
Tiga pasang suami istri kini tengah duduk bersama di sebuah ruangan, mereka kompak menghela nafas setelah selesai berkeluh kesah tentang anak-anak mereka yang memiliki sikap dan tingkah tak membuat tenang. Mereka adalah Ariel dan Leo, Onard dan Grade, Daniel dan Sephora.
Mereka benar-benar tidak habis pikir dengan anak pertama mereka yang kompak membuat orang tua mereka migran setiap hari. Sebenarnya pertemuan tiga pasang suami istri itu sudah bukan sekali dua kali saja dalam tiap bulan. Semenjak anak mereka berusia dua puluh lima tahun ini mereka hampir setiap Minggu bertemu untuk saling bertukar cerita mengenai anak-anak mereka dan membicarakan bagaimana jalan keluarnya.
" Bagaimana kalau kita nikahkan saja mereka yuk? Aku pusing sekali dengan Mike yang matanya selalu hijau melihat dada dan bokong besar milik wanita. Padahal aku ini tidak mengajarkan hal kurang ajar begitu, jujur saja aku malu tapi mau bagaimana lagi? Kalau dibiarkan saja pasti akan berlanjut ke tahap yang semakin parah. " Sephora menghela nafas setelah mengatakan itu, Mike sebenarnya adalah pekerja keras juga, dia juga sangat sopan hingga sekalipun tak pernah berbicara dengan nada tinggi kepada Ibunya. Benar-benar entah dari mana sikap mesum luar biasa itu di dapatkannya.
" Aku malah iri dengan Mike, kau lihat sendiri kan bagaimana Mario? Melihat wanita malah seperti melihat kotoran ayam. Aku takut sekali kalau ternyata cucung putraku tidak bisa bangun sehingga dia tidak berani menikah. " Ucap Ariel tak kalah sedih wajahnya, sementara Leo hanya bisa diam, menggaruk tengkuknya karena tidak tahu harus bagaimana di saat istrinya begini. Padahal dua puluh lima tahun masihlah sangat muda untuk seorang laki-laki dan pasti banyak pencapaian yang ingin di raih putranya itu sebelum menikah. Tapi ya mau bagaimana lagi kalau kemauan istrinya begitu?
" Ya ampun, putraku Wiliam juga sangat tidak bisa mengontrol diri asalkan melihat paha gadis yang mulus dan jidat mengkilat. Aku tahu sekali dia pasti penjahat lobang wanita, tapi yang mengherankan bagaimana putraku seperti itu? Dari mana sifat jeleknya itu ya? " Ucap Grade lalu berwajah lesu, tapi sayangnya semua orang justru melihat wajah Grade dengan tatapan heran. Bagaimana mereka tidak heran? Grade itu sangat mirip seperti Wiliam yang suka sekali mencicipi lawan jenis dengan perawakan sesuai seleranya.
" Wiliam itu tentu saja mirip denganmu, lihatlah makanya kau sampai punya lima anak kan? " Ucap Sephora lalu menatap sebal.
" Dasar sok tahu! " Grade memanyunkan bibirnya karena sebal dengan Sephora meski sebenarnya ucapan Spehora memang benar adanya. Tapi mana ada orang tua yang akan menurunkan sifat buruk kepada anaknya? Jelas lah Grade berusaha menjauhkan putranya dari hal semacam itu, tapi mau bagaimana lagi kalau memang begitulah sifat putranya.
" Jadi, bagaimana kalau kita nikahkan saja anak kita? "
Mereka semua nampak berpikir dengan usulan dari Sephora. Kalau Ariel sebenarnya sih setuju saja karena memang dia ingin menikahkan Mario agar Mario bisa membuktikan apakah dia benar laki-laki atau bukan. Tapi apakah mungkin Mario akan menerima usulan itu? Mario memang terlihat patuh, tapi sebenarnya dia anak yang ulet dan condong mengikuti apa yang di inginkan oleh hatinya. Kalau di lihat-lihat sih Mario itu masih belum ingin menikah jadi dia ragu untuk menyetujui usulan Sephora.
" Kalau aku setuju saja supaya Wiliam ada yang mengurus, tahu sendiri aku banyak anak dan sering sekali kebingungan mengurusnya." Ucap Grade dengan cepat menyetujui. Sebenarnya bukan tidak ingin mengurus Wiliam lagi, hanya saja dia tidak ingin Wiliam lebih lama berada di masa yang akan dia sesali nantinya.
" Bagaimana denganmu, Ariel? " Tanya Sephora karena sedari tadi dia hanya melihat Arie menghela nafas dan menggeleng saja entah apa maksudnya.
" Kalian tahu Mario itu bagaimana kan? Aku belum melihat minatnya untuk menikah, dan lagi Mario itu kan sulit sekali di bujuk. "
" Tekan saja dengan berbagai cara, aku yakin kau bisa! Kau itu kan pandai memojokkan anak-anak mu, jangan begitu menyerah deh. " Protes Sephora karena memang dia tahu benar bagaimana Ariel selalu sukses membuat Anaknya mengiyakan ucapannya.
Sephora tersenyum, rupanya dia datang ke sana dengan persiapan yang benar-benar sangat matang hingga sudah menyiapkan beberapa photo gadis cantik yang sudah melewati tahap seleksi, ya tentu saja Sephora sendiri yang menyeleksinya.
" Lihat photo ini, di belakang photonya ada nama mereka, orang tua mereka, pokoknya bio data lengkapnya. "
Ariel dan Grade mengambil photo itu dan membaca identitas mereka. Sedangkan para suami memilih pergi karena tak mau ikut campur dalam urusan itu.
" Semoga saja kita tidak terkena imbasnya. " Gumam Daniel yang langsung di angguki oleh Leo dan Onard.
***
" Aku yakin sekali mereka semua pasti sedang merencanakan hal buruk untuk kita! " Ucap Mike yang tahu benar bagaimana sifat Ibunya. Saat ini dia tengah berada di sebuah restauran untuk makan siang bersama Mario dan Wiliam.
" Bukan mereka kalau tidak merencanakan sesuatu yang mengejutkan. " Ujar Mario lalu memakan makanannya dengan wajah datar tak berekspresi membuat Mike berdecih sebal. Dia itu sebenarnya paling sebal kalau berbicara dengan Mario, selain tak memiliki ekspresi seperti kebanyakan orang saat bicara, Mario juga sangat sering membuat orang kehabisan kata-kata. Padahal apa yang sedang di bicarakan ini termasuk hal yang sangat penting untuk dirinya juga Mike dan Wiliam.
" Kalau dari ulah kita terakhir kali, firasat ku mengatakan kalau kita pasti akan segera di paksa untuk menikah. " Ujar Wiliam dengan gampang dia bisa menebak pemikiran orang tua mereka yang diperlihatkan degan jelas melalui sikap dan cara bicara mereka beberapa waktu terakhir ini.
" Sialan! Ini semua karena kalian berdua yang tidak bisa menjaga barang haram dan kotor milik kalian itu! " Maki Mario lagi-lagi tak berekspresi membuat Wiliam dan Mike menjadi kesal sendiri. Bisa-bisanya memaki batang kebanggaan seorang laki-laki dengan sebutan barang haram dan kotor tapi mimiknya datar, sialnya Mario juga begitu menikmati makanan dengan lega meski sukses membuat partner makan siangnya kesal sampai ubun-ubun mereka serasa mendidih.
" Hei pria wajah lurus, lebih baik millik kami di sebut haram dan kotor karena setidaknya kamu bisa menunjukan kalau kami adalah pria normal dan mampu. " Ucapan Mike langsung mendapatkan anggukan setuju dari Wiliam.
" Pria normal tidak akan selesai dalam hitungan detik. Coba periksakan diri deh, jangan-jangan kau terlalu banyak colai sampai mengalami ejakulasi dini. " Ucap Mario lalu kembali menyuapkan makanan ke mulutnya, dan masih saja berwajah datar membuat Mike bangkit dari duduknya menatap kesal serasa ingin menelan Mario sampai habis.
Bersambung.