Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 14



Mario duduk di atas tempat duduknya dengan wajah syok tak percaya level tinggi. Dia sudah duduk dengan ekspresi seperti itu sekitar satu jam lebih lamanya. Sungguh dia tidak percaya dengan apa yang terjadi beberapa saat lalu, tentunya juga dia tidak menyangka kalau pada akhirnya dia akan mematahkan gelar biksunya.


Beberapa saat lalu.


Mario dan Nara bergantian untuk mandi karena suhu tubuh mereka mulai semakin terasa panas. Anehnya begitu mereka selesai mandi justru suhu tubuh mereka semakin panas tak terkendali. Akhirnya Mario dan Nara begitu sibuk memperebutkan siapa yang akan mandi terlebih dulu.


" Dengar ya, suami harus mengalah dari istri! " Ucap Nara karena Mario tak mau mengalah sama sekali.


" Aduh! Kau ini tidak pernah dengar ya kalau istilah dari kata suami itu artinya raja? Raja yang harus kau utamakan, paham tidak?! "


Mario mencoba untuk menyingkirkan tubuh Nara yang begitu ingin masuk ke dalam kamar mandi, dan Mario sedang menahannya karena dia ingin lebih dulu mandi tentunya.


" Raja apanya?! Kalau kau raja artinya aku ya ratu! Ratu itu adalah orang yang hebat dan harus di utamakan juga! "


" Jadi bagaimana?! " Kesal Mario frustasi.


" Bagaimana apanya?! Karena kita sama-sama harus di utamakan, kita mandi saja bersama! "


" Mandi bersama apa? Ti tidak mungkin kau serius kan? " Mario keheranan dan gugup.


" Cepat! "


Nara menerobos saja masuk, lalu segera menarik lengan Mario untuk ikut masuk. Jujur saja Mario benar-benar sudah merasakan ada yang tidak beres dengan bagian bawahnya hingga ingin berjalan normal saja agak tidak leluasa, di tambah dia juga sudah mengenakan pakaian dalam.


Gugup, mereka berdua benar-benar gugup tapi mau bagaimana lagi kalau panas di tubuh mereka tidak bisa di kontrol. Sudah seperti itu mereka juga tidak lagi memikirkan siapa yang bersalah, kini mereka hanya fokus mencoba mendinginkan tubuh di bawah guyuran shower yang kencang. Mereka beberapa kali saling mencuri pandang, Shower yang jelas tidak bisa memenuhi ruangan jangkauannya membuat Nara dan Mario mendekat hingga tubuh mereka menempel satu sama lain.


Nara, gadis itu mencoba mengontrol dirinya yang terus ingin bertindak lebih. Jujur, dia benar-benar sudah menahan diri sekuat mungkin untuk menentang Mario karena dia juga takut kalau nanti Mario justru mendorongnya dan itu akan membuatnya merasa sangat terluka. Sebenarnya Mario juga sama, bohong saja jika dia begitu teguh pendirian, karena sedari tadi dia terus membayangkan apakah dia sedang saja Nara? Bagaimanapun Nara adalah istrinya, tapi hatinya terus mengatakan jika wanita hanya akan membuatmu kesulitan, wanita adalah sumber masalah, dan wanita juga membawa bad mood yang pantas untuk dihindari.


" Apa kau sudah lebih baik? " Tanya Mario kepada Nara yang saya ini berekspresi aneh. Meksipun di bawah guyuran shower jelas sekali Nara seperti sedang menahan sesuatu dengan kedua matanya yang memerah, kedua tangannya yang mencengkram kain baju yang tengah ia gunakan.


" Tidak, aku sedang sangat buruk sekarang. "


Lama kelamaan Nara benar-benar tidak tahan, sementara Mario masih mencoba sebaik mungkin bertahan meski seluruh tubuhnya sudah bergetar. Nara melepaskan pakaian yang ia gunakan meninggalkan menutup dada dan bagian bawahnya. Cukup, sudah cukup dia bertahan, sekarang entah dia akan di dorong sampai terjatuh atau di pukul dia benar-benar tidak bisa memiliki pilihan lain selain menerimanya.


" Mario, kau tidak boleh menolak ku, jadi jangan mendorongku. "


Mario menatap Nara dengan tatapan yang dalam hingga dia diam saja begitu Nara mendekatkan bibirnya dan menyergap dengan semangat bibir Mario. Hatinya lagi-lagi masih ingin menolak dengan mengatakan betapa tidak baiknya memiliki urusan dengan wanita, tapi sial karena tubuhnya berkata lain dan ternyata dia diam saja serta menikmati betapa nyamannya ciuman dari Nara barusan.


Cukup lama Nara mencium bibir Mario hingga saat Nara ingin melepaskan diri tanpa sadar Mario menahan punggung Nara, mulai kembali menyatukan bibir mereka dengan sangat membara. Entah ini akan berakhir seperti apa, tapi harapan Mario adalah cukuplah saja mereka berciuman seperti itu. Tapi anehnya tubuh Mario benar-benar ogah mendengarkan apa yang sedang di minta otaknya, tubuhnya benar-benar menikmati sentuhan yang begitu terasa nyaman dan indah.


Perlahan tangan Mario menggerayang mencari beberapa titik pada bagian yang ingin dia sentuh. Nara juga hanya bisa mengikuti apa yang di lakukan Mario kepada dirinya, mulai dari sentuhan di punggung, naik ke tengkuk, membuka penutup dadanya dan memegang dan mengerakkan tangan dengan lembut di sana, lalu turun lagi ke punggung, bokong, dan sekarang tangan itu tengah menyentuh bagian yang paling inti dari Nara.


Tahu, dia benar-benar tahu apa yang sedang dilakukan tangannya, tapi kegiatan itu benar-benar membuat dirinya merasa begitu nyaman dan juga sangat dingin. Nara, gadis itu benar-benar sudah bisa di bilang kehilangan kesadaran. Bagaimana tidak? Dia sama sekali tidak ingat akan apa itu rasa malu, canggung, dia benar-benar fokus menikmati apa yang sedang dilakukan oleh Mario kepadanya, berharap keindahan itu tidak segera berakhir.


Nara juga tak mau kalah, dia mengikuti adegan seperti yang banyak dia tonton di film dewasa. Dia menyentuh bagian Mario, mengusapnya dengan lembut, lalu segera membantu Mario membuka kain penutup itu dengan cepat.


Sekarang baik Nara ataupun Mario sudah sama sekali tidak menggunakan apapun di tubuh mereka. Sebentar mereka saling menatap dengan pemikiran mereka masing-masing. Tapi tak lama penyatuan bibir mereka kembali terjadi, dan tak lama dari itu Mario semakin Kehilangan kendali. Dia membawa tubuh Nara untuk menempel ke dinding, mengangkat tubuhnya dan menuntun kedua kakinya untuk melingkari pinggulnya, sementara dia menahan dengan memegangi pinggul tapi tak menghentikan kegiatan mereka yang sedang saling menautkan bibir.


" Mario, jangan seperti ini aku mohon.... Kita ke tempat tidur saja dulu ya? "


Mario tak mau ambil pusing dan membuang waktu lama karena tubuhnya juga semakin tak terkendali sehingga dengan segera dia membawa tubuh Nara untuk keluar dari kamar mandi, dan menjatuhkannya di atas tempat tidur.


Kala itu mereka sama sekali tidak paham kalau nanti mungkin saja mereka akan menyesal sehingga mereka berdua benar-benar seperti sepasang singa kelaparan yang sedang menyantap makanan.


Kembali ke masa sekarang.


" Aku benar-benar tidak bisa jadi biksu lagi? " Gumam Mario dengan tatapan yang masih saja syok parah.


Nara yang saat itu sedang tidur memunggungi Mario hanya bisa tersenyum puas penuh kemenangan.


Bersambung.