Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 45



Ariel memaksakan senyumnya saat mulut Mark terus mengoceh kesana kesini tak jelas. Entah tidak sadar jika Ariel sangat muak, ataukah Mark itu memang sangat suka mengobrol tidak jelas begini. Awalnya Ariel masihlah saja meladeni dengan jawaban sopan dan tidak lupa meninggalkan senyum untuk tidak menunjukkan betapa malasnya dia meladeni Mark. Tapi makin lama Mark makin menjadi, bahkan terang-terangan mengatakan banyak hal yang tidak pantas.


" Ariel, kau bisa pergi denganku saat Leo tidak memuaskan mu dengan baik. Aku mengatakan ini bukan karena ingin merendahkan mu, tapi karena aku jatuh hati padamu di saat pertama kali kita bertemu. "


Ariel menarik turun tangannya yang tadi berada di atas meja, kini menggenggam erat ujung baju yang ia gunakan. Sedari tadi sudah berbosa-basi tentang kehidupan rumah tangganya, tapi masih tidak puas juga hingga pada akhirnya mengatakan hal tidak masuk akal semacam itu. Pergi dengannya saat tidak merasa puas? Heh! Bahkan dia hampir tidak bisa berdiri dengan benar karena pria yang sedari tadi di klaim tidak bisa memuaskannya secara fisik karena cacat di tubuhnya.


Ariel tak bisa lagi tersenyum sekarang, dia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menjawab ucapan yang sangat menyakiti hatinya itu.


" Jangan khawatir, Mark. Aku sudah sangat amat cukup oleh Leo kok. "


Mark menghela nafas, sebenarnya dia benar-benar menyukai Ariel dari wajahnya. Selian itu Ariel juga nampak seperti tipe idealnya, ditambah lagi dia merasa bahwa apa yang dimiliki Leo sekarang ini seharusnya menjadi miliknya karena merasa jika dia lebih pantas di banding Leo yang cacat itu.


" Ariel, Leo adalah orang yang sangat introvert, dia juga sangat suka berbicara kasar sedari kecil, pasti tidak mudah untukmu bukan? Kau pasti terpaksa menikahi Leo karena tekanan dari kakek kan? Sudahlah Ariel, kau bisa membohongiku dengan mengatakan baik-baik saja bersama Leo, tapi aku tahu kok kau sangat tersiksa kan? "


Ariel menghela nafas, dia mengangguk hanya untuk kata tersiksa. Iya, dia tersiksa dengan kemampuan Leo yang seperti robot. Ah, tidak tahu kapan baterai pria itu habis, semoga saja dia masih bisa libur setelah semalam.


" Tuh kan, kau mengiyakan tanpa sadar? Kau benar-benar tersiksa ya? Pergi saja denganku, Ariel. Aku akan baik-baik menjagamu, aku pastikan kau luas secara lahir dan batin. "


Ariel menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ingin sekali mulutnya berteriak dan mengatakan bahwa Leo itu bisa berdiri! Bukan cuma kakinya saja, cucungnya juga bisa berdiri! Ah, malu deh kalau mengingat itu, apalagi kalau ingat benar saat Leo berada di atas tubuhnya, menatap dengan penuh maksud, ciuman serta kecupan dari Leo seperti kembali dia rasakan. Ah! Benar-benar tidak tahan hingga merinding parah, dan dia tanpa sadar sampai mengusap kedua sisi lengannya untuk menghilangkan rasa merindingnya.


Mark tersenyum miring seperti merasa jika ucapannya mampu mempengaruhi Ariel.


" Ariel, kau pasti merinding membayangkan tubuh Leo yang banyak bekas luka, pasti menjijikkan ya? "


Tubuh Leo? Hah....? Ariel malah jadi menelan salivanya mengingat betapa besar tubuh Leo, begitu lebar hingga bisa menyembunyikan dua tubuh sepertinya. Ya ampun, sekarang Ariel benar-benar mengingat betapa indahnya tubuh Leo tanpa busana, atau sehelai benang pun. Dari wajah, ya! Dia tampan! Pindah, dada, lengan, perut yang mirip seperti manekin di pusat belanja, bagian cucungnya yang sangat keren dan em, besar itu, aduh! Panas dingin jadinya mengingat semua itu, bahkan kaki Leo benar-benar sangat gagah.


" Ariel, percayalah padaku, Leo tidak akan memberikan masa depan pasti untukmu. "


Ariel memaksakan senyumnya, dia benar-benar tidak mengerti bagaimana hubungan keluarga sebenarnya di jaman sekarang. Dia dan Sephora juga tidak bisa akur, Mark dan Leo juga tidak bisa akur, parahnya Mark seperti begitu merendahkan habis Leo, padahal Leo sekalipun tidak pernah membicarakannya barang sekalipun.


" Sayangnya, aku juga tidak bisa percaya denganmu, Mark. " Ariel tersenyum di akhir kalimat agar Mark tak terlaku tersinggung.


Di ruangan lain.


Leo tersenyum menatap pamannya yang tak henti-hentinya mengatakan kalimat pujian tapi berujung cacian. Sudah biasa, itulah sebabnya Leo sama sekali tak terpancing emosi sedikitpun.


" Istriku adalah keluarga, Paman. " Jawab Leo singkat.


" Istri hanyalah istri, suatu saat juga bisa menjadi mantan istri dan orang asing. Apalagi kau juga tidak mungkin bisa memiliki keturunan kan? Istrimu pasti akan jenuh nantinya, jadi lebih baik ikuti saja saran Paman. "


Leo kembali tersenyum, jujur saja perkataan itu benar-benar mengaduk emosinya. Kalau saja pembahasannya hanya menangani cacat dan tidak mampu, maka dia masih bisa menerimanya dengan santai, tapi kalau sudah menyangkut istri, dia benar-benar sangat kesal. Maklum saja, untuk membuat hati Ariel luluh juga sangat sulit, jadi bisa saja ucapan pamannya tadi benar kalau nanti suatu hari Ariel bisa akan menjadi orang asing untuknya.


" Jangan khawatir, Paman. Aku akan memenuhi kebutuhan istriku dengan baik, jadi memikirkan untuk meninggalkan ku tidak akan pernah terlintas di pikirannya. "


" Kebutuhan materi tentu saja kau mampu, bagaimana dengan yang lain? Bagaimana kalau kau pergi ke luar negeri saja untuk berobat bersama istrimu? Paman akan carikan rumah sakit terbaik, agar kau bisa sembuh, bagaimana? "


Leo terdiam sebentar, sebegitunya kah ingin dia pergi dari sini? Dengan dalih berobat ke luar negeri, lalu di sana akan disambut oleh maut? Hanya Tuhan yang Tahu seberapa licik sebenarnya pria bernama Daris itu.


" Aku nyaman dengan keadaan ku, istriku juga tidak merasa keberatan, jadi mohon maaf kalau aku harus menolak tawaran dari Paman barusan. "


Paman Daris menatap dingin, tapi tidak secara langsung karena dia tengah menatap lukisan anggota keluarganya yang lengkap bersama istri dan anak mereka.


" Leo, kau ingat kan hari dimana Ayahmu merayakan ulang tahun yang terakhir? "


Leo mulai tak bisa mengontrol dirinya, rahangnya mengeras, tangannya juga mencengkram kursi rodanya hingga gemetar.


" Ayahmu mengatakan barusan kalimat yang dia yakini sebagai doa, dia meminta kepada Tuhan agar kita semua hidup dalam bahagia, kita saling menyayangi, dan- "


" Hentikan! " Leo tak lagi bisa menahan diri, membicarakan Ayahnya dari mulut kotor dan seluruh tubuh penuh dengan darah Ayahnya, apakah dia pantas?


Paman Daris tersenyum seraya memutar tubuhnya menatap Leo yang terlihat marah.


" Ayahmu itu sangat menyayangi mu dan juga Ibumu, tapi jangan lupa kalau Ayahmu juga bukan pria setia, dia itu menyimpan baik-baik wajah brengseknya agar nampak sempurna di mata mu dan Ibumu. "


" Aku peringatkan untuk berhenti! "


Bersambung.