
Ariel mengunyah makannya dengan perasaan tak karuan, bahkan pipinya benar-benar merah merona seperti buah tomat menempel disana. Sudah satu jam setelah menandakan Leo, tapi bayangan saat membasuh bagian bawah Leo benar-benar tidak bisa dia lupakan. Pria itu, pria lumpuh yang selama ini dia anggap tak bisa melakukan apapun, bahkan dia juga yakin seratus, ah seribu, mungkin juga sejuta, semiliar persen bahwa cucungnya tidak mungkin akan bisa bangun, hah! Gila! Benar-benar sudah gila karena dia bisa melihat benda laknat, laknat? Ataukah nikmat? Iya pokoknya itu lah! Ternyata oh ternyata, dia bisa berdiri dengan tegak seperti pengibar bendera yang tegak berdiri dengan posisi tegas.
Kurang ajar! Padahal dia sudah begitu yakin dan menganggap cucung Leo seperti cucung bayi hanya saja ukurannya yang jumbo, tapi kenapa pula bisa berdiri di saat Ariel berjongkok untuk menyeka kaki Leo, dan saat gak sengaja minat, cucung jumbo itu dengan sialannya berdiri seolah melambai di depan wajahnya. Ah! memalukan sekali bukan? Cucung Leo tadi hanya berjarak sekitar sepuluh meter saja dari wajahnya.
Anjrit! Makanan yang jasanya seenak makanan hotel bintang lima kenapa mendadak hambar?
Sebenarnya kalau boleh jujur, Ariel benar-benar ingin menahan rasa laparnya sampai dia siap untuk menghadapi Leo. Tapi masalah terbesarnya adalah, Leo mengatakan untuk melayaninya makan. Ah, mengingat kata melayani kenapa juga jantungnya berdebar seperti ini.
Duh, sialan! Jantung, jangan berani-beraninya berdebar seperti itu! Aku adalah pemilik mu, jangan mengkhianati ku, dasar jantung tidak tahu malu!
" Kenapa kau merona terus menerus? Kau sedang malu-malu babi ya karena sudah melihat cucung ku bisa bangkit? Mau coba? "
Astaga.....
Ariel menelan salivanya mendengar kalimat yang sangat lengkap sedari ritual mandi tadi. Apakah pria itu merayakan jin cucung sampai harus membicarakan cucung di saat makan? Tidakkah dia lihat sekarang Ariel sedang memakan sosis yang berukuran besar? Apakah tidak memikirkan bagaimana perasaannya yang jadi merasa malu saat akan memasukkan sosis itu ke dalam mulutnya? Tuhan, ampunilah saja gadis perawan yah sudah beberapa kali melihat cucung secara langsung. Kemarin-kemarin cucung Bram yang bantet dan bengkok, sekarang cucung jumbo yang, ah! Tidak mampu menjelaskannya! Kalau begini terus, bisa-bisa mimpi pun yang di mimpikan adalah macam-macam cucung, ah! Apa mungkin rasa macam-macam cucung bisa dirasakan di dalam mimpi?
" Cih! Aku tidak senorak itu! Aku itu sudah pernah bilang kan? aku sudah beberapa kali memandikan bayi, mengganti popok bayi laki-laki, aku juga sudah melihat punya pria dewasa sebelumnya. Jadi mana mungkin aku merona hanya karena baru melihat punyamu bisa Tuing? " Ariel menoleh ke arah lain, dia juga menjauhkan sosis bakarnya yang masih utuh di atas piring. Leo tentu bisa tahu dengan jelas jika Ariel berbohong. Sekarang mari lihat seberapa pintar Ariel bisa berbohong.
" Kau tidak makan sosis itu? "
" Ehem! " Ariel berdehem untuk mengusir kecanggungan.
" Aku kenyang. "
" Kau lupa ya? Aku paling tidak suka makanan disisakan di piring. Satu sosis itu setara dengan gajimu per dua hari, jadi kalau kau tidak memakan sosis itu, kau harus libur seminggu untuk makan di rumah ini. "
Ariel melirik sosis berukuran besar itu, rasanya rugi juga kalau melewatkan makan gratis dan enak selama seminggu. Bisa-bisa gajinya habis kalau untuk makan diluar sana selama seminggu. Ariel berdecak, tapi pada akhirnya dia meraih kembali piringnya, meraih sebuah garpu, meusukkan ke sosis, barulah setelah itu dia mengangkat tinggi-tinggi seraya membuka mulut untuk memakan sosis itu.
" Bagaimana rasanya sosis jumbo itu? Pasti beda kan dengan sosis yang bengkok? "
Ariel melotot kaget, dia dengan tidak sengaja terbatuk-batuk karena tersedak sosis yang sudah sempat dia kunyah dan di telan baru sampai ke tenggorokannya. Dengan buru-buru dia meraih segelas air yang sedari tadi berada di dekatnya, dia meminum hingga hampir habis, barulah dia menatap Leo dengan tatapan marah.
" Kau sengaja ya?! "
Leo menatap dengan tatapan datar, mengangkat sosis di garpu nya untuk dia tunjukkan kepada Ariel.
" Sosis ini bengkok, melengkung dan lagi terbuat dari daging ayam. Aku bertanya karena melihat sosis besar dan panjang itu terlihat enak, lalu apa salahnya aku bertanya karena aku juga menginginkannya. "
" Aku ke kamar dulu. " Ucap Ariel seraya bangkit dari duduknya.
" Duduk! "
Tak bicara, dia juga tidak tahu kenapa bisa begitu menurut, dan dia kembali duduk meski wajahnya terlihat tidak rela.
" Makan! "
Ariel melotot kesal, makan? Setelah apa yang dikatakan Leo tadi dia masih harus makan? Tidakkah dia tahu bahwa melihat sosis yang dia gigit tadi mengingatkan dengan kepunyaan Leo?
" Aku sudah kenyang. Tidak usah begitu repot memperdulikan aku, aku bisa makan jika aku mau, jadi jangan terlalu khawatir. "
" Siapa yang khawatir dan perduli padamu? Aku mau makan, suapi aku! Tanganku pegal. "
Hah, muka lagi bermain kosa kata. Baiklah, seperti ini juga lebih baik dari pada sibuk memikirkan yamg tidak-tidak dan menodai hari dirinya yang masih perawan utuh.
Meski terlihat kesal, nyatanya Ariel tetap menyuapkan makanan itu kedalam mulut Leo hingga makanan di piring Leo habis.
" Oh pintar sekali, makanannya sudah habis ya? Mau tambah? Apa mau sudahan? " Tanya Ariel meledek dengan senyum manis seperti seorang Ibu yang amat bahagia melihat anaknya makan dengan lahap hingga bersih piringnya.
Leo tersenyum miring.
" Susu! "
Ariel mengeryit bingung, susu? Bukannya Leo paling tidak suka minum susu? Ariel menatap Leo, dan saat itu Leo seperti menatap dadanya, jadi reflek Ariel menyilangkan kedua lengannya untuk melindungi bagian penting miliknya itu.
" Aku bukan Ibumu, kenapa kau menatap pabrik susu milikku?! "
" Aku hanya teringat dengan kucingku yang baru saja melahirkan. Dia punya dua anak yang harus di susui, tapi bagian itunya tidak membesar agar bisa menghasilkan banyak susu, melihatmu aku teringat dengan kucing ku itu.
Ariel membuang nafas kasarnya.
" Yang mulia raja Leo, raja terhormat degan segala kerendahan hati mohon jagalah bicara anda. Aku, wanita cantik pemilik piala Oscar sebagai seorang istri paling menderita ini sudah tidak sanggup lagi meladeni mulutmu yang manis sekali, ingat ya suamiku sayang, terlalu manis malah akan jadi penyakit. "
Bersambung.