Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 38



Presdir Nard tersenyum memandangi wajahnya dari balik pantulan kaca. Dia tahu pada akhirnya semua akan terungkap, jadi dia pikir untuk memberanikan diri mengakui apa yang seharunya diketahui oleh wanitanya. Leonard, itu adalah namanya juga.


" Win? " Panggil Presdir Nard, lalu tak lama datanglah Win dan dua orang lainnya dengan masing-masing membawa koper di tangan mereka.


" Tuan, anda sudah akan kembali? "


" Tentu saja, aku harus kembali menemui istriku kan? " Presdir Nard tersenyum, lalu duduk di kursi roda yang Win bawa bersamanya. Presdir Nard tersenyum, lalu dia orang tadi mulai menempelkan kulit buatan yang di desain sangat persisi seperti kulit yang terkena luka bakar sangat parah. Iya, Presdir Nard dan juga Leo adalah satu orang yang sama.


" Tuan, kakek anda menghubungi saya dan mengatakan kalau paman anda akan datang kemari, tepat waktunya mungkin lusa sudah sampai. "


Ah, karena Leo dan Presdir Nard adalah satu orang, mati kita panggil saja dia dengan Leonard ya?


Leonard mengepalkan tangannya, mengeraskan rahangnya menahan kekesalan karena harus mendengar kedatangan orang yang paling tidak ia sukai.


" Apa pengawalan kepada Nona Ariel harus segera di perketat? "


Leonard menghela nafas, sekarang ini pasti pamannya sudah mendengar kabar pernikahannya jadi segera datang ke sana untuk memastikan. Mungkin pria itu tidak akan berani menyakiti Ariel secara langsung karena Ariel sangat dekat dengannya.


" Bukan Ariel, tapi jaga baik-baik Ibu mertuaku. Dia pasti akan menggunakan Ibu mertua untuk menjadikan Ariel bonekanya, dan bisa jadi juga hal yang lebih mengerikan akan terjadi kalau kita tidak sigap. " Ucap Leonard.


" Baik, saya akan segera mengerahkan beberapa orang handal untuk menjaga Ibu mertua anda, dan saya akan menambah dua orang terbaik juga untuk menjaga Nona Ariel lebih ketat. "


" Iya, jalankan secepatnya. "


Win terdiam sebentar memandangi Tuannya yang kini tengah di pasangkan kulit buatan di wajahnya. Tidak mudah, dan menurut Win pasti sangat sulit sekali menempelkan kulit buatan itu agar tidak membuat kulit Leonard tetap sehat, tapi juga sebisa mungkin untuk terjaga agar tidak lepas tiba-tiba.


" Tuan, sampai kapak anda akan terus berbohong seperti ini? Sudah dua puluh lima tahun semenjak kejadian itu, apakah anda sungguh akan terus seperti ini? "


Leonard terdiam sebentar, jika boleh jujur dia juga tidak ingin terus seperti ini, tapi dengan begitulah dia bisa bertahan hidup hingga sekarang.


" Tuan, maaf kalau saya lancang bertanya seperti tadi. " Ujar Win yang merasa tidak enak begitu minat Leonard terdiam seperti tak berdaya untuk menjawab pertanyaan darinya.


" Tidak apa-apa, Win. Aku sendiri yakin benar dengan kekuatan ku, hanya saja untuk mengejutkan orang itu, aku harus bertahan beberapa waktu setidaknya sampai lusa kan? "


Win mengangguk paham. Situasi di keluarga kaya seperti Leonardo bukanlah seperti keluarga kaya yang bahagia. Perebutan harta warisan yang diturunkan dari kakek moyang mereka seolah adalah hal yang wajar, jadi Leonard juga sudah mempersiapkan diri agar bisa melawan pamannya sendiri demi bertahan untuk apa yang memang menjadi hak nya.


" Apakah anda yakin itu tidak akan mengejutkan Nona? "


Leonard lagi terdiam, benar sekali! Mungkin Ariel akan sangat terkejut dengan apa yang akan terjadi nanti, tapi mau bagaimana lagi? Mau tidak mau semua ini harus dia lakukan.


" Tuan, cobalah untuk jujur kepada Nona Ariel. Mungkin untuk sebuah dongeng, tokoh wanita akan sangat bahagia ketika mengetahui pasangan prianya yang selama ini jelek nyatanya adalah seorang pria gagah nan tampan. Tapi, Nona Ariel tidak melihat anda dari tampan atau tidak, saya memiliki firasat kalau Nona Ariel malah akan menolak anda kalau sampai anda tiba-tiba mengejutkannya tanpa memberi pengertian dulu. "


Leonard menelan salivanya. Ah, benar-benar PR sekali! Kalau mengingat wajah marah Ariel, entah mengapa juga di menjadi lumayan tertekan. Tapi apa yang dikatakan Win memang ada benarnya juga. Nanti kalau dia dengan percaya dirinya mengakui bahwa Leo dan Presdir Nard adalah orang yang sama, bukankah yang akan diterima Leonard dari Ariel adalah tinjuan maut?


" Win? "


" Iya Tuan? "


Win menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


" Bagaimana kalau sebuah ciuman? Biasanya wanita akan hilang rasa marahnya begitu di cium? "


Leonard menghela nafas kasarnya.


" Gila ya? Masa tiba-tiba aku mencium begitu saja saat Ariel sedang marah? Yang masuk akal saja kalau memberikan saran! "


Win menghembuskan nafas kasarnya, duh mana tahu dia bagaimana caranya membujuk wanita yang sedang marah? Yang dia tau selama ini kan hanya membujuk Leonard yang kadang mudah sekali berubah mood. Apalagi setelah menikah dengan Ariel, dan parahnya akhir-akhir ini Leonard sering tersenyum sendiri, lalu merengut sendiri, membuat Win yang tidak tahu apa-apa jadi harus sibuk mencari tahu apa kesalahannya, dan dia harus bagaimana hingga hampir setiap hari dia merasa stres sendiri.


" Bagaimana kalau pelukan? "


" Ah, aku tidak berani memeluk kalau Ariel dengan marah. "


" Kan selama ini anda sukses besar dalam bersikap dingin, masa memeluk saja tidak berani? "


" Itu dia masalahnya! Aku sudah sok cool dengan berwajah dingin, berwibawa, masa iya aku memeluk dia begitu saja saat dia marah? Kalau bisa sih aku saja yang dipeluk, jadi aku bisa berpura-pura menolak pelukannya. "


Hah?! Win rasanya ingin menggeleng heran, tapi sayangnya dia tidak seberani itu.


" Jadi, Tuan ingin saya mengatakan apa? "


" Ah, Win! Kepala mu minta di sleding ya?! Kan aku tanya bagaimana caranya membujuk wanita saat marah? "


Salah lagi kan? Batin Win menggerutu.


" Tuan, maaf kalau saya ikut campur. Jika ingin membujuk wanita yang sedang marah, anda hanya perlu katakan bahwa wanita anda itu cantik, tapi lebih cantik lagi kalau tersenyum, lalu peluk dan minta maaflah, begitu Tuan. " Ucap salah satu pria yang bertugas untuk memasangkan kulit buatan ke wajah Leonard.


" Jangan sok tahu kau! "


" Saya kan punya dua istri, ya begitu lah cara saya membujuk satu persatu dari mereka kalau sedang marah. " Ujarnya dengan percaya diri.


" Dasar bajingan! " Ucap Win dan Leonard bersamaan.


Setelah semuanya selesai, Win dan Leonard kembali ke rumah. Tak seperti biasanya, Aril kini menyambut kedatangan Leonard di depan pintu dengan senyum manis seolah mengalahkan biang gula.


" Selamat malam, suamiku? " Sapanya dengan manis. Leonard menelan salivanya, tapi dia memilih melihat ke arah lain karena tak berani menatap Ariel, iya iya iya, dia gerogi!


Setelah itu Ariel mengambil alih kursi roda milik Leonard dan membawanya masuk ke dalam kamar. Tak bertanya apa maunya, Ariel dengan santai membuka sepatu, baju, dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


" Bi biarkan aku mandi sendiri! " Ucap Leonard yang mulai tak tahan dengan sentuhan Ariel saat mengusap punggungnya.


Duh, bagaimana ini? Punyaku sudah bangun! Nanti kalau dia pindah ke depan dan melihat cucung ku, bukanya sudah bisa menjelaskan kalau aku tergoda olehnya?


Bersambung.