Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 52



Presdir Nard yang juga berarti Leo, pria itu tak bisa menahan tatapan marahnya melihat bagaimana Win mendapatkan sebuah ciuman yang seharusnya mendarat di pipinya. Seharusnya juga tangannya yang di genggam dengan begitu hangat itu, seharusnya dia yang mendapatkan tatapan lembut penuh cinta dari Ariel, seharusnya dia! Dia! Dia! Ah.....! Rasanya begitu kesal tak terbendung hingga pegangan sofa dimana dia meletakkan tangannya sampai tak berbentuk karena cengkraman tangan Presdir Nard, Leo.


Sial! Dia harus menahan kekesalan itu, dia harus menahan ya sampai si brengsek, bajingan, terkutuk Mark yang sedari tadi mengompor-ngompori Ariel sehingga ciuman sayang yang seharusnya miliknya malah mendarat di pipi Win itu terjadi. Tidak bisa tinggal diam tentang ini, Win, Mark, mereka berdua benar-benar tidak akan selamat dari kekesalannya nanti.


Win, pria itu benar-benar membeku tak berani berkutik, tatapan matanya benar-benar tertunduk karena sudah bisa menebak dengan pasti, Leo pasti sedang mendelik marah kan? Hah, benar-benar tidak akan selamat dari hukuman, padahal jelas ini bukan salahnya.


Ariel, dia justru begitu cuek tak perduli bagaimana Leo asli menatapnya dengan tatapan penuh amarah melambangkan kecemburuan yang membara luar biasa. Yang penting untuknya adalah mulut Mark agar diam dan tidak terus mengatakan hal-hal aneh tentang Leo.


Mark tersenyum miring, dia benar-benar bisa melihat bagaimana Ariel terlihat tak mencintai orang yang dia cium pipinya barusan. Tentu dia anggap ini sebagai keberuntungan dan yakin benar bahwa pada akhirnya dia akan dapat melancarkan rencananya dengan mudah seperti dugaannya.


" Ariel, nanti kita makan siang bersama apa kau setuju? "


Presdir Nard, pria itu benar-benar ingin sekali menjahit mulut sialan Mark yang terus saja membuat emosinya naik terus. Makan siang? Bahkan dia saja sebagai suaminya Ariel begitu jarang bisa makan siang bersama, maka jangan berani-beraninya mengajak istrinya makan bersama.


" Maaf Tuan Mark, hari ini Ariel begitu banyak pekerjaan. " Ujar Presdir Nard yang tidak rela istrinya di bawa pergi untuk makan siang bersama dengan si brengsek Mark itu.


" Nard, Leo saja diam saja kok. Kau kan hanya atasan, tapi jangan lupa kalau Leo adalah atasan mu. "


Presdir Nard mengeraskan rahangnya menahan kesal, rasanya ingin sekali memukul mulut sialan Mark agar diam dan tidak membalikkan ucapan sesuka hatinya.


" Maaf ya Mark, aku ini sedang ingin menempel terus dengan suamiku, beberapa hari terakhir ini, sepertinya aku gampang mual dengan orang asing, ah! Sepertinya aku sedang hamil deh. " Ariel mengusap perutnya seperti sedang menahan mual, sungguh dia tidak paham bagaimana berakting hamil, jadi semoga saja itu adalah akting yang lumayan menyerempet kearah sana.


Sebenarnya kata-kata itu tidak ada yang membuat Presdir Nard marah, hanya saja Ariel malah memeluk lengan Win seperti seorang istri yang begitu mencintai suaminya. Benar-benar ingin menghancurkan dunia, apalagi Win yang terlihat pasrah dan tidak menolak. Tangan, lengan, pipi, demi Tuhan tiga tempat itu akan dia beri pelajaran sepuasnya.


" Ariel, kalau ingin melawak tolong jangan berlebihan begitu Ariel, kaki Leo saja tidak bisa digunakan, lalu bagaimana mungkin barangnya bisa bereaksi? Asal kau tahu ya, laporan Dokter dari luar negeri mengatakan bahwa bagian pinggang sampai ke ujung kaki Leo itu sudah tidak bisa merasakan apapun, dan tidak bisa digerakkan sedikitpun. Ariel, aku dan Ayahku sudah memastikan itu, jadi jangan menutup-nutupi begitu ya? "


Ariel menaikkan sisi bibirnya dengan tatapan sebal, sekarang dia benar-benar tahu dan paham sekali mengapa Leo begitu repot-repot harus berakting cacat, bahkan harus memerankan dua tokoh sekaligus.


" Jadi, kita makan siang bersama saja, bagiamana? "


" Tidak bisa, Mark. Kan kau lihat sendiri, suamiku ini sangat kasihan kan? Sudah kakinya cacat, tubuhnya banyak bekas luka bakar, kalau aku tinggalkan bagaimana jadinya dia? Hari ini dia sedang diare parah, aku kan harus membersihkan kotorannya supaya dia tidak bau dan alergi pantatnya. Kalau kau begitu perduli padaku takut aku melewatkan makan siang, bagaimana kalau bantu aku membersihkan kotoran Leo? Yah, dengan begitu kan akan lebih cepat selesai tugasku sebagai istri. Oh iya, pantat Leo juga memiliki beberapa bisul dan koreng yang lumayan parah. Maklum saja, dia itu kan duduk terus, jadi yah perlu hati-hati, setelah membersihkannya harus di keringkan, memakaikan salep untuk bisul-bisulnya, memakaikan salep, lalu krim diapers agar tidak alergi saat memakai popok. "


Mark menutup mulutnya menahan mual, bahkan dia sudah memegang perutnya dengan satu tangan karena tak tahan dengan cerita Ariel.


" Begitulah pekerjaanku setiap hari, Mark. " Ariel mengangkat tangan kirinya, menolak balik dengan tatapan sedih, dan itu dia lakukan dengan sengaja dan penuh maksud.


" Tangan kirinya ku ini adalah tangan yang aku gunakan untuk menyeka boking Leo, aku merasa tidak pantas kalau makan bersama mu membawa tangan ini, tapi aku juga tidak mau memotongnya karena tidak sanggup kalau jadi orang cacat. Leo kan sudah tidak bisa menggunakan kakinya, masa iya aku istrinya tidak punya tangan, tidak mungkin kan aku meminjam tangan kiri mu saat ingin membersihkan kotoran dari bokong Leo? "


" Huek! " Mark segera bangkit dari duduknya karena semakin tak tahan membayangkan betapa joroknya aktifitas harian Ariel sebagai istri untuk merawat Leo suaminya. Menyeka kotoran Leo? Diare parah? Apa-apaan sih Ariel? kenapa hal menjijikkan seperti itu dia ceritakan dengan amanat mendetail? Belum lagi saat Ariel menunjukkan tangan kirinya sembari bercerita, dia seperti merasakan sendiri saat tangan menyentuh bokong Leo dan menyeka nya. Ah......! Mual, mual sekali! Begitu sampai di toilet, tepatnya toilet di luar ruangan Presdir Nard, Mark memuntahkan semua isi perutnya hingga bersih dan menjadi kemas setelahnya.


" Ariel, padahal kau amat cantik, tapi kenapa tangan ku begitu akrab dengan kotorannya Leo? Kau ini apa tidak jijik hah?! Pantas saja kau terlihat sedih memandangi tangan kiri mu, aku saja yang hanya mendengar cerita mu jadi jijik dengan tangan kiri mu. " Gumam Mark seraya membenahi posisinya karena sangking lemasnya, dia sampai duduk di lantai toilet setelah muntah begitu banyak.


Di dalam ruangan Presdir Nard.


" Win, pipi, lengan, dan juga tangan mu, mereka yang bersalah harus mendapatkan hukuman. " Ucap Presdir Nard dengan tatapan kesal, dia bahkan masih meremas pegangan sofa, sementara matanya tak henti-hentinya menatap tangan Ariel yang memegang lengan Win tak berkesudahan.


Ariel, dia yang menyadari tatapan penuh kecemburuan itu akhirnya segera melepaskan tangannya dan menjauh dari Win. Sebenarnya bukan nyaman dan memilih untuk berada di dekat Win terlalu lama, dia hanya takut saja kalau nanti Mark kembali kesana dan repot lagi dia harus pindah posisi.


" Istriku, mendekat sini! " Presdir Nard, atau Leo tersenyum, tapi senyum itu begitu membuat Ariel merinding ngeri hingga dia memutuskan untuk berlindung di dekat Win.


Bersambung.