
Lelah sudah memandangi photo Luna, Mario menjauhkan photo itu, lalu memilih untuk menatap langit malam yang begitu cerah di penuhi bintang-bintang bertebaran. Dia sengaja duduk di bawah pohon taman rumahnya menatap langit berharap kegundahan dan juga perasaan tidak nyaman yang dia rasakan segera menghilang dari dirinya. Kalau boleh jujur sebenarnya dia agak cemburu dengan Mike dan juga Wiliam yang begitu mudah mengganti pasangan dan meniduri mereka sesuka hati. Tapi bagaimana lagi karena perasaan trauma yang ia rasakan masih begitu terasa. Dia tidak ingin terlibat dengan wanita yang pada akhirnya hanya akan membuatnya terluka, gelisah pagi siang dan malam, membuatnya tak bisa tenang bahkan untuk bernafas.
Andai saja Luna tak begitu mempengaruhi hidupnya, mungkin dia bisa bahagia dan memacari beberapa wanita seperti kedua sahabat yang juga adalah saudaranya sendiri. Kadang dia juga merasa kalau dia sudah keterlaluan dengan menunjukan betapa tidak tertariknya dia dengan wanita, padahal dia sendiri juga sama sekali tidak menyukai pria begitu lah juga dia tak menunjukan ketertarikan terhadap pria. Rumor memang bisa dia tahan saat mendengarnya, tapi yang menyedihkan adalah dia tidak mampu mengatakan tidak atau mengelak saat ada orang yang menuduhnya menyukai sesama jenis.
" Berhentilah memandangi photo wanita lain, Suamiku tersayang. "
Mario tersentak dan menoleh segera. Hah?! Kenapa dan bagaimana bisa tiba-tiba Nara ada di sebelahnya. Sialan! Wanita itu bahkan tersenyum dengan begitu lebar membuat Mario ngeri sendiri dan berniat untuk kabur dengan segera.
" Tidak boleh kabur, sayang! "
Nara memeluk Mario erat-erat membuat wajah Mario pucat pasi menahan diri agar tak mendorong Nara. Nanti kalau Nara memekik lalu Ibunya dengar, bisa-bisa dia lah yang akan kena ocehan Ibunya.
" Na Nara, tolong lepaskan aku ya? "
Mario menelan salivanya sembari mengerutkan tubuhnya agar bagian dada Nara yang menyentuh lengannya sedikit menjauh. Yah, memang dia pernah menyentuh dada Luna dulu, tapi tetap saja rasanya aneh karena Nara begitu agresif dan juga seperti tidak tahu malu. Anehnya Mario juga seperti tidak menolak dengan tubuhnya, tapi otaknya berkata jika membuat Nara kesal sepertinya dia akan berada di zona bahaya.
" Lepas ya tentu saja boleh-boleh saja. Tapi aku kesini membawa teh herbal buatan Ibu loh. "
Nara melepaskan pelukannya membuat Mario bisa mengusap dadanya dengan perasaan lega.
" Ini. "
Mario mengeryit menatap Nara dengan tatapan curiga.
" Ayolah, kau tanya saja Ibumu. Teh ini Ibu yang buat, dia bilang kau terlihat sedih jadi dia memintaku membawakan ini untukmu. Dia juga memintaku untuk menemanimu disini makanya ada dua cangkir teh herbal. " Ucap Nara yang sepertinya memang terlihat tidak berbohong.
" Kenapa kau memandangi photo wanita ini? Kau tidak sedang merindukannya kan? " Nara melihat photo seorang gadis yang berdiri di sebelah Mario, mereka saling mengaitkan jemari dan tersenyum dengan begitu indah, wajah mereka benar-benar terlihat penuh cinta tapi sialnya Nara malah ingin muntah melihatnya. Dulu dia juga punya kekasih yang sangat mencintainya, selalu memprioritaskan Nara dibanding apapun, menjadi tempat untuk Nara berbagi kesedihan, dia juga selalu menuruti apa yang Nara inginkan. Tapi, suatu hari ketika kedua orang tuanya mulai tidak stabil karena kerusakan yang terus merosot, dan lama kelamaan perusahaan keluarga mereka hampir di nyatakan bangkrut tiba-tiba pria itu bersikap dingin, tak mau lagi mengenal Nara, bahkan semua akun media sosial Nara langsung di block. Semua photo Nara yang ada di media sosial pria itu lenyap seolah ingin menunjukan secara langsung kepada Nara bahwa dia tidak menginginkan Nara lagi.
" Aku sedang merindukan penampilan ku di photo itu. "
" Kau jelek di photo ini, sekarang baru tampan luar biasa. "
Menyedihkan sekali, karena yang menjauhinya bukan hanya kekasih yang dulunya selalu menatapnya penuh cinta, tapi sahabatnya juga mulai kompak menjauh dari Nara dengan berbagai alasan. Setelah hari itu Nara benar-benar seperti hidupnya begitu hancur, di tambah lagi Ayahnya yang stroke tapi tidak bisa berobat karena uang yang mereka miliki sangat terbatas sekarang ini.
Sekarang hanya kepada Mario lah Nara mempertaruhkan nasib keluarganya, sekaligus untuk menampar wajah orang-orang yang meninggalkannya di saat dia kesulitan beberapa waktu lalu. Tidak usah perduli harga diri, tidak usah memperdulikan apapun yang tidak ada hubungannya dengan dia, intinya Nara hanya perlu melakukan ini agar orang tuanya tak melulu berada di bawah gunjingan dan tekanan orang lain.
" Ayo diminum, sayang. " Ucap Nara dengan lembut, sungguh dia tahu jika teh buatan Ibu mertuanya di campur sesuatu seperti pil yang di haluskan. Tapi tidak masalah, dia tahu benar jika mertuanya bukan lah orang jahat apalagi memiliki niat membunuh anak dan menantunya jadi dia tetap akan meminum teh itu bersamaan dengan Mario.
Mario menghela nafasnya, sebentar dia melihat teh itu, menatap dengan cermat karena dia seperti mencurigai adanya yang tidak wajar di dalam teh itu.
" Sudahlah, minum saja. Lihat, aku juga minum kok. " Nara menyeruput perlahan teh itu, barulah dia tersenyum meski di dalam hatinya memaki tidak enak dan pahit sekali.
Mario tak lagi ragu meski masi merasa curiga, dia menyeruput teh itu perlahan hingga lumayan banyak juga yang sudah di minum oleh Mario. Tak lama setelah meletakkan teh, Mario merasa jika tubuhnya perlahan-lahan menjadi panas, dia pikir dia demam, tapi saat menyentuh dahinya jelas dia tidak sedang demam. Anehnya dia juga gelisah dan tubuhnya tidak bisa tenang seperti ada sesuatu dari dalam yang ingin mendobrak untuk keluar dari sana.
" Aku, aku sepertinya demam deh. " Ucap Nara yang merasakan hal sama seperti Mario.
" Bukan, bukan kita demam. " Sekarang Mario benar-benar yakin kalau ada sesuatu yang tidak biasa di teh yang tadi ia minum. Sial! padahal dia sempat tersentuh oleh teh itu karena menganggap Ibunya semakin pengertian dan menyayanginya, tapi tidak tahunya Ibu yang super super luar biasa itu ingin menyiksanya.
" Lebih baik kita masuk ke dalam saja yuk? Kita butuh mandi sepertinya. " Ajak Nara yang tidak tahan dengan hawa panas dari dalam tubuhnya.
Mario segera bangkit tanpa menjawab, iya! Sepertinya mandi dengan air dingin dapat menurunkan suhu panas dari dalam tubuhnya sehingga dia dan juga Nara bergegas ingin mandi. Hanya ada satu kamar mandi saja di kamar mereka sehingga sempat mereka berebutan siapa yang akan mandi lebih duluan, tapi karena tidak ada yang mau mengalah, Nara dan Mario memutuskan untuk mandi berdua meski masih menggunakan pakaian mereka.
" Tidak bisa, hawa panasnya malah semakin menjadi. " Ucap Nara saat tubuhnya dan tubuh Mario bersentuhan.
Mario mencoba untuk mengatur nafasnya, iya dia juga merasakan hal yang sama seperti Nara.
Bersambung.