
" Mike, ini sudah pukul enam tiga puluh, bangun dan mandilah, sarapan juga baju kerjamu sudah aku siapkan. " Lope menggoyangkan lengan Mike perlahan, bagaimanapun beberapa waktu lalu dia memang agak kasar cara membangunkan Mike sehingga Mike kesal dan hampir memukulnya, jadi mulai hari ini Lope merubah kebiasaan tidak baik itu, dan perlahan menjadi sosok istri yang lebih baik lagi.
" Aduh, itu masih subuh namanya, aku tidur lagi, nanti bangunnya satu jam dari sekarang. "
Lope terdiam, dia hanya menatap saja Mike yang sepertinya memang agak sulit Berubah. Tapi tak lama Mike segera bangkit dari posisinya berbaring memeluk bantal dan langsung menatap Lope dan tersenyum.
" Ah, aku tadi sedang berada di alam bawah sadar, aku tidak sengaja mengatakan itu, aku akan mandi sekarang. " Mata Mike benar-benar merasa sekali, suaranya berat khas bagian tidur, tai sungguh Mike benar-benar berniat mengubah kebiasaan buruknya yang membuat Lope merasa bahagia.
" Baiklah, aku keluar dulu membuatkan teh untukmu ya? "
" Iya **** ku..... "
Mike membuang nafasnya setelah Lope keluar dari kamar, ah! Memang benar-benar sulit sekali menjadi suami alias kepala rumah tangga. Bangun harus pagi sekali, padahal selama ini dia biasa bangun pukul tujuh tiga puluh atau pukul delapan kan? Yah, mau melawan pun dia tidak bisa karena lagi-lagi ya alasannya adalah karena tidak tahan saat harus mengahadapi diamnya Lope yang menyeramkan itu.
" Duh, kalau bukan karena lubangmu yang rasanya seperti nano nano alias macam-macam rasa menjadi satu, ogah sekali aku jadi suami yang baik. " Gerutu Mike sembari bangkit dari posisinya untuk menuju kamar mandi.
***
Wiliam menjulurkan sedikit lidahnya ke sisi bibirnya saat Moza menyiapkan sarapan dengan baju yang sangat seksi. Bagian dadanya separuh terlihat, belahannya yang indah itu benar-benar tidak boleh di lewatkan. Perutnya yang ramping, pinggulnya yang aduhai, aduh! Pokoknya semuanya yang ada tubuh Moza benar-benar uhuy sekali pokoknya.
" Hentikan tatapan mesummu itu, aku sebal melihatnya. " Ucap Moza yang sedari tadi tentu saja menyadari tatapan genit dari Wiliam. Meskipun tidak ada salahnya karena Wiliam adalah suaminya, tapi tetap merasa risih adalah hal yang lumrah.
" Sebal? Kok kalau malam aku menatapmu seperti itu kau malah membekas tatapan ku seperti itu juga? " Wiliam berucap sembari menjalankan satu tangannya mengusap lembut bokong Moza dan mengerakkan kuat menekan alias memijat membuat Moza membuang nafasnya.
" Wiliam, hentikan itu! Aku sedang menyiapkan sarapan untukmu. " Protes Moza.
" Sarapannya boleh ganti menu tidak? "
" Tidak! "
" Sebentar saja, satu celup dua celup juga boleh deh. "
" Celupkan saja otakmu ke panci sana! Siapa tahu nanti pikiran mesum yang ada di kepalamu ikut menghilang. "
" Ah, jangan jahat begitu. Lubang perempuan itu harus sering-sering digunakan, tanaman saja butuh di siram, masa lubangmu tidak? "
Moza membuang nafas kasarnya menahan kesal, pagi ini padahal dia ada jadwal mengajar, tapi kalau Wiliam sudah seperti ini, sungguh Moza sudah tahu, mengelak bagaimanapun dia tetap akan di hajar oleh Wiliam, yang katanya atau celup atau dua celup, maka artinya adalah puluhan, ratusan juga bisa jadi.
***
" Sayang, besok aku mau datang ke pesta pernikahan temanku, kau bisa ikut tidak? " Tanya Nara sembari menggeser cangkir teh untuk lebih dekat dengan Mario.
" Besok aku kan pergi ke luar kota. "
" Aku ikut! "
" Kota yang mau di datangi kan cuma tiga jam perjalanan kalau menggunakan mobil, kenapa harus ikut? Nanti kau lelah di perjalanan, lagi pula kau ingin datang ke pesta pernikahan temanmu kan? "
Nara terdiam dengan wajah sebal, bagaimanapun Nara selalu saja banyak berpikir berlebihan kalau jauh dari Mario. Bahkan saat Mario bekerja sama dia tak henti-hentinya mengirimkan pesan bertanya apa yang sedang di lakukan Mario, kalau tida juga mendapat balasan, Nara sudah akan langsung saja berpikir yang bukan-bukan pada akhirnya dia kesal sendiri.
" Aku mau ikut, bukannya pepatah mengatakan, dimana kaki suami berpijak, di sanalah pula kaki istri berada. "
Mario terdiam dengan dahi mengeryit, kapan dan sejak kapan pepatah itu ada?
" Nara, kau sedang mengkhawatirkan apa sebenarnya? "
" Memang aku tidak boleh khawatir? Aku mengkhawatirkan tentang makanmu, juga mengkhawatirkan kalau saja ada wanita yang mencoba mendekatimu, aku itu tidak mau kalau sampai ada wanita lain di kehidupan rumah tangga kita. "
Mario menghela nafas, lagi-lagi cemburu yang berlebihan, jujur saja lama kelamaan Mario juga merasa terganggu dengan sikap kekanakan Nara, bagiamanapun bukankah pasangan suami istri seharunya saing mempercayai? Kenapa Nara sama sekali tak ingin melakukannya? Cemburu tidak jelas hanya karena mimpi, novel, menonton drama, semuanya itu benar-benar membuat Mario lelah. Masalah pekerjaan di luar kota itu, di sana ada proyek besar yang harus dengan tekun benar di kerjakan, jadi dia tidak bisa membawa Nara karena di sana pasti akan ada beberapa gadis yang memiliki tanggung jawab untuk berjalannya proyek itu. Nara mudah sekali cemburu, jadi salahkan Mario untuk kali ini saja egois?
" Hentikan bersikap kekanakan, Nara. Aku pergi untuk bekerja bukan tebar pesona untuk mengidap gadis. "
" Tapi, bisa saja gadis itu yang menggodamu bukan? Bagiamana kalau saat kalian makan bersama gadis itu memberikan obat di minuman atau makananmu, lalu nanti kalian berakhir dengan ewita, lalu gadis itu hamil, meminta pertanggung jawaban darimu, bagaimana denganku? "
Mario membuang nafas kasarnya, gila! Dia benar-benar lelah sekali menghadapi Nara yang paranoid setiap waktu.
" Cerita itu, darimana kau melihatnya? " Tanya Mario sebentar menahan kesal.
" Novel. "
" Mulai besok, bakar semua novelmu! "
" Novel online. "
" Buang ponselmu kalau begitu! Nara, kau ini sudah bukan anak belasan tahun yang begitu mudah mendalami cerita novel dan menjadi paranoid karenanya. Aku pergi benar-benar untuk bekerja, jadi jangan menyamakan aku dengan tokoh pria di dalam novel yang bodoh itu! " Mario bangkit dari duduknya, meninggalkan Nara yang terdiam karena tercengang dengan sikap Mario yang begitu dingin dan terlihat benar-benar marah padanya.
" Paranoid? Aku jadi paranoid ya? " Nara memegangi dadanya yang sesak mengingat saat dia melihat tatapan marah Mario serta ucapan Mario yang begitu lantang.
Nara mengusap air matanya yang jatuh tanpa izin darinya, memang benar apa yang di katakan Mario tadi. Seharusnya dia tidak perlu khawatir berlebihan, bagaimanapun Mario bukanlah pria yang mudah untuk di goda, kalaupun memang benar ada masanya Mario tergoda atau tidak sengaja, seharusnya dia mempercayai saja Mario.
" Bodoh! Kau ini terlalu larut mencintai Mario, Nara. Sadarlah kau menikahi Mario karena apa, dan wajar saja Mario bersikap begitu, dia adalah pria yang di rugikan karena harus menikahimu! "
Bersambung.