Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 51



Presdir Nard ( Leo ) Menahan kekesalannya karena harus melihat Ariel duduk berdampingan dengan Leo ( Win ) Padahal sudah diperingatkan untuk jangan duduk di dekat pria itu, meksipun memang Leo adalah suaminya, tali masalahnya adalah Win yang sedang memerankan Leo jadi mana mungkin dia bisa menerima istrinya duduk berdampingan dengan Win.


Andai saja bukan karena Mark yang terus menerus mendesak, Ariel benar-benar tidak akan pindah, lalu duduk merapat bersamaan dengan Leo kutukan alias Win.


Pembicaraan kali ini adalah untuk membahas tentang bagaimana perkembangan RC selama Nard menjabat sebagai Presdir, dan tentu saja Leo sebagai Direktur utama yang hampir tidak pernah menunjukkan diri dan biasanya akan bekerja di balik layar. Presdir Nard, sebenarnya di buat seolah seperti boneka dari Leo sendiri. Jadi wajar saja jika Paman Daris, Mark, dan sekongkol mereka berpikir Leo tidak akan bisa melakukan apapun tanpa Presdir Nard.


Jika ada yang bertanya kenapa tidak Mark saja yang di utus menjadi Presdir? Jawabannya adalah, Mark pernah di tempatkan sebagai Presdir sekitar delapan tahun lalu, tapi karena Mark adalah anak yang amat lepas, bebas, manja, dan ditambah lagi kekurangan pengalaman, jadilah RC mengalami kerugian besar dalam jangka waktu dua bulan saja. Presdir Nard alias Leo bukan tanpa proses bisa menjadi seorang Presdir. Dengan segala bekal dari pendidikan yang ia terima, dia yang memang harus menjadi pemimpin akhirnya naik perlahan-lahan. Mulai dari staf biasa, butuh empat tahun, dan akhirnya dia bisa di posisi ini, dan tentu saja dia harus membawa embel-embel Leo agar bisa cepat sampai di posisi pemimpin karena kalau tidak, empat tahun tentu saja tidak akan mengantarnya secepat ini.


" Nard, aku dan juga Mark berencana untuk tinggal menetap disini, jadi kami memutuskan untuk ikut bergabung memajukan RC bersama denganmu, dan juga Leo, bagaimana menurutmu? "


Leo tahu benar jika memang itu lah tujuan mereka kembali. Dulu, setelah hampir membuat RC bangkrut, mereka menyelamatkan diri dengan kabur seperti tak memiliki perasaan juga seperti seorang bajingan. Tapi begitu dia terus memantau RC beberapa tahun terakhir yang terus naik dengan sangat siginifikan, mereka seperti tokoh penting yang seolah-olah sangat di butuhkan di dalam RC dan ikut tergabung dalam usaha RC hingga sampai detik ini.


" Jadi, posisi apa yang anda inginkan, Tuan Daris? " Tanya Presdir Nard, sebenarnya dia tahu benar apa yang di inginkan pria paruh baya itu, tapi apakah Presdir Nard yang selama ini merangkap perannya sebagai Direktur utama akan menyerahkan hasil kerja kerasnya untuk dihancurkan Ayah dan anak itu? Heh! Mimpilah saja!


" Tenang saja, aku tidak se-maruk yang kau pikirkan, terserah kau akan menempatkan kami di bagian apa, hanya saja tempat itu haruslah tempat dimana kami bisa di hormati, dan juga tetap terlibat dalam berjalannya RC secara langsung. "


Presdir Nard tersenyum tipis, sungguh sangat tidak bisa berbicara dengan benar. Bukankah tadi dia bilang dia bukanlah orang yang Maruk dan tidak masalah dimana akan di tempatkan posisinya? Lalu kenapa memberikan syarat yang tetap memaksanya untuk mengikuti keinginannya? Sungguh sangat tidak konsisten dalam berbicara, tapi ya memang seperti itulah dia, jadi bukan hal yang mengherankan lagi.


" Baiklah, beri aku waktu untuk berdiskusi dengan Mister L, anda adalah saudara kandung Mister L, jadi saya harus benar-benar berdiskusi, saya takut anda tidak luas nantinya. "


" Ngomong-ngomong, kenapa kau begitu diam sekali hari ini, Leo? Apa kau tidak biasa bertemu orang penting yang membicarakan perusahaan? " Mark tersenyum mengejek. Win, pria yang menggantikan Leo itu kini menatap marah Mark. Bukan karena tatapan menghina yang di arahkan padanya, tapi dia merasa marah karena Mark begitu menganggap rendah Tuannya. Apalagi tatapan mengejek itu benar-benar tidak dia tutupi, Win semakin menjadi kesal, bahkan hampir saja dia bangkit dan meninju wajah Mark sekuat tenaga, dan Win pastikan kalau Mark pasti akan meninggal detik itu juga. Tapi saat dia melihat ke arah Presdir Nard yang juga adalah Leo si Tuannya, maka dia hanya bisa mengikuti maksud dari tatapannya yang memintanya untuk tetap tenang.


" Suamiku sedang tidak enak badan, maaf kalau diamnya membuatmu tersinggung. " Ariel mewakili Win untuk bicara, karena tidak mungkin kan Win menjawab dengan suaranya yang sama sekali tidak mirip seperti Leo.


" Baiklah, kami harus segera pergi ke cabang karena ada hal yang ingin kami urus. " Ucap Paman Daris, tak lama kakek bangkit tanpa kata, mimiknya masih seperti pria tua yang dingin, dan arogan, tapi begitu akan keluar dari sana, kakek sempat terlihat tersenyum tipis kepada Ariel. Mark, pria itu tinggal disana karena harus segera memulai rencananya untuk mendekati Ariel.


" Ariel, kau dan Leo sedang bertengkar ya? " Tanya Mark dengan wajah penuh perhatian.


Ariel menggeleng dengan cepat untuk menjawab pertanyaan yang malas sekali untuk dia jawab.


" Ariel, kau jangan terlalu terbebani ya? Orang yang cacat dan cenderung tidak bisa melakukan apapun kadang-kadang suka kesulitan menahan diri, emosinya mudah sekali naik hanya karena hal-hal kecil saja. "


Presdir Nard menghela nafas, di dalam hati rasanya ingin sekali dia meninju Mark sampai meninggal.


" Mister L adalah pria yang sangat cerdas, dia juga sangat menyayangi istrinya, dan menjaga istrinya dengan baik, saya rasa tidak mungkin mereka bertengkar. " Jawab Presdir Nard yang terlihat lebih tahu dan membuat Leo berdecih tak percaya.


" Menyayangi, menjaga? Kau ini tidak salah bicara ya Nard? Leo kalau tidak ada Ariel mana bisa dia melakukan banyak hal? Benar-benar sangat kasihan, tapi mau bagaimana lagi? Tuhan kan sudah menggariskan itu sebagai takdir yang harus dia jalani. "


Ariel, dia hanya bisa diam saja saat membicarakan tentang perusahaan yang dia sendiri kurang memahami nya. Tapi, mendengar dan melihat sendiri bagaiman Mark terus mendesaknya seolah ingin menunjukkan padanya bahwa Leo adalah pria cacat yang tidak bisa di andalkan, juga tidak bisa melakukan apapun tanpa orang lain, tanpa dirinya juga. Sekarang tidak lagi, dia tidak ingin terus perdebatan untuk hal yang tidak penting itu terus berlanjut membuat telinganya bising.


Ariel meraih tangan Leo ( Win ) Menggenggamnya dengan lembut, juga menatapnya penuh kasih seperti tatapan Ibu peri.


" Sayang, maaf karena semalam aku sudah sangat lelah, dan pada akhirnya aku tidak bisa memenuhi tugas ku sebagai istri. " Ariel tersenyum semakin manis, tangannya juga semakin menggenggam erat semakin hangat, dia juga tiba-tiba mencium pipi Leo ( Win ) untuk membuat Mark berhenti bicara.


Bersambung.