Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 31



Sudah empat jam Ariel berada di kamar, empat jam pula dia hanya bisa memainkan ponselnya, juga mondar mandir sembari berpikir tidak jelas. Ariel kembali melihat ke arah jam, barulah setelah itu dia menghela nafas sebal karena Leo belum juga pulang ke rumah. Tidak tahu seberapa sibuk Leo dalam pekerjannya, tapi apakah harus pulang agak melewati batas jam kerja?


Ariel menghela nafasnya, kemudian dia melihat ke photo pernikahan mereka yang di gantung di dinding. Awalnya dia terus menatap photo pernikahan itu dengan datar, tapi pada akhirnya bibirnya tertarik tersenyum mengingat momen pernikahan aneh mereka dulu. Tidak ada cinta, bertemu bahkan saat menikah itu adalah pertemuan pertama mereka. Benar sih Ariel sudah banyak mendengar tentang tumor dari Leo yang memiliki luka bakar cukup parah, dan juga mengalami kelumpuhan di bagia kakinya. Pada pertama melihat Leo tetap saja dia terkejut dan membatin karena Leo nampak menyeramkan, kulit bekas luka bakarnya juga sangat menjijikan. Tapi siapa sangka kalau pada akhirnya hatinya tak menolak seorang Leo yang bukan hanya wajahnya saja jelek, tapi juga cara dia bicara juga sangat menyebalkan. Entah kenapa ada perasaan tidak menolak, mungkin saja karena kasihan kah? Atau karena dia merasa nyaman meski Leo sangat menyebalkan dengan.


Suara pintu di ketuk, lalu tak lama terbuka, dan Win lah yang membukanya.


" Selamat malam, Nona Ariel? " Sapa Win lalu mempersilahkan Leo masuk ke dalam kamar dengan mendorong kursi rodanya.


" Malam, Win. " Balas Ariel lalu mengambil alih kuris roda Leo untuk dia bawa semakin masuk mendekati tempat tidur.


" Wanita yang aku jemput sudah berada di ruang tamu, dia sedang menunggumu, jadi pergilah temui dia. " Ucap Leo yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Ariel.


" Kau jangan gila ya?! Mau apa wanita itu datang kesini? Mau menjadi istri kedua mu?! Tidak, tidak boleh! Kaka masalahnya adalah kita belum ewita, ya sudah yuk! Kita ewita saja sekarang, jadi tidak ada ceritanya kau memiliki istri kedua! " Ariel berucap dengan begitu yakin, dan itu jelas membuat Leo terdiam menahan diri yang merasa malu juga gugup menjadi satu. Ah, bagaimana bisa seorang wanita dengan terang-terangan mengajak pria untuk ewita seperti mengajak untuk berangkat membeli combro.


" Ariel, jangan- "


Cup!


Ariel membungkam mulut Leo yang ingin bicara dengan kecupan singkat.


" Aku bisa melakukannya, jadi jangan membuatku merasakan apa yang aku rasakan sebelumnya. Aku memang bukan wanita sempurna saat menjadi istrimu, tapi kau hanya perlu setia padaku, dan aku janji akan melakukan segala yang aku bisa untuk membalas kesetiaan yang kau berikan padaku. "


Leo menatap mata Ariel dengan tatapan yang seperti campur aduk.


" Ariel, lebih baik kau temui saja dulu. Setelah bertemu dan bicara dengannya, kau baru bisa meneruskan pembicaraan kita ini. "


Ariel menghembuskan nafas kasarnya.


" Tidak mau! Usir saja dia! "


" Kau akan lebih bahagia bersama dia di banding bersamaku. "


" Mana ada! Win! Win! Usir wanita terkutuk dan tidak tahu malu itu! Jangan biarkan dia menunaikan niat busuknya untuk menjadi istri kedua, kalau masih saja tidak mau minggat, buat saja aku jahit lubang donatnya! " Kesal Ariel seolah-olah memerintah padahal Win juga sedang berada di ruang tamu menemani wanita itu, yah Win juga bisa mendengarnya begitu juga dengan wanita yang kini bersama sebab Win.


" Ariel! Jangan bicara sembarangan! "


" Apanya?! Kau masih ingin membela wanita terkutuk itu, lihat bagaimana aku membuat tubuhnya seperti boneka sabrina setelah ini! "


" Oh, coba saja lihat dia dan lakukan apa yang ingin kau lakukan. Tapi kalau sampai kau gagal, maka hukumannya adalah menyenangkan ku. "


" Oke! Jangan salahkan aku ya? "


Ariel berjalan melaut dengan wajah sebalnya, sementara Leo menatap dengan tatapan tak biasa,aku dia tersenyum tipis melihat kepergian Ariel dengan ekspresi marah yang terlihat mengemaskan. Leo memegang bibirnya yang beberapa saat lalu mendapat kecupan dari Ariel, lalu kembali tersenyum.


" Benar-benar sangat tidak biasa. " Ujar Leo lalu menjalankan kursi rodanya untuk menuju kamar mandi.


" Dimana wanita it- " Ariel mematung begitu melihat siapa yang sedang duduk bersama dengan Win. Tatapannya jelas menunjukkan bahwa dia tidak bisa percaya dengan apa yang dia lihat sekarang ini. Lama kelamaan, Ariel yang bisa melihat wanita itu berdiri dengan baik di hadapannya semakin membuatnya tak tahan untuk menangis.


" Ibu? Ini Ibu sungguhan? " Tanya Ariel dengan tatapan tak percaya. Air matanya sudah mulai turun, begitu juga dengan Ibu Maria yang mulai mengisi haru melihat putrinya ternyata hidup dengan baik-baik saja selama berumah tangga.


" Marile, putriku. " Ucap Ibu Maria sembari berjalan mendekati, dan memeluk Ariel yang masih menatap tak percaya.


" Ini Ibu sungguhan? Ibu sudah keluar dari penjara? " Tanya Ariel sembari menangis.


" Iya, berkat suamimu Ibu bisa keluar dari penjara dan kembali menemanimu, nak. "


Ariel terisak lalu memeluk erat-erat tubuh Ibunya.


Setelah itu, Ariel menemani Ibunya sembari mengatakan bagai mana bisa Leo membebaskan Ibunya, padahal dia sudah berusaha sekuat tenaga dengan mengerahkan orang terbaik, tapi hasilnya tetap nihil.


" Ariel, kali ini berkat suamimu Ibu bisa bebas. Ibu benar-benar berhutang banyak dengannya. "


Ariel tersenyum, sungguh dia tidak menyangka kalau Leo perduli juga dengan Ibunya. Sekarang dia benar-benar semakin tidak berniat membagi Leo dengan siapapun, yah meskipun dia sadar benar jika mungkin saja Leo tidak akan berubah sifat dan masih saja seperti itu, tali dia yakin mempertahankan Leo adalah pilihan terbaik. Bukan untuk membalas kebaikan Leo karena sudah membantu dengan membebaskan Ibunya, tapi karena Ariel merasa Leo adalah pria yang baik yang harus ia jaga sebisa mungkin.


" Ibu, Ibu pasti sangat lelah kan? Ibu istirahat dulu ya? Aku antar ke kamar, nanti kalau ada apa-apa tolong jangan ragu untuk memberitahuku ya? " Ibu Maria mengangguk seraya mengusap wajah putrinya yang kini agak sembab karena tadi terus menangis bahagia.


Begitu Ibunya mulai istirahat untuk tidur, Agile kembali ke kamarnya. Dia tersenyum mendapati Leo yang sudah menggunakan pakaian untuk tidur sembari membaca Sebuah buku yang tidak tahu buku apa itu.


" Kau sudah ingin tidur? Apa kau mau makan dulu? " Tanya Ariel dengan senyum yang begitu cerah hingga Leo tidak Kuta untuk melihatnya terlalu lama, silau! Ah, bukan! Maksudnya terlalu membuat jantungnya berdebar, jadi lebih aman kalau tidak terlalu lama terpesona dengan senyum indah itu.


" Aku sudah makan malam bersama dengan Ibumu. " Leo menutup bukunya, lalu menatap Ariel dengan senyum layaknya pria yang sudah memiliki keinginan penuh terhadap wanita.


Ariel tersenyum semakin ceria, takut? Tidak! Entah mau di ewita atau apapun dia benar-benar pasrah karena hatinya sedang gembira.


" Kau tahu aku menginginkan apa sekarang? " Tanya Leo.


" Tahu, mau ewita kan? Yuk! "


Leo langsung tak bisa berkutik dengan wajah syok.


Bersambung.