
Leo mengeryit melihat laptopnya yang mempertontonkan apa yang sedang dilakukan Sephora. Bukan kurang kerjaan, hanya saja adanya Sephora di rumahnya tentu membuat Leo harus siap siaga karena takut kalau sampai Sephora mencelakai Ariel, maka dari itu Leo hampir tidak pernah lepas dari pengawasan kalau tentang Sephora. Sukanya Sephora juga tidak menyadari adanya kamera pengawas karena tersamarkan dengan hiasan dinding, yang ada dia setiap sudut ruangan sebanyak kamera pengawas yang ada di sana. Sephora nampak menuangkan serbuk berwarna putih ke dalam jus kiwi yang biasa dia minum setelah sarapan pagi.
Untungnya jus kiwi hanya miliknya saja, karena Ariel dia akan minum susu hangat seperti biasanya, sedangkan Grade dan Onard dia akan meminum susu hangat sama seperti Ariel.
" Sialan! Obat apa yang dia masukkan ke dalam minuman ku? " Ucap Leo dengan dahi mengeryit dia masih terus memperhatikan gerak gerik Sephora hingga semua makanan untuk sarapan sudah tersedia di sana dengan rapih.
Tak mau berada di dalam suasana bahaya atau kurang bagus, segera Leo menyalin video dimana Sephora memasukkan obat, lalu menyimpan di ponselnya. Setelah selsai, dan Ariel juga sudah keluar dari kamar mandi dengan kajian yang rapih, menunggu sebentar Ariel untuk bersiap lalu segera mereka bergabung di meja makan, dimana Onard dan Grade sudah menunggu di sana.
" Selamat pagi? " Sapa Ariel dengan senyum yang terlihat begitu sopan dan ramah.
" Selamat pagi juga. " Onard menjawab sapaan dengan mimik yang sama seperti Ariel, sementara Grade, wanita itu menghela nafas jengah karena paling malas dengan bosa basi tidak penting itu.
" Grade, apa tidak bisa menjawab sapaan orang untuk sekedar menghargai? " Protes Onard pelan agar Ariel dan Leo tidak mendengarnya.
Grade menghela nafas, melirik ke arah Onard sebentar dengan tatapan jengah.
" Cicak juga tahu ini pagi, lagi pula dia sedang menyapa lagi kan bukan menyapa ku? "
Onard menaikkan sisi bibirnya dengan tatapan kesal.
" Aku ingin menjahit mulutmu! " Kesal Onard.
" Aku ingin membuang mu ke sungai. "
" Aku ingin menggelindingkan tubuhmu sampai masuk ke mulut buaya! " Kesal Onard.
" Oh, aku sudah menjinakkan banyak buaya darat. Maaf saja membuatmu kecewa, aku bisa di bilang pawang buaya, tapi sialnya aku malah menikahi cicak. "
Onard terperangah kesal sampai tak mampu berkata-kata. Tuhan, kalau boleh membisikkan mulut, maka Nard benar-benar ingin Grade itu bisu saja.
" Kalian ini mesra sekali ya? " Sindir Ariel.
" Kau melihatnya dengan mata kaki mu? " Kesal Grade.
Ariel tersenyum tak ingin begitu menanggapi perkataan Grade yang memang sangat nyelekit kalau bicara.
" Gunakan lah bahasa yang baik, Grade! Kau sedang bicara dengan adik ipar mu, bukan dengan ku. "
Grade tersenyum malas.
" Oh, baik adik ipar, maafkan lah mulutku yang sangat kotor berlumpur tanah dan kotoran hewan. Mohon adik ipar jangan mengambil hati ya? "
Ariel menaikan sisi bibirnya, dia benar-benar jadi malas meladeni mulut Grade yang jelas tidak mau mengalah.
" Kau sopan, tapi kenapa maksudnya hanya menyindir? " Bisik Onard, tapi dia masih tersenyum menatap Ariel dan Leo bergantian.
Onard membuang nafas, wajahnya nampak tak berdaya karena tidak mampu membalas kata-kata Grade barusan.
" Sudahlah, mari kita makan yang mulai ratu. " Ucap Onard laku segera menikmati makannya.
Leo, pria yang memang biasanya gak banyak bicara itu hanya bisa terdiam sembari menikmati sandwich yang ada di piringnya. Dia masih belum meminum jus kirinya sama sekali karena dia tahu ada racunnya, dia sempat melihat ke arah Sephora yang sepertinya begitu menunggu untuk Leo meminumnya.
Setelah sarapan mereka selesai pun, Leo masih tidak meminum jus kiwi itu, dan tak lama dia memanggil Sephora.
" Ada apa, Leo? " Sephora tersenyum menatap Leo yang berekspresi datar dengan mata yang enggan menatapnya.
" Aku tidak ingin minum jus kiwi, jadi dari pada nanti terbuang sia-sia, tolong minum jus ini, habiskan di depanku. " Begitu sampai di akhir kalimat, Leo menunjukkan betapa tajam dan dinginnya tatapan matanya yang dia tujukan untuk Sephora. Jelas Sephora bisa melihat jika itu adalah tatapan mengancam, dan dia juga yakin kalau Leo pasti sudah tahu jika jus itu sudah dia beri obat tadi. Rasanya ingin menolak, tapi tatapan dari Leo seolah melarangnya dengan keras.
" Kenapa? Kau takut? "
Sephora melangkah maju supaya lebih dekat untuk meraih gelas yang berisi jus kiwi di hadapan Leo. Sekarang dia sudah tidak punya pilihan lagi, dia sudah yakin kalau tidak akan mungkin punya kesempatan untuk menggoda Leo lagi karena dia sudah ketahuan bahkan sejak awal.
Dengan tangan gemetar dia meraih gelas itu, perlahan meminumnya sedikit berharap Leo sudah cukup puas dengan itu.
" Oh, aku bilang habiskan. "
Sephora kembali menenggak jus kiwi itu sampai benar-benar habis. Itu semua jelas membuat semua orang bingung kenapa Leo melakukannya? Tapi karena mereka tahu benar jika Leo tidak suka berbuat tanpa alasan, maka dia juga tahu benar jika ada hal yang mereka tidak ketahui.
" A aku, a aku, pergi dulu. " Sephora dengan cepat berlari keluar, dia terus berlari menuju gerbang, melepas celemek yang dia kenakan dan membuangnya sembarangan.
" Tolong bukakan pintu! " Ucap Sephora kepada satpam rumah. Setelah dia berhasil keluar, dengan segera Sephora mengentikan taksi, tujuannya sekarang adalah Bram, karena dia yakin Bram pasti masih ada di apartemennya.
Sesampainya di apartemen di mana Bram tinggal, tubuh Sephora menjadi sangat panas seperti orang yang sedang demam. Nafasnya menderu seperti ada gejolak rasa yang mendobrak keluar dari dalam tubuhnya. Susah payah Sephora melajukan kedua kakinya untuk terus maju meski agak gontai. Cukup lama berada di dalam lift hingga membuat Sephora semakin tidak tahan, dia membuka kancing kemeja yang ketat di tubuhnya hingga tonjolan benda kembar di dadanya terlihat separuh.
" Panas! " Keluh Sephora sembari mengatur nafasnya yang semakin menderu. Bibirnya terasa agak kering, sehingga dia terus membasahi dengan lidahnya.
Sesampainya di unit milik Bram, Sephora yang sudah mulai semakin kehilangan kontrol menjadi pusing, hingga bingung melihat nomor di pintu unit apartemen.
" Sialan! Apa yang itu? " Sephora berjalan lagi, mengetuk pintu unit apartemen dan sudah masa bodoh saja benar atau salah karena saat dia memasukkan password di pintunya tak kunjung terbuka. Di dalam hati Sephora membantin, mungkin Bram menggantinya karena kemarin kan Bram ketahuan selingkuh, jadi dia terus mengetuk sampai pintu apartemen terbuka.
" Wah, kau sudah datang rupanya? "
Soraya menajamkan matanya, jelas jika itu buka suara Bram.
" Kau siapa? " Tanya Sephora.
" Jangan sok jual mahal! " Pria itu segera meraih lengan Sephora dan membawanya masuk.
Bersambung.