Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 106



Leo membuang nafas panjangnya setelah Ariel menceritakan bagaimana keadaan Sephora, juga mengenai keinginannya untuk dikirim ke tempat yang jauh. Sebenarnya bukan tidak ingin membantu, hanya saja jika bisa lari dari sini sekarang, bukan berarti di masa depan akan bebas begitu saja. Bagaimanapun anak yang ada di perut Sephora adalah milik Daniel, dan entah mengapa feeling Leo mengatakan jika pasti ada kesalahpahaman di antara mereka yang perlu di luruskan.


Leo meraih tangan Ariel, membawanya ke dalam pelukannya dan mengusap lembut kepala Ariel.


" Akan janji akan membantu, kau jangan terlalu memikirkan masalahnya Sephora, karena beberapa hari ini kau sibuk memikirkan Sephora tapi lupa kalau masih ada aku. "


Ariel terdiam tak bisa menjawab, bukanya tidak ingat kalau ada Leo yang harus diperhatikan, tapi dia sengaja mengurangi komunikasi dan menyibukkan diri agar tidak terlalu fokus memikirkan uang tidak-tidak dan pada akhirnya malah hanya akan merasa kesal setiap saat bersama dengan Leo. Nyatanya pelukan Leo juga dia rindukan, aroma tubuh pria itu, dan hangat yang menyeruak dari pori-porinya seolah menyusup masuk ke dalam tubuhnya sehingga dia bisa merasakan kehangatan itu.


" Besok aku ada pemeriksaan kesehatan bulanan, kau mau ikut juga tidak? "


Ariel menghela nafas, memang dunia orang kaya itu di luar jangkauannya. Bagaimana tidak? Dia saja yang memeriksakan kesehatan menyeluruh hanya akan dia lakukan enam bulan sekali, itu pun dia merasa sangat dekat waktunya. Ah, maklum saja, pemeriksaan kesehatan menyeluruh kan lumayan mahal.


" Kenapa harus serajin itu sih? "


Leo mengeratkan pelukannya.


" Kakek itu sangat mudah khawatir. Setiap melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh tiap bulan, aku harus membawa hasilnya untuk dia periksa sendiri. Maklum saja, dia sudah pernah merasakan anak kandungnya beserta menantunya, jadi dia merasa kalau aku dan juga Onard adalah keluarga yang tersisa, dan juga tanggung jawabnya. "


Ariel paham benar jika kakek memang sangat perhatian, jadi biarkan lah saja toh hanya pemeriksaan bulanan juga baik untuk Leo juga.


" Besok ikut aku ya? Kita sama-sama cek kesehatan. "


" Ah, aku malas. Bisa seharian penuh di rumah sakit, pasti juga lelah sekali harus periksa ini itu. "


" Tidak juga, pokoknya besok temani aku, sekaligus ikut cek kesehatan juga. "


Ariel membuang nafas sebalnya, sudah lah! Mau menolak juga sepertinya percuma, selama ini juga dia sudah banyak menolak, jadi biarkan saja kali ini dia menuruti keinginan Leo, anggap saja untuk mengganti beberapa waktu terakhir ini yang sudah sering membuat Leo kesulitan.


Seperti rencana mereka, Ariel dan Leo sudah berangkat ke rumah sakit, sementara Sephora di rumah sudah mulai berkemas karena dia merasa yakin sebentar lagi pasti Leo akan membantunya untuk bisa kabur dari Daniel.


Sesampainya di rumah sakit, Ariel dan Leo menjalani serangkaian pemeriksaan, mulai dari pemeriksaan jantung, pemeriksaan Radiologi, pemeriksaan laboratorium, kolestrol, gula darah, fungsi hati, ginjal, dan masih ada beberapa yang lainnya lagi. Mereka mulai menjalani serangkaian proses panjang itu mulai dari pukul delapan pagi, dan ini sudah pukul empat sore, akhirnya mereka bisa bernafas lega karena semuanya sudah selesai, dan hanya tinggal menunggu hasilnya beberapa jam kemudian.


Tadinya Leo ingin mengajak Ariel untuk berjalan-jalan terlebih dulu dan makan bersama sembari menunggu hasil pemeriksaa menyeluruh mereka, tapi karena ada penghilang telepon yang menurut Leo itu penting, maka sebentar Leo mengantar Ariel untuk pulang, sementara untuk hasil pemeriksaan kesehatan biar nanti Win atau dia sendiri yang akan mengambilnya.


Setelah mengantar Ariel untuk pulang, Leo bergegas pergi membuat Ariel kebingungan sendiri, dan juga menjadi curiga lagi.


***


Daniel menatap istrinya dengan tatapan datar tapi begitu terasa menyesakkan untuk istrinya. Selembar kertas yang di peroleh dari pengadilan agama, surat permohonan untuk bercerai itu tergelatak di meja dan sudah di tanda tangani oleh Daniel membuat istrinya merasa tak terima tentunya.


" Berhenti menatap ku seperti itu, aku tidak ingin bercerai! "


Daniel membuang nafas kasarnya, sungguh kalau bukan wanita maka tida tahu sudah berapa pukulan melayang di wajah istrinya itu. Padahal sudah jelas rumah tangga yang mereka jalani sudah tidak sehat sejak lama, tapi hanya karena uang saja dia terus ingin mempertahankan hubungan yang bahkan lebih sampah dari pada yang mereka rasakan.


" Terserah kau saja, ada atau tidak tanda tanganmu tetap saja aku bisa menceraikan mu. " Daniel bangkit dari duduknya, dia yang sudah amat muak itu tentu saja malas berlama-lama disana. Selama ini juga dia hampir tidak pernah tidur di rumah dimana istrinya tinggal. Dia lebih memilih untuk tinggal di rumah sederhana yang ia beli dari sahabatnya.


" Kau tidak boleh melakukan ini padaku, Daniel! "


Ucapan itu membuat kaki Daniel yang sudah dua langkah melaju terpaksa berhenti. Dia menatap kembali wajah istrinya setelah ia membalikkan tubuh dengan tatapan dingin.


" Kau hanya butuh uang ku kan? Jangan khawatir, aku akan memberikan uang untukmu meski kau sama sekali tidak memiliki hak apapun karena muka dari rumah ini aku yang membelinya. "


" Kita sudah enam tahun bersama, harta gono-gini tentu saja ada! Tapi aku tidak ingin bercerai! "


Daniel terkekeh, dia menatap istrinya dengan tatapan tak percaya.


" Kau lupa ya? Saat aku mencicil rumah ini, aku pernah sekali meminta tolong untuk kau bayar dulu satu bulan saja, tapi kau mati-matia menolak meski bisnis mu saat itu sedang jaya dan kau punya banyak uang. Aku malu membicarakannya, tapi aku juga ingin kau ingat satu hal saja, selama kita menikah apa yang kau berikan padaku? Membeli air minum saja kau ogah, dan memilih melihatku pusing meminjam uang kesana kemari hanya untuk memberi makan manusia yang punya banyak uang. Aku tahu itu uangmu, tapi tidak bisakah kau membantuku kala itu? "


Wanita itu mengepalkan tangannya menahan malu. Memang benar dia pernah melakukannya, kala itu dia benar-benar kesal sekali dengan Daniel yang tidak bisa menghasilkan uang karena bisnisnya hancur, dia yang sedang jaya sibuk memikirkan bagiamana caranya memperbanyak uang agar tidak jatuh seperti Daniel dan merasa sayang kalau ingin menggunakan uang itu Meksi untuk kebutuhannya juga. Tapi siapa sangka rasa cintanya terhadap uang dan niatnya yang ingin terus memperbanyak uangnya malah membuat dia terjerumus dan menjadi salah satu korban penipuan.


" Sadarlah, jika kau ingin menuntut uang dariku, maka akan aku berikan sesuai dengan yang aku anggap pantas. "


" Aku bukan hanya butuh uang! "


" Bohong! Kau pikir aku tidak tahu kenapa kau menolak bercerai denganku selama ini?! Sadarlah! Atau aku akan mengatakan segalanya yang jelas membuatmu sangat malu! "


Bersambung.