
Amira menatap Ariel dan Leo bergantian. Sungguh dia melihat Ko begitu berbeda dengan Leo yang ia kenal dulu. Tatapan yang penuh dengan cinta, senyum lembut itu, semuanya diberikan kepada seorang wanita yang kini sedang duduk di kursinya Leo. Sungguh luar biasa kan? Bahkan tempat duduk yang di khususkan untuk Presdir Nard alias Leo itu juga di bebaskan untuk wanita itu.
Bukan tidak menyadari jika wanita yang ada di dekat Leo terus mencuri pandang ke arahnya, tapi dia sedang menahan diri agar tidak terus menerus menuduh Leo tanpa bukti. Sebenarnya Leo memang tidak pernah terlihat kesal, tapi meksipun begitu bukan berarti hatinya tidak pernah kesal kan? Jadi sebisa mungkin kali ini dia harus bisa menjaga emosinya, dan usahakan agar tidak mengganggu pembicaraan yang jelas adalah masalah pekerjaan.
Tiga puluh menit kemudian, pembicaraan itu selesai, Amira dan sekretarisnya juga sudah harus segera meninggalkan Tempat itu.
" Semoga kedepannya semua berjalan semakin lancar. " Ucap Amira, dia menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Senyumnya yang terbit dengan indah sebenarnya cukup membuat Ariel merasa tak suka alias terganggu, tapi mau bagiamana lagi? Dia juga tidak bisa menunjukkan sikap cemburu tidak jelas detik itu juga kan?
" Semoga saja. " Leo menyambut uluran tangan Amira menjabat seperti saat dia bertemu tamu lainnya.
" Salam untuk wanita mu, kapan aku bisa menerima undangan pernikahan darimu? " Tanya Amira seraya mengembalikan tangannya. Sebenarnya maksud dari pertanyaannya kali ini adalah untuk mengetahui hubungan seperti apa yang dimiliki Leo dengan Ariel. Maklum saja, Amira yang benar-benar tergila-gila dengan Leo di masa itu masih belum bisa menghilangkan rasa itu hingga sekarang ini.
Leo tersenyum, dia menatap Ariel sebentar lalu tersenyum dan kembali menatap Amira.
" Kami sudah menikah, jadi maaf tidak bisa mengirim undangan pernikahan kepadamu. "
Amira memaksakan senyumnya, menyesal sudah dia bertanya tadi, karena kalau tahu jawaban yang akan dia dapatkan malah membuatnya sakit hati, jelas saja lebih baik tidak usah mengetahui apapun. Yah, padahal dia benar-benar masih berharap bisa merajuk kembali hubungan masa lalu yang berakhir begitu saja tanpa alasan yang jelas.
" Begitu ya? Selamat. " Ucap Amira karena tidak tahu harus menjawab dan menanggapi bagaimana ucapan Leo tadi.
" Terimakasih, kau juga semoga cepat menyusul. "
Amira memaksakan senyumnya, padahal dia juga punya tunangan yang di jodohkan dengannya oleh orang tua mereka, tapi karena belum tumbuh rasa cinta di hatinya untuk tunangannya itu, dia hingga kini masih terus ragu-ragu dan tidak pernah tahu apakah hubungan itu akan cocok di bawa ke jalur pernikahan atau tidak.
***
Daniel yang sudah tahu dimana Spehora tinggal kini dia mulai bergegas untuk menemuinya. Tidak meminta siapapun mewakilinya, dia memberanikan untuk datang seorang diri berharap Sephora akan Sudi berbicara dengannya nanti. Masalah istrinya dia baru saja berkonsultasi dengan pengacaranya dan akan segera mengakhiri atau memutuskan ikatan pernikahan yang menyakitkan dengan istrinya itu.
Dua jam lebih Daniel menempuh perjalanan untuk menuju sebuah rumah yang sepertinya Miki orang yang kaya dan berpengaruh. Daniel yang tahu jika tidak bisa bersikap seenaknya tentu saja akan sebisa mungkin menjadi sopan. Pertama dia menyapa satpam yang berjaga di sana, lalu sedikit bertanya tentang kabar, lalu menanyakan perihal Sephora.
" Nona Sephora ada di dalam, tapi beliau tidak di perbolehkan kemanapun kala tidak bersama Nona Ariel dan orang kepercayaannya. Maaf juga, Nona Ariel dan Nona Spehora juga sudah berpesan untuk menolak semua tamu yang akan datang menemui Nona Sephora, jadi saya tidak bisa menyampaikan pesan anda bahwa anda ingin bertemu dengan Nona Sephora. "
Daniel terdiam, jujur saja dia nampak sangat kecewa, tapi bisa apa dia kalau memang Sephora belum ingin menemuinya. Pastilah Sephora pernah memiliki dugaan kalau saja suatu saat dia akan datang untuk menemuinya, jadi dengan sengaja Sephora menolak semua tamu yang ingin menemuinya.
" Baik, memang sih beberapa hari Nona Sephora pergi ke Dokter. Tapi sepertinya itu bukan masalah serius, soalnya Nona Sephora juga baik-baik saja kok. "
Daniel mengeryit bingung. Mengunjungi Dokter? Apa ya h terjadi? Tak mau membuang banyak waktu, Daniel segera meminta izin kepada satpam untuk kembali. Sesampainya di mobil Daniel langsung mengeluarkan ponselnya, meminta orang kepercayaannya untuk membantunya mencari tahu dimana Sephora mengunjungi rumah sakit. Setelah mematikan sambungan telepon segera Daniel menuju rumah sakit yang paling dekat dengan rumah yang ditinggali Spehora.
" Aku harus mencari dimana Sephora memeriksakan diri. "
Setelah sampai di rumah sakit paling dekat dengan tempat Sephora tinggal sekarang ini, dengan segera Daniel mencari tahu apakah ada nama pasien Sephora yang memeriksakan diri di sana. Rupanya Daniel harus mendapatkan kabar yang tak sesuai harapan, karena ternyata Sephora tidak pernah sekalipun memeriksakan diri di sana.
" Sialan, pemilik rumah itu pasti melindungi Sephora dengan ketat. " Ujar Daniel setelah menghela nafas kesalnya.
***
Grade meringis merasakan perutnya yang terasa kram, ini sudah berlangsung beberapa hari, perut kram itu sudah seperti rutinitas harian yang sering di rasakan oleh Grade.
" Kau kenapa? " Tanya Onard saat dia melihat Grade keluar dari kamar mandi dengan posisi sedikit membungkuk, memegangi perut dan meringis seperti menahan sesuatu di perutnya.
" Perut ku kram lagi. "
Onard menghela nafas, benar-benar di merasa ada yang tidak beres dengan Grade, jadi dia putuskan untuk meminta Dokter langganan keluarga mereka untuk datang memeriksa.
Cukup lama menunggu karena saat menghubungi Dokter tadi dia tengah melakukan operasi kepada pasien di rumah sakitnya. Akhirnya dia sudah datang, tanpa menunggu lama segera Onard meminta Dokter untuk melihat bagaimana keadaan Grade yang sekarang sedang tertidur. Yah, seperti inilah Grade belakangan ini, dari pagi sampai sampai jam makan siang dia hanya akan tidur, bangun untuk makan, lalu tidak lama dia akan tidur lagi sampai sore, malamnya baru akan memeluk erat-erat tubu Onard seperti Onard akan lari jauh darinya. Hah! Tidak tahu apakah normal seorang Garde bertingkah aneh seperti itu, tapi tindakan Grade saat malam benar-benar membuatnya seperti jantungan karena terus berdebar. Mata boleh saja terpejam, tapi tangan Grade benar-benar tidak bisa diam, bergerak kesana kemari menyentuh sembarangan membuat Onard kesulitan untuk tidur di malam hari.
Dokter itu tersenyum setelah mengecek keadaan Grade.
" Saran saya, coba datangi Dokter kandungan untuk lebih memastikannya. "
" Oh. " Onard mengangguk sok paham, tapi begitu dia inga kembali apa itu Dokter kandungan, dengan segera dia melotot kaget menatap Dokter itu.
" Apa?! Dokter apa?! "
Bersambung.