
" Mike, kau berhentilah bersikap manja dan terus mengandalkan keluargamu untuk menyokong keuanganmu. Bagiamanapun kau kan sudah menikah, istrimu harus merasakan bagaimana suaminya memperjuangkannya, memiliki kemampuan untuk menghasilkan uang sehingga ilmu itu bisa di turunkan kepada anak kalian nanti. Sementara kau, Wiliam. Berhentilah menerima panggilan telepon atau membalas pesan dari wanita di luar sana. Kalian cobalah untuk memposisikan diri jika saja kau yang jadi istri kalian. Aku mengatakan ini karena Ayahku pun memberikan contoh itu padaku, Ayahku juga bilang, satu saja istrimu bisa membuatmu kaya raya. Tapi, jika kau memilki dua wanita atau lebih, sebanyak apapun uangmu akan begitu cepat habis. Aku juga kadang masih merasa pernikahan dengan Nara adalah kesalahan, tapi melihat Nara setiap hari juga membuatku merasa kalau akan lebih baik jika kami hidup bersamanya. "
Wiliam dan Mike saling menatap dengan tatapan sebal, bagaimanapun dia sebal dan kesal karena ternyata Mario tidak mengalami kesulitan sama sekali di dalam hubungan petumah tanggaan seperti yang mereka rasakan.
" Ngomong-ngomong, kau menolak untuk main golf di akhir pekan apa karena ingin bersama keluargamu seperti kebanyakan para suami istri lainnya? " Tanya Wiliam, bagaimanapun dia benar-benar penasaran bagaimana bisa Mario hidup dengan begitu indah, dia terlihat tidak begitu tertekan padahal yang di jalani oleh Wiliam dan Mike kan tidak seperti itu.
Mario menghela nafasnya.
" Aku hanya ingin istirahat total, aku ingin tidur dari malam semakin malam lagi untuk memulihkan tenagaku yang di habiskan oleh Nara. "
" Nara? " Wiliam dan Mike menatap Mario karena sepertinya mereka mulai tertarik dengan apa saja yang terjadi sampai Nara mengabiskan tenaga Mario.
" Nara, dia tidak seperti istri kalian berdua. Tidak kenal tempat, tidak perduli lagi, siang, sore, malam, dini hari, subuh, dia benar-benar tidak membiarkan ku tidur dengan nyaman. Bahkan kadang di saat dia tidur saja tangannya masih sangat aktif bergerak kesana kemari, bahkan bukan sekali dua kali setiap aku bangun pagi tangan Nara berada di dalam celanaku, memegang cucung ku dan setiap kali itu terjadi aku benar-benar ingin sekali meninju wajah Nara, membaut tubuhnya mental sampai ke Antartika. "
Wiliam dan Mike menelan salivanya sendiri, mereka benar-benar merasa iri sekali karena ternyata Mario memang terbilang sangat beruntung sekali bebas ewita kapan pun dan dimana pun dengan istrinya.
" Enaknya jadi kau, Mario. " Ujar Mike dengan sungguh-sungguh menunjukkan perasaan iri terhadap Mario.
" Matamu yang enak?! Aku sampai lupa caranya berjalan dengan baik gara-gara Nara, dia bahkan hampir setiap hari tidak membuatkan ku fokus bekerja. Padahal Nara ada di rumah, tapi gara-gara melakukan itu dengan Nara di luar batas, aku jadi terbayang-bayang ketika melihat lembaga dokumen, bahkan saat sedang rapat aku malah memikirkan sedang anuan dengan Nara, jadi apa yang di rapatkan hari itu aku sama sekali tidak tahu. "
Wiliam dan Mike menggeleng dengan perasaan iri yang luar biasa, semakin iri di setiap kata yang Mario ucapkan tentang Nara.
" Mario, boleh tidak kita tukar istri saja? Please.... " Ucap Mario dan Mike bersamaan.
" Dasar gila! Memangnya kau pikir Kubang istriku lubang negara bisa di gilir begitu saja?! Tidak bisa! Tidak boleh! Milik istriku ya hanya milikku, kalau kalian sebegitu gatalnya, pergi cari saja sana di luaran, aku tidak akan Sudi membagi istriku dengan kalian! "
" Cih! Kami juga hanya bercanda. "
***
Begitu kembali dari berbincang bersama dengan Mario dan Mike, Wiliam akhirnya kembali ke apartemen sebelum pukul sepuluh, tepat janji kalau memang dia tidak akan pulang terlambat, atau pulang melebihi jam sepuluh malam.
" Kau dari mana? " Tanya Moza yang entah sejak kapa berada di balik punggung Wiliam.
" Aku dari bertemu dengan Mario dan Mike." Jawab Wiliam malas, iya memang dia tengah merasa malas dengan Moza yang masih saja menghukumnya dengan hukuman yang tidak masuk akal. Aneh sekali sih, masa iya suami di larang mengewita istrinya sendiri, tapi juga tidak di izinkan untuk jajan di luar. Huh! Rasanya ingin protes saja, apakah ingin membunuh suaminya secara perlahan?
" Kau bau alkohol, seberapa banyak kau minum? " Tanya lagi Moza, kali ini dia sudah merubah posisi degan berada di hadapan Wiliam, Moza yang menggunakan dress tidur cukup seksi benar-benar membuat Wiliam terpaku menikmati apa yang sedang di tatap oleh matanya.
" Tidak banyak yang terlihat. " Ucap Wiliam tanpa sadar sembari melihat bagian-bagian dari tubuh Moza yang membuat matanya sulit beralih pandang.
Moza membuang nafas sebalnya, dengan segera dia semakin mendekatkan diri kepada Wiliam agar bisa lebih mudah memperhatikan dan menilai wajah Wiliam saat sedang berbicara padanya.
" Wiliam? "
" Apa kau bertemu wanita tadi? "
" Iya, tapi tidak berani macam-macam karena aku malas mendengar ancaman dan juga tatapan dingin darimu. "
Moza tersenyum tipis, sementara Wiliam semakin fokus memperhatikan benda kembar milik Moza yang tanpa menggunakan penyangga dan membuat bagian ujungnya terlihat jelas bentuknya.
" Baiklah, pertanyaan terakhir. Kau, apa masih memiliki keinginan untuk melakukan hubungan suami istri dengan orang lain, maksud ku, wanita lain selain aku? "
" Tergantung, kalau aku masih hanya di perbolehkan melihat tanpa boleh menikmati, dan aku harus menyelesaikan dengan colai, ya lebih baik aku cari lubang di luaran sana. Banyak kok, mau yang lubangnya masuk empat jari, lima jari, kepalan tangan, gagang cangkul, ada begitu banyak kenapa aku harus menghabiskan banyak waktu untuk membiarkan anu ku tidak memiliki kesempatan untuk show up. "
Moza menghela nafasnya, sepertinya Wiliam memang sudah menahan diri dengan baik beberapa hari belakangan ini. Sedari tadi saat berbicara dengannya, mata Wiliam benar-benar hanya tertuju kepada bagian dada, dan juga pahanya saja.
" Ya sudah, kau sudah bisa mendapatkan apa yang kau inginkan sekarang. "
" Sekarang? "
" Iya. "
" Hah? " Wiliam tersentak sendiri, dia menatap Moza yang juga tengah menatapnya untuk bertanya apakah dia sedang serius atau tidak.
" Kau bilang aku boleh apa tadi? " Tanya Lagi Wiliam yang tidak ingin salah dalam bertindak dan membuat Moza akan semakin menghukumnya tanpa perasaan.
" Boleh menyentuhku. "
" Menyentuh? Hanya menyentuh saja tidak boleh di pakai? "
" Kau pikir aku barang? "
Wiliam tersenyum, dia dengan segera berjalan cepat meraih pinggul Moza, membawanya cepat untuk menuju tempat tidur.
" Aku sudah menahannya cukup lama, jadi kau tidak di izinkan untuk tidur cepat! "
" Tidak lama, bukannya hanya satu Minggu saja? Aku kan juga sedang datang bulan, hanya saja tidak bicara denganmu sembari menguji kemesumanmu itu. "
" Ah, dasar jahat! Kalau begitu biarkan aku baik-baik menikmati lubangmu ya? "
Wiliam dengan cepat melepaskan semua kain yang menutupi tubuh Moza, dan langsung menggerakkan bibirnya ke titik yang dia inginkan.
Bersambung.