
Wiliam menatap kesal Moza yang berpura-pura saja tidak melihat tatapan itu. Dia justru sibuk dengan piringnya dan fokus untuk menghabiskan saja makanan di piringnya karena setelah ini dia harus menyelesaikan kegiatannya untuk mempelajari beberapa buku yang baru di berikan ayahnya. Moza sudah akan mulai aktif sebagai Dosen bulan depan, jadi dia benar-benar harus berusaha sebisanya untuk menambah wawasan.
Masih tidak membalas tatapan mata sebal darinya, Wiliam semakin menjadi kesal tapi sayangnya dia juga tidak bisa berbuat apapun. Tentu saja bukan karena dia merasa takut kepada orang tuanya kalau nanti terjadi pertengkaran, itu semua karena dia takut tidak bisa mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan sebagai seorang suami. Masih tidak paham juga, oke maksudnya adalah ewita.
" Nanti kau harus membayar apa yang kau lakukan padaku tadi. " Ucap Wiliam yang pada akhirnya tidak bisa menahan diri lebih lama lagi hanya untuk menunggu Moza bereaksi padanya.
Moza terdiam sebentar, lalu kembali melanjutkan apa yang memang sedang dia lakukan yaitu, membereskan piring kotor bekas makan mereka berdua, lalu mencucinya.
" Jangan diam saja, aku ini kan sedang mengajakmu bicara. " Ucap lagi Wiliam tapi masih tidak ditanggapi oleh Moza. Sebenarnya bukan Moza tidak ingin melayani Wiliam tadi, hanya saja Moza paling tidak suka ketika waktu tidurnya terganggu. Mereka memang sudah menikah, bisa di bilang juga waktu yang di miliki Moza juga akan menjadi milik Wiliam juga. Tapi apakah memang tidak boleh ada batasan dan toleransi sehingga tidur nyenyak saja sulit baginya? Jujur saja, semenjak menikah dengan Wiliam dia benar-benar sulit tidur bahkan tidak jarang sekali dia menghabiskan malam hanya dengan membaca buku hingga hampir pagi.
" Cih! Apa-apaan sih? Kalau seorang suami tidak mendapatkan apa yang seharusnya didapatkan, tentu saja dia jadi akan malas melakukan pekerjaannya. Kau kan tahu benar sekarang aku harus menghidupimu, jadi kau harus menyemangati ku supaya aku tidak jadi pengangguran. "
" Oh..... " Ujar Moza yang kasihan juga kalau tidak di tanggapi padahal sudah panjang lebar Wiliam berbicara. Hanya Oh saja, karena memang Moza tidak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan Wiliam barusan.
" Oh ah oh! Ucapanku barusan sungguhan tahu tidak? Nanti kalau aku malas bekerja bagaimana aku akan menghidupimu? Masa iya aku harus jadi babi ngepet? Tidak mungkin kan? Lagian mana ada babi ngepet setampan aku? " Gerutu Wiliam entah masa bodoh saja di dengar atau tidak ucapannya barusan. Kalau di tanya kenapa tidak pergi menemui wanita lain, maka jawabannya hanya satu yaitu, rasa tubuh Moza tidak sama seperti wanita yang pernah melakukan itu bersamanya. Ada perasaan tidak puas dan ingin lagi, lagi, seolah dia begitu ketagihan luar biasa.
" Aku ke kamar duluan ya? Tolong pastikan pintu depan sudah di kunci juga. " Ucap Moza kalau meninggalkan Wiliam di sana dengan wajah sebalnya.
" Ke kamar duluan? Cih! Tidak mungkin dia ingin mandi lagi kan? Ah! Pokonya masa bodoh saja, terobos saja lah. Moza kan istriku sendiri, masa iya dia akan melaporkan seorang suami karena melecehkan istrinya sendiri kan? "
Benar saja, begitu masuk ke dalam Wiliam langsung membawa tubuh Moza ke atas tempat tidur. Padahal saat itu Moza sedang bersiap untuk kembali membaca bukunya.
" Wiliam! "
***
Mike melongo saja melihat apa yang sedang di lakukan oleh Lope. Wanita cantik itu tengah memeriksa dompet Mike, mengeluarkan semua kartu pribadi milik Mike juga kartu kredit yang di berikan oleh kedua orang tuanya. Benar, ada nasehat bijak untuk tidak memeriksa dompet suami apapun alasannya. Tali masalahnya, Mike itu adalah pria yang bisa dengan muda menghamburkan uangnya untuk wanita-wanita liar yang jelas bukanlah hal baik untuknya.
Apa yang dia lakukan ini juga sudah ia runding kan dengan keda orang tua Mike, semuanya ini Lope lakukan agar Mike lebih pandai menghargai uang dan memilah mana yang lantas untuk uangnya dan mana yang tidak.
" Mike, aku tidak akan menyita semua kartumu karena aku tahu itu tidak akan mudah untukmu. Sebenarnya kedua orang tuamu memintaku untuk mengambil semua kartu pembayaran yang kau miliki, tapi aku benar-benar tidak tega jadi aku sita selebihnya karena aku berharap kau bisa lebih bijak lagi dalam memperlakukan uangmu.
" Mike, aku tidak akan sekejam itu kok. Untuk transportasi tentu saja itu akan tetap lancar. Hanya saja, kalau sampai kau macam-macam di luar sana, aku berjanji tidak akan segan-segan menunjukan betapa jahatnya aku. "
Mike menelan salivanya sendiri.
Sudah cukup, Mike benar-benar tidak ingin terus tertekan seperti ini karena dia takut perasaan tertekan itu akan membuatnya merasa kalau pernikahan ini, lebih tepatnya Lope adalah beban hidup untuknya. Sekarang yang harus dia pikirkan adalah bagiamana dia terus bisa mempertahankan rumah tangganya dengan Lope karena bagaimanapun kelangsungan isi dompetnya ada di tangan kedua orang tuanya yang bergantung dengan respon Lope selama menjadi istrinya.
" Oke deh, ya sudah biar aku tidak bisa macam-macam di luar sana, bagaimana kalau pagi sebelum berangkat bekerja kita anuan dulu, jam makan siang aku akan pulang untuk melakukan itu lagi, malamnya adakah wajib tanpa boleh ada jadwal yang kosong. "
Lope terperangah dengan apa yang di katakan Mike. Yah, mau bagaimana lagi kalau memang Mike seperti itu.
***
Mario menahan tawanya melihat bagaimana Nara berjalan. Kedua kaki merenggang, satu tangannya memegangi pinggang dan satu lagi menyentuh dinding untuk memperkokoh tubuhnya.
" Istriku, apa bagian lobang mu butuh aku pijit? Sepertinya dia sedang keram. "
Nara menggigit bibir bawahnya menahan malu dan kesal. Padahal dia sedang kesakitan seperti itu, apakah tidak ada niatan ingin membantunya dengan benar begitu?
" Heh! Bukan lubangku yang kram, tapi kakiku pegal karena terlaku banyak goyang ngebor. Yah maklum saja, suamiku itu sangat suka terlentang begitu saja, iya kan? "
Mario mengeryit dengan tatapan tidak setuju. Terlentang apanya? Bukankah biasanya posisi itu adalah posisi yang biasanya di gunakan Nara?
" Oh, begitu ya, istriku? Jadi bagaimana kalau biarkan aku memijatmu lalu setelahnya itu, aku akan menunjukan padamu bahwa terlentang bukanlah gayaku. "
" Cih! Jangan sok lupa ya? Awal-awal saja aku lah yang mengarahkan gayamu yang payah itu. Hanya tau melenguh ah.... ih.... uh.... eh.... oh.... tapi tidak mau bereaksi lebih. "
Bersambung.