
Ariel merengut kesal setelah beberapa saat lalu menerima panggilan telepon dari ponsel Leo. Tadinya sih Ariel malas mengangkat telepon Leo yang terus berdering, tapi karena lama kelamaan Ariel merasa terganggu, pada akhirnya dia menerima telepon itu. Awalnya dia pikir itu masalah serius, tapi saat dia mendengar yang menghubungi adalah seorang wanita dan entah membiarkan apa pada awalnya, tiba-tiba wanita itu mengakhiri sambungan teleponnya karena Ariel mengucapkan kata Halo.
Bagaimana jadi tidak sebal kalau begitu? Sudah bisa menebak kalau itu pasti wanita masa lalunya Leo yang pernah dia ceritakan dulu. Iya, tidak heran sih kalau ada saja wanita yang menyukai Leo, tapi dia bisa apa untuk mencegahnya? Entah lah, sekarang Ariel malah jadi memikirkan apakah ada masanya posisinya akan di gantikan wanita lain? Duh! Kenapa juga hanya membayangkan itu di malah jadi semakin kesal?
" Sayang, aku sudah selesai mandi, kita langsung ke meja makan ya? Kau sudah lapar kan? "
Tak mendapatkan jawaban membuat Leo menatap Ariel dengan dahi mengeryit menandakan bahwa dia bingung. Segera dia berjalan mendekati Ariel, duduk di sebelahnya dan merangkulnya.
" Ada apa? Kau bertengkar dengan kakak tiri mu? "
Ariel menghela nafas, kemudian dia menatap Leo dengan tatapan kesal.
" Tadi ada wanita yang menghubungimu, tapi dia langsung mematikan sambungan telepon saat mendengar suara ku. "
Leo tersenyum, memang benar-benar bahagia sekali melihat Ariel cemburu karena itu pertanda bahwa Ariel juga mencintainya kan? Yah, memang benar seberapa cantik wanita yang datang padanya tidak akan mampu menggantikan Ariel, tapi wajah Ariel yang sedang cemburu itu benar-benar sangat imut dan membahagiakan, jadi Leo pikir untuk melihatnya lebih lama.
" Ya sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. " Leo menjauhkan tangannya yang tadi merangkul Ariel dan menatap ke arah Lain seperti ingin menunjukan kepada Ariel bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu.
Ariel menghembuskan nafas kasarnya dengan tatapan mata yang tak teralihkan dari Leo. Dia menggigit bibir bawahnya dengan mimik menahan marah, lalu mencekik leher Leo dan mendorongnya hingga Leo terjatuh, sementara dia berada di atas tubuh Leo sembari mencekik Meksi tidak kuat.
" Kau ingin membunuh suami mu ya? Kau sudah yakin siap menjadi janda? "
" Kau, lebih baik jangan macam-macam! Dengar ya, yang mau hubungan kita semakin dekat kan kau! Yang mengewita ku tanpa perduli aku melarang juga kau! Kau itu dengan kata lain sudah memperkosa ku! Kau itu sudah melakukan kejahatan terhadapku! Jadi, jangan pikir kau bisa macam-macam, karena kalau tidak, aku tidak akan segan-segan membuat cucung mu tidak bisa bangun! " Dengan nafas menderu semua kalimat itu dengan lantang dan lancar keluar dari mulut Ariel. Bukan malu pertama yang dia rasakan, tapi kesal, kesal sekali membayangkan perselingkuhan akan dia alami lagi. Tapi melihat Leo tersenyum dengan santai menatapnya dia jadi merasa malu sendiri karena mengingat apa yang dia katakan barusan.
" Cih! Jangan terlalu pede! " Ariel menjauhkan tangannya, tadinya dia ingin bangkit dari posisi aneh itu, tapi karena Leo menahan pinggulnya, membawa tubuh Ariel ke dalam pelukannya, apakah daya Ariel juga tidak mampu mengelak karena rasanya begitu hangat dan nyaman membuatnya enggan untuk bangkit dari sana.
" Aku suka melihat kau cemburu seperti ini, tapi aku juga ingin mengatakan ini padamu, aku tidak akan menyakitimu dengan berselingkuh. Melihat mu sedih dan khawatir tentu saja membuatku sedih juga, tapi kalau membuatmu meringis menahan sesuatu di atas tempat tidur, barulah aku tidak akan perduli belas kasihan. "
Ariel bangkit dengan segera, memukul wajah Leo dengan bantal dan keluar dari kamar secepat mungkin dengan langkah kakinya yang terburu-buru. Iya, mungkin saja dia malu.
Ibu Maria kini tengah duduk berhadapan dengan Tuan Diro. Mereka tak pernah saling menatap lebih dari lima detik meski posisi duduk mereka hanya berjarak karena meja. Ibu Maria sengaja enggan menatap lebih lama karena dia cukup muak dengan sikap naif yaang dimiliki Tuan Diro hingga menghancurkan keluarganya. Padahal, dulu dia benar-benar sudah mengorbankan banyak hal untuk Tuan Diro. Mulai dari masa mudanya, dia harus kuliah dengan perut besar, menjalani pekerjaan Ibu rumah tangga sembari berkuliah, kukus kuliah pun dia juga bekerja untuk membantu perekonomian keluarga karena Tuan Diro hanyalah staf biasa di kantor. Untungnya Tuhan memberikan dia otak yang cerdas hingga tak perlu waktu lama dia bisa jauh lebih tinggi jabatannya di banding suaminya. Tapi apa yang bisa di lakukan pria itu? Dia malah memberikan kesedihan tiada henti, bahkan melindungi wanitanya juga anaknya sendiri dia pun tidak mampu, malah dengan polosnya dia datang mengunjunginya ke penjara untuk menikah lagi dengan mantan istrinya. Alasannya sangat mengharukan saat itu, yaitu dia ingin Ariel memiliki sosok Ibu, di tambah juga ada kakak perempuan untuk melindunginya. Hah! Benar-benar sangat bodoh karena mempercayai ucapan itu, tapi mau bagaimana lagi jika semua sudah berlalu.
" Rumah itu akan di urus dan aku jadikan sebagai milik Ariel sepenuhnya. "
Ibu Maria menghela nafas.
" Kalau hanya ingin mengatakan ini, seharusnya kau titipkan saja ini kepada pekerja di rumah Leo dan Ariel, nanti aku juga akan di beri tahu kok. "
Tuan Diro menunduk, memang siapa yang tidak malu kalau mengahadapi mantan istri yang sudah dia telantarkan, tidak bisa dia lindungi, bahkan juga gagal merawat anak mereka dengan baik.
" Maria, aku datang ingin mengatakan selamat tinggal padamu, dan titip salam ku untuk Ariel. " Tuan Diro mencengkram kain celana panjang yang ia kenakan. Tubuhnya bergetar menahan kesedihan sebisa mungkin tak ingin terlalu menunjukkannya.
" Selamat tinggal? Kau mau pergi kemana? "
" Aku akan pergi ke kampung halaman ku, Ibuku sudah sangat sepuh, kakak ku kan tinggal jauh dan harus mengurus istri serta anaknya, hanya aku satu-satunya yang bisa menjaganya sekarang. "
Ibu Maria mengangguk saja karena dia tidak tahu harus menjawab apa, dan bagaimana menanggapi selain mengangguk.
" Aku titip ini untuk Ariel, ini memang tidak seberapa, tapi itu adalah semua uang yang aku tabung dan memang aku berniat memberikan ini kepada Ariel, tapi setelah semua yang terjadi aku merasa malu dan rendah diri. Aku tahu kalian tentu tidak membutuhkan uang itu, tapi tolong terimalah saja dan anggap ini hadiah kecil dari seorang Ayah untuk Ariel. " Tuan Diro menyodorkan buku tabungan itu semakin dekat dengan Ibu Maria.
" Bukankah kau juga membutuhkan biaya untuk Ibumu? "
" Benar, tapi aku akan mencarinya dengan caraku, doakan saja aku tidak gagal juga sebagai anak ya Maria? "
Ibu Maria terdiam tak tahu harus mengatakan apa.
Bersambung.