku yang sebenarnya, bisa-bisa kau lari terbirit-birit dan ogah lagi menoleh ke arahku. "
Abigail tersenyum menanggapi ucapan Nara barusan.
" Nara, kita photo bersama mau tidak? " Tanya Abigail.
" Boleh, tentu saja boleh! " Nara dan Abigail mengambil posisi untuk mengambil gambar, mereka benar-benar sangat dekat tapi mereka juga bahagia karena momen bersama seperti ini jarang sekali ada.
" Ah, aku akan mengunggah photo kita bersama ya, Bigail? "
" Tentu saja boleh. "
***
Setelah selesai dengan beberapa pekerjaan, ini adalah waktunya untuk Mario istirahat. Dia mengambil ponsel untuk melihat betapa banyak pesan yang dikirimkan Nara hari ini. Mario mengeryit bingung karena ternyata tak ada satupun pesan untuknya. Akhirnya Mario membuka media sosial dan melihat aktivitas media sosial milik Nara.
" Gila! Aku harus pesan tiket pulang sekarang juga! "
Bersambung.