Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 48



" Dekati istrinya Leo, Ayah yakin dia tahu banyak hal tentang Leo. Tarik juga dia agar berada di pihak kita, berikan saja apa yang dia inginkan sampai dia tidak bisa menolak dan dengan senang hati datang kepada kita. " Ucap Paman Daris kepada Mark. Setelah pesta ulang tahun Ayahnya atau kakek baru selesai, Paman Daris dan Mark sudah mulai menyiapkan rencana.


Mark tersenyum sumringah, jelas dia setuju, dia cepat sekali mengangguk karena dia memang sangat tertarik dengan Ariel yang begitu cantik menurutnya. Mengingat Ariel pernah menolaknya justru membuat Mark semakin penasaran, dia menilai jika Ariel memang adalah wanita idaman banyak pria. Selain parasnya cantik, Ariel juga terlihat tidak mudah di dekati seperti kebanyakan wanita yang pernah dia kencani dengan acak beberapa saat lalu.


" Aku akan melakukannya, Ayah. Ariel itu adalah tipe ku, dia tidak cocok untuk Leo yang cacat itu, semua yang dia miliki kan seharusnya adalah milikku. Harta warisan dari kakek, dan wanitanya itu tentu saja lebih cocok untukku" Mark tersenyum miring, belum apa-apa dia sudah dengan menjijikkan malah membayangkan tubuh Ariel jika tanpa busana, dan dia menjadi tidak sabar untuk segera memiliki Ariel untuk merasakan bagiamana tubuh dari wanita cantik itu.


" Jangan anggap mudah tugas ini, Mark. Wanita itu terlihat tidak biasa. Tidak ada gaya dari wanita materialistis, dia nampak acuh dengan hal mewah, sorot matanya yang terus berhati-hati setiap berbicara, dan memilih untuk tersenyum saja ketika mendengar kalimat yang bahkan dia tidak suka. Itu semua tidak semudah yang kau bayangkan. Dia adalah orang yang bisa dipercaya, setia, dan informasi dari orang seperti itulah yang tidak perlu diragukan lagi. Menarik dia untuk berada di pihak kita pasti butuh perjuangan, Ayah harap kau tidak akan mengecewakan Ayah, Mark. "


" Baik Ayah, aku akan berusaha semampuku. " Mark kembali tersenyum, dia pikir bisa merayu Ariel seperti dia merayu wanita seperti sebelumnya, jadi dia menggampangkan saja hal itu.


***


Ariel dan Leo kini duduk berdampingan di hadapan kakek yang sedari tadi menatap mereka berdua bergantian. Begitu pesta selesai, kakek segera masuk ke dalam ruangan pribadinya. Sungguh Aneh karena saat meminta mereka datang tampangnya seperti ingin menebas leher Leo dan Ariel. Tapi begitu mereka sudah berada di ruangan yang sepi itu malah Kakek hanya diam menatap dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


Leo menghela nafas, bahkan dia sampai menaikkan satu kakinya menimpa kaki lainnya. Ariel tentu tak mengingatkan karena meja di antara mereka cukup tinggi, jadi dia yakin Kakek tidak akan bisa melihatnya.


" Kek, mau menggunakan bahasa mata sampai kapan? "


Kakek menghela nafas, dia membenahi posisi duduknya menjadi lebih tegap dari sebelumnya.


" Aku hanya penasaran, bagaimana caramu bisa membuat istri cantik mu ini bertahan dengan rupa mu yang seperti monster? "


" Monster ini memiliki banyak nilai plus, jadi jangan heran. " Ujar Leo.


" Nilai plus di lihat dari pantat mu?! "


Ariel sedari mereka berargumen malah menjadi bingung. Kenapa kakek begitu santai seolah yang dia lihat di pesta tadi adalah sosok kakek yang lain.


" Cucu menantu, maaf tadi bersikap seperti itu pada kalian berdua ya? Kau pasti terkejut kan? " Ucap Kakek kepada Ariel.


Ariel, dia hanya bisa tersenyum begitu saja karena bingung apa ini? Kok bisa berubah tiba-tiba?


" Untuk mengurangi kecemburuan Daris dan Mark, aku terpaksa berpura-pura mengacuhkan Leo dan juga kau. Mereka sangat suka membuat ulah ketika sedang cemburu, jadi aku hanya bisa berpura-pura kalau ada mereka di antara kita. "


Ariel tersenyum lega, oh jadi benar ya kalau kakek nya itu tidak sesadis saat pertama kali dia melihatnya.


" Malam ini kakek akhirnya bisa bertemu denganmu, kakek bahagia. Tapi juga tidak bisa menahan kalian lebih lama, intinya kakek bahagia kau masih bertahan bersama Leo. " Kakek meraih tangan Ariel dan menggenggam erat.


Ariel tersenyum dengan tulus lalu mengangguk. Tatapan kakeknya Leo benar-benar sangat tulus, hangat, dan penuh harap karena begitu mencintai serta menyayangi cucunya yaitu Leo.


" Leo memang kadang sangat menyebalkan karena terlalu banyak mendapati orang yang dekat dengannya berkhianat padanya, jadi tolong cintai dia dengan baik, aku yakin cucuku ini mampu membahagiakan mu. "


Ariel tersenyum, lalu mengangguk paham dan setuju.


" Baik, kakek. Aku akan mencoba yang terbaik dan sebisa ku. "


Leo tersenyum bahagia meski tak begitu ia tunjukkan dari wajahnya. Dia bahagia karena Ariel memilih untuk tetap bersamanya. Mungkin akan banyak godaan dan hasutan, tapi anehnya Leo benar-benar merasa yakin kalau Ariel tidak akan mengkhianati nya sama sekali. Entah sudah jatuh cinta terlalu dalam ataukah rasa percaya yang ia miliki begitu berlebihan, intinya keyakinan yang ia miliki untuk Ariel tak terbantahkan sama sekali.


Setelah sebentar berbincang-bincang, Ariel dan Leo sudah harus keluar dari kamar karena tidak ingin membuat paman Daris dan Mark curiga. Ariel dan Leo kompak tak berekspresi, dan itu sukses membuat Mark tersenyum puas. Iya, di kira Leo dan Ariel barus saja kena marah, jadi nanti dia bisa mendekati Ariel untuk sok menghibur dan perlahan mendapatkan hatinya dengan pasti, dan bisa menjadikannya sekutu keluarganya.


" Ariel? Kau pasti sedih karena kakek pasti menggunjing mu kan? " Tanya Mark dengan tatapan yang sok melas dan jelas Ariel bisa melihat betapa menjijikkannya wajah semacam itu.


" Ada aku, aku bisa menghiburnya, kau tidak perlu khawatir. " Jawab Leo yang tak ingin mendengar lagi istrinya di goda oleh si brengsek Mark.


Mark tersenyum miring. Menghibur? Leo yang cacat itu mengatakan bisa menghibur? Apakah dia juga mengalami cacat mental hingga bisa berkata begitu? Batin Mark mengejek.


" Terimakasih untuk niat baik mu, tapi ini sudah semakin larut. Lain kali kita bicara lagi, kami permisi. " Ucap Ariel meninggalkan Mark disana menatapnya terus menerus entah apa maksudnya.


" Lain kali kita bicara lagi? " Leo mengeryit dengan tatapan kesal.


" Kau punya keinginan untuk mengobrol dengannya lagi? " Tanya Leo dengan nada suara yang terdengar agak kesal.


" Itu namanya bosa basi saja. "


Leo menghela nafasnya.


" Lebih baik jangan bicara lagi dengannya, dia sangat pandai berbicara, merayu dan meyakinkan hanya dengan kata-kata. Aku mengatakan ini karena tidak ingin terjadi apapun padamu, percayalah dia hanya ingin memanfaatkan mu saja. "


Ariel menghembuskan nafas kasarnya.


" Aku tahu, tapi masalah dimanfaatkan sepertinya sudah aku rasakan dari lama deh. "


Bersambung.