Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 22



Wiliam menatap Moza dengan tatapan marah begitu dia bangun dia menyadari benar dan mengingat bagaimana dia tidak sadarkan diri beberapa saat lalu. Tentulah Moza bisa melihat tatapan yang membuat matanya sakit itu, tapi mau bagaimana lagi karena semalam dia benar-benar tidak sengaja. Itu semua tentu saja karena Wiliam benar-benar sangat menjijikan dalam berucap. Mencium bibi, memainkan lidah, menggigit sedikit dan pelan. Belum lagi saat dia mengatakan menggerakkan tangan ke dada dan bokong, memasukkan tangan ke kain segitiga lalu menyusup memasukan, memasukan apa coba? Bagaimana tidak jijik mendengar semua itu bagi gadis yang tidak banyak memiliki pengalaman dalam hal semacam itu?


Moza, gadis itu sebenarnya sangat mudah sekali untuk menjadi seorang aktris, hanya saja Ayahnya mencegah mati-matian dan memintanya untuk fokus menempuh pendidikan. Semua itu bukan karena Ayahnya egois semata, tapi Ibu kandung Moza adalah seorang aktris dan pengalaman Ayahnya sangat tidak baik tentang aktris jadi dia benar-benar menjaga Moza untuk menjauhi hobi itu. Untunglah Moza juga paham, itu semua karena dia tahu bagaimana perjalanan Ayahnya membesarkan dirinya hingga sekarang, semetara Ibunya masih sibuk dengan dunia entertainment hingga sekarang dia sudah tidak muda lagi tapi masih terus ambisius ingin eksis di televisi sampai tidak ingat dengan Moza yang bahkan sudah dewasa.


Sekarang dia sudah menjadi seorang istri, meskipun hatinya menolak keras Wiliam sebagai suaminya, tapi kenyataan menyadarkannya bahwa tidak ada yang lebih baik selain hidup bersama dengan pasangan hingga mereka tua nanti. Benar, dengan sikap Wiliam yang memiliki selera tinggi dalam urusan wanita, dia juga bukan pria yang kekeh tidak bisa di goda, tapi Moza yakin benar jika Wiliam akan menjadi pria baik jika menanganinya dengan tepat. Dia suka dengan keindahan kan? Maka Moza hanya perlu menjaga keindahan dengan cara yang spesial agar keindahan yang di lihat oleh Wiliam tak pernah memudar.


Moza bangkit dari posisinya, dia mendekati Wiliam yang masih terus menatap kesal lalu meraih dagunya ketika posisi mereka sudah sangat dekat.


" Kau terus menatap ku seperti itu apa matamu tidak sakit dan perih? "


Moza tersenyum, sejujurnya menatap kedua bola mata Wiliam dengan jarak yang sangat dekat seperti itu sangat cukup membuat Moza merasa malu dan berdegup kencang jantungnya. Tapi, bagaimanapun hubungan mereka tida boleh berjalan di tempat, jadi dia harus menurunkan egonya, mundur satu langkah agar Wiliam memiliki kesempatan untuk maju ke arahnya.


" Tentu saja lebih sakit pukulan darimu, buktinya aku sampai pingsan. "


Wiliam semakin menatap kedua bola mata Moza dengan tatapan dingin tapi dia sama sekali tak berniat menepis tangan Moza yang masih menyentuh dagunya.


" Oh benarkah? Padahal aku baru sedikit memukulmu, tapi kau sudah pingsan seperti itu. Jadi, bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan yang tadi? "


Wiliam tersenyum miring, tatapannya nampak meremehkan ucapan Moza barusan.


" Cih! Kau hanya keren dalam menggerakkan tubuh, aku sih yakin kalau memang kau dan aku melakukan hubungan suami istri, aku malah akan seperti meniduri batang pohon pisang saja. "


Moza mengigit bibir bawahnya menahan kesal. Batang pohon pisang? Apakah maksudnya adalah gedebok pisang yang hanya akan diam saja? Hah! Kalaupun memang iya, apakah harus sampai di sebutkan seperti itu?


" Wiliam, apakah kau merasa takut dan tidak percaya diri untuk melakukan itu denganku? " Tantang Moza, sebenarnya jujur saja dia tidak ada pengalaman secara langsung, tapi dia juga sudah membaca beberapa artikel mengenai masalah ketika pasangan melakukan hubungan suami istri, jadi tentu saja dia yakin bisa melakukan semua itu dengan baik dan percaya diri seperti biasanya.


Wiliam terperangah tidak percaya, entah dari mana cara Moza menilai, tapi memang benar juga sih, hehe...


" Wiliam, punyamu itu apa cuma bisa berdiri hanya dengan wanita liar? "


Wiliam terdiam tak bisa berkata-kata karena cara menggoda Moza tetap saja amat kaku dan aneh menurutnya. Selama ini yang menggodanya bukan hanya satu atau dua wanita saja jadi dia benar-benar bisa membedakan mana wanita yang berpengalaman atau tidak. Moza, dia bahkan gemetar tapi hebatnya dia masih bisa menatap dengan berani seperti itu, dan benar-benar luar biasa hingga membuat Wiliam merasa Moza adalah wanita yang menarik dan berbeda.


" Jadi, bagaimana kalau hentikan ocehanmu dan biarkan aku menunjukan betapa berbedanya aku dengan tuduhanmu tadi? " Wiliam tersenyum miring dengan tatapan aneh yang membuat Moza tak bisa membalas ucapan itu.


Tidak, kali ini Moza tidak boleh mundur lagi.


" Oke, mati kita lihat betapa hebatnya aksimu. " Ucap Wiliam lalu tersenyum aneh.


Moza menelan salivanya sendiri, dia memaksakan senyumnya lalu menggerakkan tubuhnya untuk mencium bibir Wiliam. Sangat hangat dan lembut, hanya saja Moza tidak tahu harus bagiamana. Sebentar dia mencium bibir Wiliam, kaku turun mencium leher dan terus kebawah.


Dia benar-benar nol pengalaman tapi bertingkah sok hebat, hehe....


Moza terdiam ragu dan bingung saat dia merasa sudah waktunya untuk menyentuh bagian paling penting untuk seorang pria. Menurut video yang Moza tonton seharusnya dia membuka resleting dan membukanya kan? Moza mengikuti itu dan membuat Wiliam hampir saja terkekeh geli dengan tingkah Moza yang seperti anak-anak di matanya. Wiliam pikir hanya akan sampai di situ saja, tapi ternyata Moza benar-benar memberanikan diri melahap miliknya.


" Ah! "


Pekik Wiliam, bukan merasakan enak, tapi dia kesakitan karena Moza benar-benar tidak tahu cara melakukanya hingga Wiliam merasa sakit saat terkena gigi Moza.


" Aw! Ah, sudah! Sudah! Sakit sekali! "


" Sudah? Aku kan baru mulai? Masa kau menyerah secepat ini? " Ucap Moza menghentikan kegiatannya sebentar.


" Masalahnya kalau kau teruskan aku bisa jadi kasim! "


" Eh? "


" Eh apanya yang eh? Anu ku lecet nih?! " Protes Wiliam mencoba untuk bangkit masa bodoh saja dengan Moza yang masih bersimpuh di sana.


" Tidak bisa! Aku sudah bertekad jadi kau tidak boleh pergi! " Moza menahan duduk Wiliam, dia menatap Wiliam dnegan tatapan tajam serta mengancam membuat Wiliam waspada.


" A apa-apaan sih? Bertekad untuk apa?! Kalaupun ingin menggunakan mulutmu apakah tidak bisa lebih lembut? Kau tadi malah seperti ingin mengunyah anu ku! " Protes Wiliam sembari mengerakkan tangannya ingin menutup kembali penutup celananya.


" Kalau kau berani menutup resletingmu, jangan salahkan aku melakukan hal yang ekstrim ya? "


Wiliam terdiam sembari menatap Moza mencari tahu apakah ucapan itu serius? Yah, Moza benar-benar terlihat sangat serius membuat Wiliam menelan salivanya ngeri.


" Aw! Sakit, Moza! Aduh, apa kau tidak bisa menyingkirkan gigimu dulu?! Aw! Hei! Jangan begitu! Ah.....! "


Bersambung.