Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 49



Wiliam membuang nafas kasarnya, dia sungguh sebal menghadapi Moza yang begitu dingin dan sulit untuk di rayu, jauh sekali dari para wanita yang sebelumnya di kenal. Tatapannya yang tajam meski tidak marah, bibirnya yang jarang tersenyum, hanya menjawab dengan helaan nafas, kadang hanya mengangkat kedua bahunya saja, sedikit tersenyum untuk mengatakan tidak, mirip sekali seperti kebanyakan CEO dingin yang di gambarkan dalam tokoh Novel, Drama, kartun, atau apalah itu. Tapi kan Moza itu adalah seorang wanita, bukannya wanita harusnya terlihat manja, lucu, manis, menggemaskan, juga menggoda saat berada di atas ranjang. Moza? Di atas ranjang pun dia masih tidak bisa menghilangkan sikap dinginnya, meskipun Wiliam tahu kala yah sedang di lakukan adalah untuk menggodanya, tali kenyataannya yang di rasakan oleh Wiliam justru dia malah seperti sedang di incar oleh mahkluk buas berbadan besar jauh lebih besar dari pada dirinya. Duh! Belum lagi kalau Moza sedang mengajar para kaum bajingan muda di kampus, Moza itu terlalu terlihat keren, jadi yang Wiliam rasakan setiap waktu adalah, wanitanya akan di ambil oleh pria lain.


" Sialan! Kenapa sekarang aku merasa begitu kesepian sih?! Kemana dua bocah yang biasanya duduk di sini?! " Gerutu Wiliam, rasanya hampa sekali saat dua orang yang biasanya menemani dia minum malah tidak datang dengan alasan yang kurang lebih sama. Mike, pria itu beralasan kalau dia ingin membantu istrinya membuat cake sepulang kerja. Sementara Mario, pria itu mengatakan jika, istrinya lebih penting di banding Wiliam.


" Kehidupan mereka apa begitu damai dan sejahtera ya? Hah! Enak sekali kalau boleh menempel terus menerus dengan istri. Aku sih juga inginnya begitu, tapi Moza kan sangat sensitif dengan suara. Kalau sedang membaca buku aku tidak boleh mengeluarkan suara, bahkan menghela nafas juga tidak boleh. Padahal cuma meletakkan tangan di bokongnya, tapi dia sudah terlihat kesal. Cih! Kalau tahu begini apa lebih baik bercerai saja? " Wiliam kembali membuang nafasnya, banyak-banyak menuangkan wine ke dalam gelasnya, minum terus sampai habis dan mabuk parah setelahnya.


Jujur saja belakangan ini Moza memang terlihat lebih dingin dibanding sebelumnya. Padahal Wiliam sudah banyak mencoba untuk mencairkan suasana ketika terasa canggung, tapi Moza justru lebih banyak diam dan tidak sekali dua kali saja memilih untuk mengabaikannya membuat Wiliam serba salah dan merasa tak di hargai sebagai seorang suami.


" Moza, kalau kau seperti ini terus aku mana bisa tahan? Aku kenapa harus selalu berpikir bagaimana caranya agar bisa mengenalmu dengan baik sehingga mudah akrab, tapi semakin hari hubungan kita malah terasa aneh bagiku. Kau memang memberikan tubuhmu, tapi kenapa aku merasa kau menyembunyikan sesuatu dariku? Aku ini tersiksa, Moza. " Gumam Wiliam yang bisa di dengar jelas oleh Moza. Iya, dia datang setelah di hubungi bartender beberapa saat lalu karena Wiliam benar-benar sudah mabuk parah.


Moza menghela nafas, dia meminta salah satu penjaga di sana untuk membantunya memapah Wiliam sampai ke dalam mobil, barulah dia akan mengemudi mobil Wiliam sampai di apartemen tempat mereka tinggal.


" Sial! Kenapa tubuhmu berat sekali! " Kesal Moza saat memapah Wiliam untuk masuk ke unit apartemen mereka.


Bruk!


Moza membuang nafasnya, menegakkan tubuhnya, menekan kedua sisi pinggangnya dengan tangan untuk dia dorong ke depan. Pegal, sungguh pegal dan sakit karena memapah Wiliam sampai ke dalam kamar.


" Moza, dasar jahat! Aku ini suamimu, kenapa kau malah bersikap dingin padaku, hah? Kalau kau seperti ini terus, aku bisa-bisa tidak tahan lagi! " Ucap Wiliam masih belum sadar karena pengaruh wine dengan kadar alkohol yang cukup tinggi.


Moza menghela nafasnya.


" Lalu kau mau apa, Wiliam? "


" Mau kau, aku mau kau! "


Moza menggelengkan kepala karena tak mau lagi berbicara dengan orang mabuk. Moza mendekati Wiliam, membuka kemejanya, kaos kakinya, dan semua yang ada di tubuhnya untuk dia lakukan pakaian yang nyaman untuk Wiliam tidur. Begitu selesai mengerjakan itu, Moza sebentar merapihkan dirinya, lalu kembali ke ranjang dan berbaring di samping Wiliam.


" Bukan untukmu saja yang sulit, Wiliam. Aku juga merasakan hal yang sama, hanya saja aku butuh waktu untuk memikirkannya. Aku tahu untuk memberi tahu karena aku tidak siap dengan apa yang akan terjadi nanti, tapi menyembunyikan ini juga berat untukku. Wiliam, seandainya kau bisa menjaga dirimu sedikit lebih baik, kira-kira apakah aku akan menemuka hal ini juga? "


Moza menatap sebentar dengan seksama wajah Wiliam yang terpejam, lalu Moza mengecup sebentar bibir Wiliam. Setelah itu di berbalik membelakangi Wiliam dan mulai memejamkan mata meskipun dia tak mengantuk sama sekali.


Wiliam membuka matanya, rupanya dia masih bisa merasakan kesadarannya. Dia membenahi posisi tidurnya, dan mendekatkan tubuhnya untuk memeluk Moza.


Pagi harinya.


" Minumlah obat pengar untuk mengurangi sakit kepala karena mabuk. " Ucap Moza untuk mengingatkan. Bagaimanapun genitnya Wiliam terhadap wanita cantik, dia tetaplah Wiliam yang bisa di bilang pekerja keras, jadi Moza tidak ingin kalau sakit kepalanya akan mengganggu aktivitas Wiliam hari ini.


Wiliam tersenyum, lalu mengangguk. Obat itu sudah di sediakan di meja sarapan, jadi dia tidak perlu repot mencarinya dulu.


Tak ada yang bicara saat sarapan, karena itu adalah peraturan dari Moza bahwa orang pintar tidak akan makan dengan mengoceh karena orang pintar akan lebih melakukan dua aktivitas itu di waktu yang berbeda. ( Kata Moza loh ya )


Setelah selesai sarapan.


" Kau berangkat duluan saja ya? Aku mengajar jam satu siang nanti. "


Wiliam terdiam sebentar. Baiklah, ini sudah cukup dan perlu di akhiri. Wiliam yang tadinya sudah akan meraih jas kantor tak jadi dia lakukan, dan memilih duduk di samping Moza yang baru saja akan membuka laptopnya.


" Bisa kita bicara sebentar? " Tanya Wiliam.


" Bicara saja, ada apa? "


" Maksud ucapanmu semalam itu, apa? "


Moza terdiam sebentar, ternyata Wiliam mendengar ucapannya.


" Lupakan saja. "


" Tidak bisa! Kalau kita seperti ini terus, kita mana mungkin bisa bertahan lama? Aku juga sudah mulai ingin menyerah, tahu tidak? "


Moza membuang nafasnya.


" Baiklah, dengarkan ini baik-baik. Dua Minggu yang lalu sahabatku datang dari luar negeri setelah satu tahun pergi. Kami berbincang begitu asyik hingga dia mengatakan padaku dia baru saja melahirkan. Dia menunjukan photo bayinya kepadaku, lalu saat aku bertanya siapa suaminya? Dia mengatakan bahwa dia belum menikah. Saat aku tanya siapa Ayah dari bayinya, kau tahu dia menunjukkan photo siapa? "


" Siapa? "


" Photo mu. "


Bersambung.