
Seperti kebiasaan mereka, Mario yang baru pulang dari kantor akan dengan cepat berjalan menghampiri Nara, lalu mengecup kening dan mengecup bibirnya. Yah, kalau tidak begitu pasti Mario akan mendengar Nara merengek, atau Nara yang akan merenggut terus menerus.
Jika saja boleh memilih, maka Mario lebih memilih menarik Nara masuk ke dalam kamar, lalu melakukan itu tanpa ada orang yang tahu. Tapi mau bagiamana lagi? Warna rambut boleh sama, pemikiran jelas berbeda. Mario dan Nara adalah dua karakter yang berbeda, tapi uniknya perbedaan itu mampu membuat mereka nyaman satu dengan yang lainnya. Kembali lagi, meskipun ada beberapa part di mana Mario merasa agak berat melakukannya, begitu juga dengan Nara, tapi berkat karakter berbeda dari mereka berdua akhirnya mereka selalu menemukan jalan tengah yang selalu menjadi yang terbaik untuk mereka.
Nara yang kala itu tengah berada di ruang keluarga seorang diri tentu saja merasa senang karena Mario tak pernah sekalipun melupakan rutinitas itu.
" Sayang aku- " Nara mengeryit mendapati bau yang tidak asing di tubuh Mario, dan lagi-lagi dia harus merasakan tidak nyaman di perutnya.
" Sayang, kau bertemu dengan wanita itu ya? " Tanya Nara lalu dengan cepat menutup mulutnya karena mual itu lagi-lagi datang.
Mario mengeryit, lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" Wanita siapa? "
" Itu, wanita itu! "
" Aku bertemu banyak wanita setiap harinya, aku bingung wanita siapa yang kau maksud. "
Nara memutar matanya karena jengah.
" Mantan kekasihmu yang namanya, Lu- emh! " Nara menutup mulutnya yang lagi-lagi mual sekali setiap kali ingin menyebut nama Luna atau bahkan membayangkan tentang Luna.
" Oh, Luna? "
Pak!
Nara melotot marah sembari memeluk pelan lengan Mario, dan terus menahan mual, yah dia kesal karena Mario menyebut nama Luna di hadapannya yang semakin membuat perutnya seperti di kocok rasanya.
" Tidak bisa di bilang bertemu seperti yang kau pikirkan, hanya saja hari ini dia datang ke kantor dan membicarakan masalah kerja sama dengan sekretaris, aku tidak sengaja saja berpapasan di lift. "
Nara menggeleng karena tidak tahan lagi, dia segera bangkit dari duduknya dan berlari menuju toilet berada.
Mario menghela nafas, tentulah dia merasa bingung karena tingkah Nara benar-benar seperti anak-anak. Ah, tapi ya sudahlah. Memang begitulah Nara, karena Nara adalah istrinya, dia juga harus menerima baik dan buruknya Nara.
Di dalam kamar mandi.
Nara terdiam setelah lelah terus mual tapi tak ada yang keluar apapun melalui mulutnya. Perutnya benar-benar sakit, bahkan sakitnya naik hingga ke ulu hati. Nara terdiam mencengkram kain baju yang ia gunakan, dia benar-benar sedih sekali hingga matanya dengan cepat mengeluarkan air mata. Kenapa? Itu karena Mario bahkan tidak datang dan bertanya apakah dia baik-baik saja atau tidak. Padahal dia berharap Mario akan ikut masuk ke dalam kamar mandi dan mengusap punggungnya seperti tokoh suami dalam novel, drama, dan komik romansa yang dia baca. Tapi ya, ini adalah salahnya karena terlalu menuntut dan mengharapkan suaminya seperti tokoh dalam Novel dan drama. Bukankah menurut pria itu adalah hal yang keterlaluan? Tapi sialnya Nara benar-benar mengharapkan suaminya perhatian seperti tokoh yang dia maksud.
" Ibu...... " Nara sesegukan memanggil Ibunya lirih, ternyata memang belum ada yang bisa mengalahkan kasih dari Ibunya, perhatian seperti Ibunya. Nara membatin seandainya saja di sana ada Ibunya, pasti Nara akan begitu senang karena Ibunya pasti akan memperhatikan Nara dengan sangat.
" Sialan, kenapa juga sih aku jadi cengeng begini. Padahal dulu juga Mario lebih cuek dan tidak perduli sama sekali, tapi aku kan memiliki hati sekuat baja, badai aku terjang, angin topan aku lawan, takut apa? " Nara menyeka air matanya, lalu membuang nafas untuk mengurangi pikiran yang tidak perlu dia pikirkan.
" Sadarlah, Nara. Mario bahkan sudah banyak berubah, jangan menuntut lagi, dia akan muak kalau kau terus seperti ini. " Nara perlahan bangkit dari posisinya, lalu berjalan keluar untuk masuk ke dalam kamarnya karena tadi dia menggunakan kamar mandi yang ada di di dekat ruang keluarga.
Begitu dia masuk ke kamar, rupanya Mario sudah berpakaian karena dia sudah selesai mandi.
" Mau langsung makan malam, atau mau minum teh dulu? " Tanya Nara kepada Mario.
" Makan malam saja. "
" Ya sudah, aku tunggu di meja makan ya? "
Mario mengeryit bingung.
" Aku sudah selesai, kenapa tidak mengajakku sekalian? "
" Oh, ya sudah ayo. "
" Nara? " Panggil Mario seraya melangkahkan kaki menuju meja makan bersama dengan Nara tentunya.
" Iya? "
" Aku membuat kesalahan? Apa kau marah karena aku tidak sengaja bertemu dia? " Tanya Mario yang tahu kalau dia tidak harus menyebutkan nama Luna saat itu.
Nara tersenyum lalu menggelengkan kepala.
" Tidak kok, kenapa bertanya begitu? "
" Kau, seperti sedang menjaga jarak. "
" Tidak kok, perasaanmu saja.
Mario tak lagi bicara, tapi dia tetap terus berpikir apa sebenarnya yang sudah dia lakukan, atau apa yang sebenarnya terjadi sehingga Nara menjadi seperti sekarang ini.
Begitu sampai di meja makan, Ariel dan juga Leo sudah menunggu, sementara Luis tidak bisa ikut makan malam karena ada acara bersama dengan teman-temannya.
" Nara, wajahmu pucat sekali, kau baik-baik saja? " Tanya Ariel yang tentu saja khawatir. Dia sudah dua hari tidak pulang kerumah karena ikut Leo untuk keluar kota mengurus beberapa hal. Jadi dia bisa dnegan jelas melihat perbedaan wajah Nara begitu dia melihat Nara.
Mario sontak menatap wajah Nara, memperhatikan dengan seksama, dan dia baru benar-benar sadar kalau wajah Nara memang agak pucat.
" Nara, ada apa? Kau sakit? " Tanya Mario, dan tentulah dia khawatir juga menyalahkan diri sendiri yang tidak teliti memperhatikan istrinya.
Nara tersenyum lalu menggeleng cepat.
" Tidak kok, Bu. Sepertinya karena aku lupa pakai lipsbalm deh. " Ujar Nara lalu kembali tersenyum.
Leo menghela nafas, lalu menatap Mario dengan tatapan dingin. Yah, Mario bisa mengartikan tatapan itu, Ayahnya pasti marah sekali dan menyalahkan dia kalau sampai benar terjadi sesuatu dengan Nara.
" Coba saja kau cek tekanan darahmu, Nara. Lebih baik mengetahui sejak dini kan? "
Nara tersenyum lalu mengangguk.
" Nanti aku antar ke rumah sakit ya? " Ucap Mario.
" Tidak usah, aku tidak apa-apa kok. " Ujar Nara.
" Oh iya, rencananya besok aku akan ke rumah orang tuaku, jadi sekalian aku pamit, Ayah, Ibu, dan Mario. "
Mario terdiam, dia sedikit mengeryit lalu menatap Nara.
" Memang ada acara apa? " Tanya Ariel.
" Tidak ada acara apapun sih Bu, tapi aku memang rindu Ayah dan Ibuku. " Jawab Nara.
" Oh, baiklah. Kau akan menginap? " Tanya lagi Ariel.
" Iya, mungkin sekitar dua hari. "
Ariel terdiam sebentar.
" Nara, apa terjadi sesuatu dengan kalian berdua? " Tanya Ariel menatap Mario dan Nara bergantian.
Bersambung.