
Mike dan Wiliam ternganga heran melihat Mario pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Padahal niat mereka ingin pamer habis-habisan karena mereka akan jadi Ayah, mumpung Mario belum sukses menghamili istrinya, eh malah kabur begitu saja kan mereka jadi sebal tidak bisa pamer. Padahal ini adalah hal yang bisa mereka pamerkan kepada Mario yang sangat sulit di jatuhkan kesombongannya.
" Nara? " Mario terdiam tak lagi ingin memanggil Nara karena melihat Nara yang begitu nyenyak tidurnya. Mario menghela nafas, dia berjalan pelan mendekati Nara dan duduk di pinggiran tempat tidur menatap wajah Nara yang tengah tertidur pulas.
Benar, tadinya dia ingin membicarakan perihal telatnya datang bukan Nara yang sudah hampir dua Minggu. Tapi kalau Nara saja tertidur nyenyak mana mungkin dia tega membangunkan Nara? Mario tersenyum tipis lalu perlahan menggerakkan jari telunjuknya untuk menyentuh wajah Nara dan mengusapnya perlahan.
Sungguh di luar dugaan kalau perempuan bertubuh kecil itu justru mampu membuatnya tak berkutik. Mulutnya yang lebih tajam dari pada dirinya, sikap kurang ajar dan sangat suka mengoceh, malah pada akhirnya akan membuat hatinya merasakan sesuatu yang tidak biasa, cinta? Iya! Mario tidak bodoh sehingga dia dapat menyadari perasaan spesial untuk Nara. Benar, dia memang belum pernah sekalipun menyatakan perasaan cinta Seperti saat dia aja berpacaran dengan Luna dulu. Tapi untuk hubungan suami istri seperti sekarang ini bukankah tindakan adalah hal yang nyata di banding sebatas tiga kalimat simple yang orang sinting saja bisa mengatakannya?
" Dasar licik, bagaimana bisa kau membuatku jadi seperti ini? " Gumam Mario pelan.
Mario perlahan bangkit dari posisinya, berjalan memutar untuk menuju ruang kosong di sebelah Nara. Malam ini Nara tidur memunggunginya, memang tidak biasa kecuali saat Nara marah saja, tapi okelah! Dia tidak akan menganggap berlebihan, lalu perlahan memeluk Nara dari belakang.
Besok paginya.
Seperti biasa, Mario pasti akan bangun lebih pagi dari pada Nara. Hari ini adalah hari Minggu, jadi Mario tidak menggunakan pakaian kantor melainkan pakaian rumah.
" Sayang, sudah bangun dari tadi? " Tanya Nara setelah bangkit dari posisinya dan sebentar mengusap matanya yang masih terasa berat.
" Sudah. " Jawab Mario, lalu dia meletakkan laptop di pangkuannya dan berjalan mendekati Nara yang masih duduk di atas tempat tidur.
" Nara, kau belum datang bulan kan? "
Nara mengeryit sembari mengingat-ingat benar atau tidaknya. Yah, maklum saja setiap harinya dia hanya tahu menggoda Mario, sampai datang bulan telat pun dia tidak berasa.
" Memangnya iya ya? "
" Iya, aku kan paling hafal tanggal berapa kau datang bulan. "
Nara tersenyum senang.
" Jadi selama ini kau sangat memperhatikanku ya sayang? "
Mario menghela nafas, bagaimana bisa tidak ingat? Setiap tanggal menstruasi Nara akan terus saja banyak tingkah. Belum lagi kalau marah-marah tidak jelas, dia yang menyimpan ponselnya dia pula yang marah karena tidak menemukannya. Lagi, setiap Nara datang bulan pasti ada saja noda darah yang menempel di sprei kasur jadi paginya Mario bahkan harus ikut membantu untuk melepaskan spreinya.
" Iya, anggap saja begitu. Kau mau coba cek tidak? "
Nara terdiam sebentar, sebelumnya dia sudah mencoba yang namanya alat uji kehamilan di rumah, dan hasilnya mengecewakan padahal sudah telat beberapa hari. Sekarang ingin mencobanya dia jadi merasa takut, takut kalau nanti hasilnya mengecewakan dirinya sendiri juga Mengecewakan Mario.
" Kenapa diam saja? " Tanya Mario bingung.
" Kau apa mulai tidak sabar untuk punya anak? "
Mario mengeryitkan dahinya bingung, bukan! Bukan itu masalahnya!
" Aku kan takut nanti kalau hasilnya negatif. " Ujar Nara memasang wajah sedihnya.
" Kalau negatif ya sudah, kan lebih baik cepat cari tahu supaya tidak terlambat untuk memeriksakan kehamilan. "
Nara menatap Mario dengan tatapan serius.
" Kalau hasilnya negatif, kau tetap tidak boleh mencari wanita lain untuk dihamili ya? Tidak boleh sewa rahim perempuan apapun alasannya karena membawa perempuan lain ke dalam rumah tangga kita juga adalah hal yang amat salah. "
" Novel yang kau baca itu benar-benar membuatku kesal, tidak bisakah buat cerita yang lain saja? Sewa apartemen, sewa rumah, sewa kios, sewa kamar hotel, kenapa sih harus ada segala rahim di sewakan? " Gerutu Mario kesal sendiri.
" Tapi drama dan Novel tentang rahim sewaan memang ramai loh. "
" Nara, mau coba cek atau tidak, kalau tidak aku mau keluar sebentar untuk cari lambung sewaan untuk menggiling otakmu. "
Nara memukul lengan Mario dengan wajah sebal.
" Lambung kan cuma bisa mengunyah makanan. Iya aku akan ke kamar mandi, untung saja masih ada sisa alat uji kehamilan di rumah. "
Mario membuang nafas kesalnya begitu Nara masuk ke dalam kamar mandi. Lagi-lagi rahim sewaan, benar-benar membuat kepalanya sakit saja, gerutu Mario di dalam hati.
Sebenarnya Mario bukan terburu-buru untuk memiliki anak, dia hanya tidak tahan saja melihat wajah bloon Mike yang terlihat sangat bahagia, mimik Wiliam yang sombong seolah ingin menjelaskan dan berkata, lihat aku nih! aku sudah berhasil menghamili istri, kau belum yah? Apa punyamu sungguhan bisa berdiri? Cih! Kalau saja Nara belum hamil ya dia juga tidak bisa memaksa dan dia hanya bisa sabar menghadapi wajah bahagia Mike dan Mario yang seperti pantat babi baginya. Tapi jika Nara sungguhan hamil, maka yang akan Mario lakukan pertama kali adalah menghubungi Mike dan juga Wiliam, mengatakan dengan sombong dan angkuh bahwa istrinya juga hamil, itu kan bisa membuktikan bahwa cucungnya bisa berguna bagi Nusa dan bangsa. Eh, tidak bukan bukan bukan! Maksudnya berguna bagi Ibu negaranya yang adalah Nara seorang.
Beberapa saat kemudian.
" Sayang! "
Mario tersentak, dia segera bangkit dari posisinya dan segera menuju kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi dengan Nara.
" Ada apa, Nara? Kau, tidak apa-apa? " Mario berjalan mendekati Nara yang terduduk di atas closed sembari menangis tersedu-sedu.
Mario berjongkok untuk menyeimbangkan tingginya dengan Nara. Mario meraih kedua tangan Nara yang menggenggam erat alat uji kehamilan, lali menatapnya dengan lembut.
" Nara, jangan sedih lagi ya? Pernikahan kita kan belum lama, menunggu beberapa waktu lagi juga bukan masalah. Tidak usah bersedih, Kitakan bisa mencobanya terus? "
" Aku bukan sedih! " Nara menyeka air matanya.
" Kalau kenapa kau menangis? "
" Ini! Lihat ini! Aku hamil, kita akan punya anak! " Nara menunjukkan alat uji kehamilan yang menunjukan dua garis dengan jelas.
Mario terdiam membeku. Hamil? Nara hamil?
" Sayang, sebentar lagi kita akan punya anak! " Nara memeluk Mario erat dan kembali menangis bahagia. Mario yang tadinya ingin menyombongkan diri jika saja Nara benar-benar hamil justru tak mengingat akan hal itu sama sekali. Dia bahagia, bahagia sekali karena Nara sebahagia itu sampai menangis, juga membayangkan akan ada bayi yang lahir dalam hitungan bulan lagi.
" Kau bahagia sekali karena kebaikanmu ya? Lihat air matamu sangat banyak. "
" Tapi ada yang membahagiakan dalam hal lain. " Ujar Nara seraya menyeka air matanya.
" Apa? "
Nara tersenyum.
" Sayang, sembilan bulan kedepan aku kan tidak datang bulan, jadi bisa lanjut terus tanpa libur kan? "
Bersambung.