
Sudah hampir malam, tapi Ariel masih belum bisa kembali ke rumah. Yah, mungkin larut malam baru akan sampai. Benar sih hanya pergi kota yang dekat dengan kotanya, tapi jujur saja dia jadi tidak tenang. Entah lah, padahal si Leo itu menyebalkan, tapi kenapa juga Ariel tetap memikirkannya dan bertanya di dalam hati siapa yang akan melepas baju Leo saat akan mandi nanti? Siapa yang akan meladeni makan nya nanti? Benar juga sih, sebelumnya juga pasti ada orang yang bisa melakukan itu semua.
Ah, benar-benar tuyul jumbo itu membuat ku kepikiran sendiri. Padahal menyebalkan, seharusnya aku juga senang kan karena bebas melayani kegilaannya dia, tapi kenapa juga aku jadi tidak tenang? Apa karena aku merasa tuyul jumbo itu adalah bayiku?
Ariel menghela nafasnya lagi, dia ingin menghubungi Leo, tapi tidak punya nomor teleponnya, ingin bertanya kepada Win tapi dia merasa malu. Ah, pasti Win juga sudah mengurus Leo dengan baik kan? Biar bagaimanapun Leo itu adalah Tuannya yang paling dia hormati, jadi mana mungkin akan menelantarkan begitu saja?
" Apa kau merindukan seseorang? " Tanya Presdir Nard yang sudah beberapa kali melihat Ariel memandangi ponselnya seperti ingin menghubungi seseorang tapi dia ragu-ragu. Sebenarnya mereka pergi bukan hanya berdua saja, tapi juga ada Arumi yang sedari tadi terus merasa tak suka dengan adanya Ariel. Dulu sebelum ada Ariel setidaknya apapun yang dibutuhkan Presdir Nard dia lah yang mengutusnya. Sekarang sudah ada Ariel dia seolah tak terlihat oleh Presdir Nard.
" Ah? Anu, aku hanya mengkhawatirkan seseorang saja kok. " Ujar Ariel tersenyum kikuk, ternyata Presdir Nard juga memperhatikan nya ya?
" Kenapa tidak dihubungi saja? "
" Ah, sepertinya aku hanya perlu mengirim pesan saja. " Ariel segera menyalakan layar ponselnya. Setelah di pikir-pikir memang bukan salah juga sih kalau hanya bertanya apakah Leo sudah di urus atau belum, toh dia kan istrinya. Segera Ariel mengirim pesan kepada Win untuk menanyakan mengenai Leo.
" Ngomong-ngomong, siapa orang yang kau khawatirkan hingga membuat mu gelisah seperti itu? " Tanya Presdir Nard.
" Suamiku, dia terbiasa untuk dilayani olehku, jadi aku sedikit khawatir. Dia itu agar rewel dan sangat suka bermain kosa kata, jadi aku tidak yakin apakah ada yang mau mengurusnya atau tidak. " Ujar Ariel lalu tersenyum seolah dia menahan sesuatu yang tak bisa dia katakan. Presdir Nard, pria itu sebentar terdiam, dia tersenyum tipis lalu kembali mengajukan pertanyaan karena rasa ingin tahunya.
" Suami mu itu seperti raja sekali ya? Apa dia tidak bisa melakukannya sendiri, dan jangan begitu menyusahkan? Kau pasti lelah karena harus bekerja juga merawat suamimu. "
Ariel memaksakan senyumnya. Seandainya saja memang Leo bisa melakukan semuanya sendiri, dia pasti tidak akan merasa khawatir seperti sekarang. Tapi jika Leo normal dan bisa beraktivitas seperti orang biasa, tidak perduli akan seburuk apa wajah Leo, kalau dengan keadaan keuangan Leo sekarang bukan tidak mungkin masih ada wanita yang mencoba mendekat kan?
" Suami memang harus diperlakukan seperti raja kan? " Ariel tersenyum untuk menutupi kebohongannya. Biar saja kekesalannya dia telan sendiri, entah mengapa ingin menggunjing Leo dengan orang lain dia merasa tidak rela. Jujur, mengatai, mengutuk, juga membayangkan betapa indahnya bisa memukul kepala Leo itu sangat menyenangkan, tapi dia tidak ingin juga kalau ada orang lain yang membatin buruk tentang Leo.
" Suami mu pasti sangat senang memiliki istri sepertimu. " Ujar Presdir Nard lalu tersenyum seolah dia merasa senang. Entah lah, padahal sedang membicarakan Leo, kenapa juga dia yang tersenyum seperti sedang membicarakannya.
Yah, tidak di buat tarik urat sehari saja aku sudah bersyukur. Kalau dari mulutnya jelas sekali dia tidak tertarik denganku. Tapi mau bagaimana lagi? Dia itu suamiku, ditambah Ibuku meminta untuk tetap bersamanya. Hah, masa aku harus mengurus tuyul jumbo itu selamanya sih!?
" Ariel, lain kali bagaimana kalau ajak suami mu makan malam bersama? " Presdir Nard mengajak, kalau dilihat dari wajahnya sih nampaknya dia serius. Tapi kenapa juga dia begitu antusias membicarakan Leo? Batin Ariel.
" Iya nanti kapan-kapan, itu juga kalau dia setuju. Tapi, kemungkinan untuk setuju sih, nol koma nol nol nol satu persen. "
Presdir Nard mengernyit bingung.
Ariel bapak berpikir, introvet? Tidak tahu juga Leo adalah orang yang bagaimana. Yang jelas Ariel hanya bisa melihat sifat-sifat menyebalkan dari Leo saat ini.
" Sepertinya agak begitu, tapi kondisi suamiku agak kurang baik, jadi belum tentu dia mau memenuhi ajakan Presdir Nard. " Ariel kembali tersenyum, tapi kali ini dia sungguh berharap untuk Presdir Nard jangan bertanya lebih jauh.
" Kurang baik bagaimana maksudnya? "
Ah, benar-benar tidak mengerti isi hati, batin Ariel.
" Suamiku pernah mengalami kecelakaan, jadi dia hanya bisa duduk di kursi roda. "
" Ah, maaf aku tidak bermaksud sejauh itu. Kau benar-benar wanita yang hebat ya. "
Ariel tersenyum, sebenarnya entah apa arti dari kata kau hebat, yang jelas dia merasa kalau sudah harus stop untuk membicarakan tentang Leo karena dia tidak ingin terpancing lebih dalam lagi, dan nantinya Presdir Nard akan mengorek informasi yang seharunya tidak boleh disebarkan. Bagaimana pun Leo adalah suaminya, menjaga nama baiknya juga adalah hal yang wajib untuknya kan?
" Kita menginap di hotel ini saja, besok pagi baru kita kembali kalau urusan sudah selesai. " Ucap Presdir Nard seraya keluar dari mobil, sungguh Ariel hanya bisa gelagapan sendiri. Menginap? Dia pikir akan pulang malam nanti karena dia tidak bilang dengan Leo kalau akan sampai menginap.
" Presdir Nard, apa kita tidak kembali malam ini saja? " Tanya Ariel yang juga sudah keluar dari mobil. Posisinya sekarang ada di belakang Presdir Nard berdampingan dengan Arumi yang sedari tadi hanya diam saja.
" Besok pagi kita akan survei lapangan, setelah itu baru kita kembali. "
Ariel tak lagi bertanya. Dia menyimpan saja keberatannya karena tak berani mengatakannya. Sudahlah, nanti tinggal izin lewat Win saja, batin Ariel seraya mengikuti langkah kaki Arumi yang sangat kejang dan cepat itu.
Arumi tak bicara sama sekali, dia terus menjalankan kakinya, setelah mendapatkan akses card untuk masuk kedalam kamar yang sudah disediakan. Aneh, karena Ariel mengira kalau dia dan Arumi pasti akan satu kamar, nyatanya dia juga akan tidur di kamar yang terpisah.
" Sekretaris Arumi kau di sini? " Tanya Ariel saat Arumi sudah membuka pintu kamar, bukanya menjawab, Arumi justru segera menutup pintu seperti orang kesal. Sementara Ariel yang keheranan hanya bisa mencari nomor kamarnya, dan ternyata dia bersebelahan dengan Presdir Nard. Kebetulan kah? Ah, tidak tahu!
Presdir Nard tersenyum tipis.
Aku benar-benar tidak sabar untuk memajukan langkah ku.
Bersambung.