
Mike memandangi seluruh tubuhnya yang sudah menggunakan celana pendek berbahan kaos yang begitu nyaman untuk dia gunakan. Ah selain itu dia tidak menggunakan kain penutup bagian dalamnya karena dia merasa akan butuh waktu lama kalau harus mengunakan kain penutup dalam ketika Lope membukanya nanti kan?
" Aku sudah cukup tampan, kekar, wangi, ah! aku memang benar-benar sempurna! " Gumam Mike mengangumi diri sendiri di depan cermin yang sedang ia gunakan untuk bercermin.
Mike tak lupa juga menggunakan pil pembantu stamina agar tetap bagus dan tidak memalukan nanti. Yah, maklum saja biarpun bada kekar tapi dia juga masih kurang percaya diri, ditambah lagi waktu itu ada seorang wanita dengan lancang dan kurang ajarnya mengatakan jika durasinya amat pendek, yah padahal sih hanya colai sebentar saja karena saat itu dia memang benar-benar sangat lelah bekerja seharian di perusahaan Ayahnya.
" Aduh, si cantik Lope itu kemana sih? Kenapa juga belum masuk ke kamar? " Gumam Mike yang terus saja gelisah menunggu kedatangan istrinya. Tak lama handle pintu di ketuk, lalu Lope masuk ke dalam membuat wajah Mike berubah menjadi sumringah luar biasa.
" Eh Lope Lope istriku, sudah datang ya? "
Lope menatap Mike dengan tatapan heran, yah kalau melihat cara Mike menatap tentu saja dia paham kalau pria itu pasti menginginkan sesuatu darinya. Memang benar sih ini adalah tugasnya sebagai seorang istri untuk melayani dan memenuhi kebutuhan suaminya. Tapi, Lope belum siap untuk itu, dia juga ingin Mike merubah sikapnya agar kedepannya dia tidak perlu merasa khawatir, apalagi sampai harus merasakan seperti yang salah satu sahabatnya rasakan, yaitu ditinggalkan oleh suaminya karena wanita yang lebih muda dari sahabatnya itu.
" Aku datang untuk mengambil baju saja kok. "
" Eh? Baju untuk apa? Oh, jangan-jangan baju dinas malam untuk bertempur dengan suamimu yang tampan ini ya? "
Lope membuang nafas kasarnya, memang Mike adalah pria menyebalkan yang otaknya hanyalah hal mesum saja isinya. Tapi, setidaknya Mike jauh lebih baik karena dia tidak menyembunyikan apa yang dipikirkannya, seperti lelaki sebelumnya yang hampir juga menikah dengannya. Pria itu sangat pendiam, tutur bicaranya sangat sopan, tidak pernah membentak, tapi sialnya di balik wajah tenang, dan sika baik itu malah menyimpan sifat brengsek yang luar biasa. Tapi syukurlah dia mengetahui lebih cepat sebelum mereka jadi menikah, yah meskipun pada akhirnya dia harus menikah dengan Mike, setidaknya sekarang dia bisa menganggap jika ini adalah pilihan terbaik.
" Malam ini kakakku akan melamar wanitanya, aku diminta untuk datang, kalau kau tidak sibuk juga kau boleh ikut. "
Gagal! Mike benar-benar sangat kesal sekali padahal dia sudah mandi seperti tuan putri lamanya, tubuhnya sudah seperti kuburan baru wanginya, giginya sudah sangat bersih dan kalau saja dia berada di luar ruangan saat tersenyum pasti akan menyilaukan mata bagi yang melihatnya.
" Kalau kau kesal sekali, kau bisa mencari wanita di luar sana. Aku ini sudah terbiasa di khianati, jadi tidak akan kaget lagi, apalagi kau kan memang terbiasa begitu sebelumnya kan? "
Mike menggaruk tengkuknya yang tak gatal, entah mengapa dia merasa tidak enak padahal Lope kan baru saja dia kenal maki Lope adalah istrinya sekarang. Mike membuang nafas kasarnya, pasrah saja sudah.
" Aku akan ikut denganmu. " Ucap Mike yang pada akhirnya membuat Lope tersenyum tipis.
" Iya, terimakasih. "
Lope berbalik dan menatap Mike yang kini sedang mengeluarkan baju untuk dia kenakan.
" Mike.... "
" Apa? "
'' Tolong jangan begitu terburu-buru ya? Meskipun aku pernah berpacaran dengan beberapa pria, tapi melakukan hal seperti pasangan suami istri aku belum pernah melakukannya. Kau mungkin tidak akan mengerti, tapi ini sulit bagiku. Kau tahu juga kalau aku dari keluarga broken home kan? Pengalaman dia sekitarku mengajarkan banyak hal yang membuatku begitu harus berhati-hati. "
Mike terdiam dengan segala pemikirannya? Pertama kali? Kenapa rasanya mendengar itu dia begitu malu dan rendah diri? Kenapa begitu berbeda jauh dengan dirinya yang gencar sekali mengobral diri selama ini? Padahal kalau dipikir-pikir, lubang wanita sebenarnya sama saja rasanya, hanya dari bagaimana aktifnya pasangannya saat melakukan itu.
***
" Sayang..... Mau cicip tidak? " Tanya Nara dengan suara yang begitu manja dan menggoda. Ini baru saja pukul enam tiga puluh menjelang malam. Tapi Nara malah sudah gencatan senjata membuat Mario sakit kepala bukan main.
" Cicip aku lah.... " Nara mengerakkan satu tangannya mengusap lengan Mario membuat pria itu bergidik ngeri.
" Ka bukan makanan kenapa aku harus mencicipimu?! " Mario mencoba menjauhkan diri, ini dia baru saja selesai mandi, dan sudah di serang oleh Nara seperti ini, tentulah dia benar-benar tidak sanggup kalau harus berlama-lama begini kan?
" Duh, sayang..... Kenapa kau ini kolot sekali sih? Sini biarkan aku memijatmu! "
" Aku tidak mau! " Mario melotot marah.
" Aku ingin memijatmu saja kok, ayo sayang! "
" Aku bilang tidak mau! " Mario menepis tangan Nara yang terus mencoba meraih lengannya dan membawa Mario ke tempat tidur.
" Kenapa sih tidak mau? Aku kan hanya memijat saja? Apa kau takut aku sentuh bokongmu? Atau kau takut kalau aku memainkan cucungmu? "
Sudah, dia benar-benar tidak sanggup berdebat dengan Nara karena ternyata Nara adalah titisan Ibunya yang tak lain adalah Ariel.
" Jaga bicaramu, Nara! "
Nara tersenyum.
" Sayang, ini kedua kalinya kau menyebut namaku loh. "
" Masa bodoh! Menyingkirkan dari hadapanku, aku benar-benar kesal setiap kali kita berdekatan. Kalau boleh jujur, sebenarnya setiap kali melihatmu aku ingin sekali memasukkan mu ke dalam mulut buaya, atau kalau tidak, aku ingin sekali memasukkan mu ke dalam lumbung dan menumbuknya sampai halus, lalu menjadikanya makanan anjing. "
Nara menghela nafas, dia kembali tersenyum Meski hatinya kesal sekali dengan penolakan Mario. Padahal apa sih susahnya menjadi Mario? Lubang wanita sudah datang sendiri, menawarkan seperti tidak ada harga diri, menggodanya juga sudah. Jelas-jelas cucung Mario bisa bereaksi, lalu kenapa selalu menolaknya seperti ini sih? Batin Nara kesal.
" Aku tidak akan berhenti sampai kita berakhir ewita! " Tegas Nara.
" Jangan gunakan bahasa menggelikan itu! "
Ehem ehem....
Mario terkejut, begitu juga dengan Nara karena dia sama sekali tidak tahu jika mertuanya, yang tidak lain adalah Ariel ternyata menguping perdebatan mereka berdua.
" Sayang.... Ayolah jangan begitu menolakku, sekarang kau tahu kalau Ibu mertua ada di luar kan? Asal kau tahu saja ya? Ibu mertua bilang akan menikahkan mu lagi dengan wanita lain kalau kau tetap menolak ku. Apa kau bersedia mengurus dua istri nantinya?
Mario mengeryit, dia juga berpikir sebentar untuk berpikir.
" Beri aku waktu, sekarang aku belum memiliki kesiapan. Tunggulah sebentar lagi dan jangan terus mendesak ku dulu. "
Bersambung.