Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 47



Ariel menyibakkan rambutnya dengan mimik jengah. Sungguh benar-benar tidak punya perasaan. Padahal sudah jelas sekarang ini banyak orang, apakah tidak bisa menunggu nanti kalau ingin bicara kurang ajar? Tapi tidak masalah, orang lain boleh membuat telinga sakit, tapi mulutnya harus bisa membuat seluruh tubuh orang itu sakit, luar dalam, atas bawah pokoknya.


Ariel tersenyum menatap Grade yang masih betah menatapnya dengan tatapan mengejek.


" Kok Nona cantik ini sampai membicarakan alat bantu s*x? Apa sering mencobanya? " Ariel tersenyum tak terlihat takut, dan ya seperti yang diharapkan oleh Ariel, Grade menjadi semakin emosi.


Leo, pria itu tak ingin mengganggu suasana tegang yang Ariel ciptakan, maka dia memilih untuk diam saja, begitu juga Win yang jelas bisa membaca apa maksud dari diamnya Leo diantara mereka.


" Aku tidak perlu menggunakan alat seperti itu, kekasih ku jelas adalah pria normal, jadi aku sudah jelas ada yang memuaskan. " Jawabnya tak menghilangkan kesombongannya itu.


Ariel tersenyum, benar saja! Gadis jaman sekarang memang banyak sekali yang menganggap bahwa ewita di luar nikah adalah hal yang biasa, padahal jelas sekali kalau cuma di ewita sana sini tidak dinikahi yang rugi kan perempuannya. Iya iya iya! Ini waktunya Ariel sok alim sedikit.


" Duh, begitu ya? Jangan lupa menikah dulu, cuma ewita saja tidak nikah buat apa? Enaknya cuma sebentar, tapi kalau penyakitan sampai mati bagaimana? "


Grade mengepalkan tangannya menahan kesal, kehidupan semacam itu tentu saja adalah hal yang biasa di negara dia tinggal selama ini. Tinggal bersama, kadang sampai ada anak tanpa menikah juga bukan hal aneh, meskipun iya memang di negara ini menikah adalah sebuah keharusan, nyatanya itu tidak ada pengaruhnya sama sekali untuknya, atau bahkan sebagian muda mudi jaman sekarang.


" Bahasa planet mana yang kau gunakan? Ewita? "


" Tapi kau pasti tahu apa artinya kan? Tahu tidak? Kemarin aku menonton film seorang perempuan yang memiliki hobi ewita dengan pria yang berbeda-beda? Anunya gatal-gatal, kemudian timbul bisul yang bernanah, awalnya hanya sedikit, lama kelamaan menjadi banyak, penuh dan anunya busuk tidak bisa digunakan. Ah terakhir adalah akhir ceritanya, rupanya si perempuan itu mati mengenaskan dan tidak ada satu pun keluarga yang mau mendekat karena anunya bau sampai kemana mana. Parahnya lagi, Anunya- "


" Cukup! Tutup mulutmu! " Grade melotot mendengar cerita aneh dari Ariel. Jelas lah dia bukan hanya melakukan hanya dengan satu pria, maka ngeri juga dia mendengar cerita yang aneh itu.


" Duh bagaimana sih?! Ini sedang seru-serunya loh, tahu tidak? Cucung pria yang memakai anunya ternyata ikut busuk! Bahkan saat dia berenang di kolam, cucungnya sampai putus karena sudah sangat parah juga. "


Grade tidak ingin lagi bicara karena dia sudah di runding rasa ngeri yang luar biasa. Segera dia melangkah pergi dengan wajah marah dan sempat menabrak pundak Ariel dengan kuat.


" Aduh! Sakit! Ini aku bisa gatal-gatal tidak ya? " Gumam Ariel sembari menepuk pundaknya mengusir kuman yang tertinggal.


" Kau! tunggu saja Pembalasanku! " Ucap Grade yang jelas tak bisa melawan ucapan Ariel lagi.


Win dan Leo, rupanya dia sedari tadi dia panas dingin sendiri mendengar cerita Ariel. Hah?! Cucung pria sampai lepas sendiri saat berenang, karena sudah membusuk parah? Tolong! Apakah Ariel tidak tahu seberapa mengerikannya cerita itu?


Beberapa saat kemudian, Ariel mengikuti saja kemana Leo yang kini tengah mengobrol dengan beberapa rekan bisnis karena Leo menggenggam tangan Ariel, sedangkan Win lah yang kini mendorong kursi roda Leo.


" Mister L, istri anda cantik sekali ya? Anda pasti sangat bahagia memiliki istri secantik ini. " Puji salah satu orang yang sudah cukup lama juga bekerja sama dengan Leo.


" Iya, aku bahagia. " Leo tersenyum tipis, lalu mengecup punggung tangan Ariel.


Benar-benar membuat berdebar, tapi karena banyak orang, Ariel benar-benar harus menahannya dan kalau bisa jangan sampai pipinya merona.


Tidak seperti Leo dan Win yang asik berbicara entah apa, rupanya sedari tadi Ariel terus melihat ke arah kakeknya Leo yang sering sekali mencuri pandang ke arahnya. Ah entahlah itu kebetulan atau bukan, tapi sepertinya kakek Leo tidak sesadis yang ia kira.


" Aku ambil makanan di sana ya? " Ucap Ariel saat tak sengaja melihat orang-orang mengambil desert yang sepertinya sangat enak. Leo mengangguk mengizinkan, tapi juga tak lupa berpesan agar tidak pergi terlalu jauh dan segera kembali.


" Wah, ini sungguh desert coklat paling imut yang pernah aku lihat. " Ujar Ariel merasa senang.


" Kau suka? Kau bisa ambil banyak kalau kau mau. Oh, apa mau dibungkus untuk kau bawa pulang? "


Senyum di bibir Ariel seketika menghilang, ah, benar-benar keluarga pengganggu! Kemarin Mark, lalu Grade, dan sekarang malah si Paman Daris yang entah kenapa juga malah menghampirinya.


" Jangan segan-segan, makan saja dengan nyaman ya? Nanti paman akan meminta pelayan untuk menyisakan sebagian untuk kau bawa pulang. " Ucapnya lagi.


Ariel, dia hanya bisa memaksakan senyumnya di kala hati benar-benar meronta ingin membalas ucapan sok manis dan perduli itu. Menyisakan? Apakah dia itu lupa kalau Ariel adalah istri dari Leo? Bahkan makanan setiap hari yang di sediakan adalah makanan yang bisa di jamin kesehatan juga rasanya yang lezat, itu pasti sudah sangat mahal kan? Desert yang ada di tangannya ini jelas mampu Leo berikan sebanyak apapun yang dia inginkan.


" Terimakasih paman Daris, tapi aku tidak se-rakus itu. Aku hanya ingin megambil desert ini karena bentuknya yang cantik, bukan karena menyukai rasanya. Dan lagi, makanan yang terlalu manis tidaklah sehat, Leo pasti akan marah kalau aku memakan makanan yang tidak baik untuk tubuhku. "


Paman Daris tersenyum, jujur saja dia kesal dengan jawaban Ariel. Tapi setidaknya dia bisa menilai bagaimana Ariel meski belum keseluruhan.


Perempuan ini orang yang setia, jika membuka mulut, maka aku yakin semua ucapannya adalah kebenaran.


" Baiklah, nanti kalau membutuhkan sesuatu jangan ragu untuk mengatakannya ya? Kau bisa meminta pelayan untuk melayani mu, atau bisa memanggil paman saja. "


" Iya, paman. " Jawab Ariel singkat.


" Jangan terlalu sungkan, anggap saja paman ini sebagai mertuamu. Maklum saja, orang tua Leo kan sudah meninggal lama sekali, aku adalah wakil orang tuanya, kalau kau sedang tidak baik atau sedang dalam masalah, datanglah kepada paman. Paman janji akan membantumu sebisa paman. "


Bersambung.