Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 60



Setelah mendengarkan ucapan Nara dengan seksama, Mario kini paham di mana letak kesalahannya, dia juga tidak akan lagi menganggap enteng atau meremehkan Nara saat Nara merasa mual. Memang masih agak aneh karena rasa mual Nara hanya akan datang saat nama Luna dia sebut.


Setelah pembicaraan itu Nara akhirnya kembali seperti semula, dia sudah terus memanggil Mario dengan sebutan sayang, mimik menggoda juga selalu dia tunjukan tanpa merasa ada batasan seperti sebelumnya.


" Sayang, tiba-tiba aku jadi ingin makan sushi deh, tolong belikan untukku ya? " Pinta Nara lalu tersenyum dengan manis.


Mario mengeryit, bukan dia keberatan, hanya saja sushi adalah makanan yang tidak di suka Nara sebelumnya.


" Nara, kau yakin ingin makan sushi? " Tanya Mario ya tentu saja dia harus memastikan benar sebelum memesan sushi dan berakhir salah, lalu harus melihat wajah Nara yang merengut kesal.


" Iya, tentu saja. "


Mario mengangguk saja meski dia masih membatin keheranan. Dia segera meraih ponselnya, memesan sushi di restauran terdekat dan nanti akan di antar oleh ojek online.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya sushi pesanan Nara sudah sampai, dan yah, Nara benar-benar memakan sushi itu hingga habis satu porsi penuh.


Siang hari.


" Sayang, sepertinya kalau makan es buah enak deh. Beli ya sayang? "


" Ha? Oke, sekarang? " Tanya Mario. Setelah Nara mengangguki pertanyaannya tadi, dengan segera Mario memesan es yang di maksud Nara, tapi kali ini dia tidak bisa menemani Nara lebih lama karena pukul dua siang nanti dia ada meeting penting.


Sesampainya di kantor, masih ada beberapa waktu untuk menunggu hingga jam meeting tiba. Mario sejenak berpikir kenapa Nara terlihat berbeda sekali dari biasanya? Apakah sebenarnya dia itu bukan Nara? Apakah cerita di novel yang katanya ada anak kembar yang suka bertukar peran? Ah, tidak mungkin! Dia sudah memastikan benar jika Nara hanya ada satu, lalu apakah mungkin kalau saat ini Nara itu sedang di rasuki hantu? Memang ada ya hantu yang mau merasuki tubuh Nara? Secara Nara itu kan cara bicaranya agak bocor, ah! mungkin lebih tepatnya blong. Sudah begitu suka bertindak sesuka hati, marah dan melakukan apapun, bahkan bersikap juga sering berdasarkan spontanitas.


Setelah selesai meeting, Mario ternganga heran membaca pesan yang dikirimkan Nara kepadanya yaitu meminta Mario untuk membelikan makanan saat pulang bekerja nanti. Pertama ada ayam goreng mentega, lalu pisang keju, beef teriyaki, burger, otak-otak ikan saus pedas, udang goreng, lalu mochacino dengan tambahan coklat bubuk di atasnya.


" Astaga, apa dia ini sedang masa pertumbuhan? Makanan sebanyak ini apa dia ingin menghabiskan sendirian? Membayangkan makanan begini banyak saja perutku sudah kenyang. " Gumam Mario lalu segera dia memasukkan ponselnya ke dalam saku kemejanya. Sudahlah, apapun yang di minta Nara sebisa mungkin dia akan memenuhinya asalkan membelinya tidak harus ke planet lain.


Seperti yang di inginkan Nara, Mario benar-benar bekerja keras untuk membeli makanan yang sesuai dengan pesanan Nara. Yah, jujur saja sih saat membelinya Mario benar-benar menggerutu kesal. Satu menu saja harus berada di tempat yang berbeda, sialnya beberapa kali dia harus mengantri, jadi kesal itu benar-benar tidak bisa dia hindari. Ini tinggal yang terakhir, yaitu minuman moka dengan bubuk coklat di atasnya.


" Mario? " Sapa Luna yang ternyata berada di tempat yang sama karena dia ingin menemui sahabatnya yang sudah lebih dulu sampai dan menunggunya di sana.


Mario terdiam sebentar, lalu memaksakan senyumnya, mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak dengan Luna. Tentu saja alasannya adalah karena dia tidak ingin Nara salah paham lagi dengannya, bagaimanapun aroma Luna sudah seperti kotoran babi yang akan mengganggu Nara.


Melihat Mario bereaksi seperti itu ya tentu saja Luna mengeryit bingung di tambah dia juga merasa tersinggung. Kenapa harus memundurkan langkah? Padahal dia tidak buruk penampilannya, dia juga sudah mandi, mengunakan deodoran, minyak wangi, sikat gigi, dan menggunakan penyegar mulut, jadi apa sebabnya Mario melakukan itu? Takut istrinya cemburu? Ayolah, istrinya tidak akan mungkin tahu kan?


" Mario, kalau kau bereaksi seperti itu aku benar-benar merasa kau jahat loh. " Ujar Luna lalu memaksakan senyumnya.


" Aduh maaf sekali ya Luna. Aku begini karena aku tahu betapa besar dan menakutkannya kalau saja istriku tahu aku bertemu denganmu. "


Luna menghela nafas dan tersenyum tipis tapi tatapannya benar-benar menjelaskan bahwa dia sangat keheranan dengan sikap Mario, juga sikap Nara yang tidak masuk akal, menjurus ke bodoh lebih tepatnya.


" Mario, tidakkah kau merasa jika istrimu itu berlebihan? "


Luna tersenyum tapi dia semakin tak percaya dengan apa yang dia dengar.


" Mario, istrimu dengan tidak berperasaan bercanda jika dia mual saat berjabat tangan denganku, bahkan berada di dekatku juga mual. Meskipun aku tahu ini lancang, tapi apakah kau tidak bisa menasehati istrimu agar jangan seperti itu? Jika dia memang begitu takut aku merebut suaminya, katakan padanya jika cara yang dia gunakan sangat tidak elegan. "


Mario menghela nafasnya.


" Tapi istriku tidak bercanda, dia mual jika mengendus aroma tubuhmu. Ah, saat aku menceritakan tentang dokumen dan membuatku menyebut namamu, dia mual saat nama Luna terdengar di telinganya. "


Luna menggigit bibir bawahnya menahan perasaan sedih.


" Mario, kau tahu aku tidak memiliki aroma tubuh yang busuk kan? "


" Tapi kalau istriku mual ya aku harus bagaimana? Di banding terus memberikan pengertian tentang mual istriku terhadapmu, aku lebih baik membicarakan hal lain karena akan fatal sekali saat mulutku menyebut namamu. "


Luna terdiam, sebegitu cinta kah Mario kepada Nara sehingga semua yang dikatakan Nara dia akan mengikutinya dengan patuh. Padahal sudah jelas jika itu konyol, dan Mario yang dia kenal adalah orang yang tidak seperti itu kan?


" Mario, ternyata sifatmu sangat berubah ya? "


" Yah, tentu saja. Kalau aku tidak berubah, aku pasti sudah hidup di bawah jembatan. "


" Mario, kenapa bicaramu begitu sinis? Kita adalah rekan bukan? Kenapa tidak mencoba membiasakan diri, toh menjadi teman juga bukan hal buruk kan? "


" Buruk, buruk sekali! Semua yang berhubungan denganmu aku tidak berani, karena istriku akan- "


" Mario? " Panggil pelayan kopi yang sudah selesai membuatkan kopi yang dia pesan.


" Iya. " Mario mengambil kopi pesannya lalu berniat segera pergi dari sana.


" Mario! "


" Apa? " Mario berbalik dan menatap Luna dengan tatapan penuh tanya.


" Apa kau benar-benar mencintai istrimu? Aku dengar kalian menikah karena perjodohan. "


Mario membuang nafas kesalnya.


" Hanya orang yang memiliki level bodoh paling tinggi yang tidak akan jatuh cinta dengan Nara. Selamat tinggal. " Ucap Mario lalu bergegas meninggalkan tempat itu karena yakin benar jika di layani obrolan Luna pasti akan kemana kemari tak tentu arah.


Bersambung.