Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 64



Ariel terdiam dengan mata membelakak terkejut. Mark, pria itu itu menancapkan pisau, tapi bukan ke tubuhnya, melainkan ke tubuh pria yang memegangi tubuh Ariel agar tak banyak bergerak saat di tikam.


Ariel menaikkan tatapannya menatap Mark dibarengi air mata yang jatuh membasahi pipinya. Mark, pria itu mendorong tubuh pria tadi ke lantai, dia jatuh pingsan tak berdaya karena Mark menikamnya berkali-kali. Kenapa? Kenapa dia tidak mempu mengarahkan pisau itu kepada Ariel? Padahal sebenarnya dia sudah membuang perasaan suka dan kasihan, tapi tetap saja dia tidak bisa melakukannya.


Tanpa bicara Mark membuka pengikat yang menahan tangan Ariel, dan melepas lain yang menutup mulut Ariel.


" Bangunlah, aku akan membantumu keluar dari sini, setelah itu nasibmu bergantung dengan keberuntungan mu. " Ujar Mark tak menatap Ariel sama sekali. Dengan Skuat tenaga Ariel bangkit untuk berjalan, sungguh dia begitu takut dan gemetar hebat tubuhnya. Untuk pertama kali sebagai manusia yang hidup di muka bumi ini, melihat adegan begitu menakutkan benar-benar ia rasakan tadi.


" Tetaplah disini, kau bisa keluar saat aku membereskan yang berjaga di depan sana. " Ucap Mark.


Tak merespon dengan ucapan ataupun dengan gestur, sungguh dia sangat lemas tak berdaya, tubuhnya juga masih gemetar hebat apalagi saat dia tidak sengaja melihat pisau di tangan Mark yang masih begitu banyak darah segar.


Cukup lama Mark berada di luar pintu, akhirnya terdengar suara Mark untuk memintanya keluar. Dengan sekuat tenaga Ariel bergegas untuk keluar dari ruangan itu, dan lagi-lagi dia harus melihat orang yang tergeletak penuh darah di lantai.


Bruk!


Ariel benar-benar sangat lemas, dia tidak sanggup bangun untuk berjalan lagi.


" Kau harus bangun, Ariel. Kesempatan untuk lari sudah tidak banyak lagi, jadi pergilah sebelum kau tidak bisa Kemanapun dan mati disini. " Ucap Mark seraya membuka penutup hitam yang menutupi sebuah benda, dan rupanya itu adalah bom yang sengaja di pasang disana untuk menghilangkan semua bukti kejahatan Paman Daris.


Segera Ariel bangkit dengan wajah syok.


" Aku cepat kita keluar! " Ajak Ariel kepada Mark, bahkan tanpa sadar Ariel juga sudah memegang tangan Mark untuk dia ajak pergi dari sana.


Mark tersenyum miris menatap tangan Ariel yang memegang tangannya.


" Aku tidak bisa keluar, jadi pergilah saja sendiri. "


" Kau ini bicara apa?! " Ariel menatap Mark dengan tatapan marah. Iya, siapa yang tidak akan marah? Ini tengah nyawa yang hanya satu setiap tubuh, jadi mana bisa Ariel pergi melenggang sendiri dengan tenang?


" Ayahku pasti sudah menduga kalau aku tidak akan bisa membunuhmu, jadi dia menaruh bom di sini. Aku akan mengatasi ini, kau pergilah keluar dengan cepat, waktunya semakin habis. "


" Jangan bicara omong kosong! Ikutlah denganku, Leo pasti akan melindunginya dari Laman Daris! "


" Melindungi ku? Kau sedang bercanda? "


" Sudah! Ayo cepat! "


Mark terdiam sebentar, dia membuatkan saja Ariel menarik tangannya pergi untuk menuju keluar. Tapi begitu mereka sampai di luar, Mark segera mendorong tubuh Ariel menjauh darinya dan otomatis membuat tangan mereka terlepas.


" Mark?! "


Mark tersenyum, dia terus memundurkan langkahnya, lalu menatap Ariel yang sedang begitu terkejut sebentar dan menutup pintunya.


" Hiduplah dengan bahagia, Ariel. " Ucap Mark sebelum pintu itu tertutup dengan rapat.


" Mark! " Ariel menjulurkan tangan kanannya untuk meraih Mark dan membujuknya untuk ikut pergi, tapi sebuah lengan kekar melingkar di tubuhnya menahan agar Ariel tidak lagi masuk kedalam.


Tak lama setelah itu suara ledakan begitu nyaring terdengar, entah dipelukan siapa Ariel saat ini, dia ikut menunduk agar tak terkena ledakan, Api juga langsung berkobar membakar rumah itu.


" Tidak, tidak boleh begini. " Ucap Ariel lirih, lalu tak lama Ariel tak sadarkan diri.


Di sebuah rumah sakit, Ariel kini sedang mendapatkan perawatan.


" Bangunlah, kau harus baik-baik saja. " Ucap seorang pria yang tak lain adalah Leo. Dia juga adalah orang yang menahan Ariel untuk kembali masuk ke dalam rumah yang sudah terdeteksi terdapat bom di dalam sana. Dia melihat saat Mark menutup pintu setelah mengeluarkan Ariel dari sana, dan sungguh dia benar-benar berterimakasih meski ucapan itu tak tersampaikan langsung kepada Mark.


" Tuan, apa kita langsung bergerak? " Tanya Win.


" Tunggu Win, biarkan pemakaman Mark di hadiri oleh keluarga lengkapnya, nanti kita lanjutkan lagi setelah itu. "


" Baik. "


Win meninggalkan Leo di dalam sana untuk menunggu Ariel sadar karena dia juga tidak ingin mengganggu.


Sudah hampir delapan jam, tapi Ariel juga masih belum sadar.


" Kapak kau baru akan sadar? Aku tidak bisa tenang kalau kau belum bangun juga. " Leo mengeratkan genggaman tangannya bersama dengan Ariel, meletakkannya di keningnya.


***


Paman Daris menghancurkan segala perabotan di ruangannya begitu mendengar kabar bahwa Mark ikut menjadi korban ledakan, sementara Ariel yang menjadi targetnya malah selamat begitu saja. Dia sengaja tidak menempatkan banyak orang disana karena sudah matang-matang merencanakan. Dia sadar benar jika Mark pasti tidak akan sanggup membunuh Ariel, jadi dia meletakkan bom disana agar begitu Mark menolak membunuh Ariel, Ariel akan tetap mati dengan bom di sana.


" Ah! " Paman Daris menangis sesegukan menyesali apa yang terjadi. Sekarang dia pun kehilangan putranya, dia kehilangan partner setianya, dia kehilangan anak pertama yang dia rawat dengan baik sedari dia dilahirkan. Tentu di sedih, karena mau bagaimanapun dia tetaplah seorang Ayah kandung, dia tentu tidak ingin kehilangan putranya meski sering merasa putranya tak begitu membanggakan dan memenuhi harapannya.


" Jika saja rangkaian cerita ini tidak di mulai, aku benar-benar tidak akan mungkin kehilangan putraku! Kalau saja tua bangka itu sedikit lebih adil, aku tidak akan menjadi monster seperti sekarang? Ah.....! " Tuan Daris memukul-mukul kepalanya penuh kemarahan.


" Tuan, jasad Tuan Mark sudah di temukan. "


Paman Daris mengusap air matanya, dia menatap penuh kebencian sembari mengingat satu wajah, yaitu wajah Ayahnya. Orang yang dia anggap sudah membuat permulaan buruk dan menjadikan hidupnya begitu sulit dan menderita. Dengan penuh kemarahan dia bangkit dan berjalan keluar untuk menuju satu tempat yaitu, sebuah rumah sakit dimana Ayahnya di rawat.


" Kau harus membayar semua rasa sakit yang aku rasakan. "


Bersambung.