
Nara membantu untuk menyiapkan sarapan pagi ini. Sebenarnya sudah semalaman dia tidur memunggungi Mario karena dia merasa begitu malu dan gugup kalau harus melihat Mario setelah apa yang terjadi kepada mereka berdua semalam.
Ariel, sedari tadi dia hanya bisa menyembunyikan senyum bahagianya, tentu saja karena dia yakin obat yang sangat super manjur itu sudah membuat kedua anak dan menantunya ehem ehem alias ewita. Duh, apalagi saat melihat leher Nara yang banyak sekali tanda merah, tentulah saja dia semakin merasa bahagia karena setidaknya kali ini anaknya, putra tampan yang dia lahirkan terbukti bisa menunjukkan kemampuannya dan berhenti menjadi biksu tanpa kuil.
Begitu semua sudah berada di meja makan, Ariel mengembangkan senyum sempurnanya karena tidak tahan lagi melihat bagaimana Mario terlihat sangat tidak biasa. Wajah syok benar-benar belum menghilang bahkan saat makan pun masih jelas terlihat.
" Ngomong-ngomong, kapan ya cucu untuk Ibu lahir? "
Nara menelan salivanya sendiri dengan tatapan terkejut, sementara Leo, pria itu hanya bisa menatap kedua bola mata Ibunya dengan tatapan memohon agar tidak melanjutkan ucapannya. Bagaimanapun malam pertama yang di jalani oleh Mario dan juga Nara agak tidak biasa. Bukan ingin terus menolak sampai akhir untuk menyentuh Nara, hanya saja saat itu Mario benar-benar belum setiap untuk melakukanya. Selain kesan pertama bertemu Nara adalah sama seperti beberapa gadis yang mencoba untuk menggodanya, dia jadi merasa ragu dan terus membatasi diri agar tidak terlibat dengan wanita seperti Nara dan kemunginan untuk mempermainkan perasaannya pasti sangat besar.
" Kami baru pertama melakukannya semalam, Ibu mertua. Jadi butuh beberapa kali percobaan lagi, iya kan sayang? " Nara tersenyum menatap ke samping, tempat dimana Mario tengah berada.
" Aku tidak bi- "
Mario berhenti bicara saat tangan Nara menyentuh pahanya dengan gerakan yang benar-benar sukses membuatnya merinding parah.
" Tidak akan mengecewakan Ibu, iya kan sayang? " Ucap Nara tersenyum dengan tatapan mata mengancam meminta agar Mario mengiyakan ucapannya tadi. Heh! benar-benar menyebalkan yang namanya Nara, dia pikir Mario bisa di tunda begitu padahal selama ini dia adalah tokoh utama yang menjadi tersangka penindasan. Tapi oh tapi, kali ini Mario benar-benar tidak sanggup dengan tangan Nara yang semakin bergerak semakin dekat dengan bagian terlarang sehingga Mario dengan segera mengiyakan.
" Iya! Iya! Kau tidak akan mengecewakan Ibu! "
" Kita janji kok, mulai sekarang kami akan lebih banyak melakukan aktivitas untuk berkembang biak supaya cepat melahirkan anak, iya kan sayang? " Nara mengerakkan lagi tangannya membuat Mario lagi-lagi mengiyakan tanpa pikir panjang asal bisa selamat dari tangan Nara.
" Iya tentu saja! " Mario menatap Nara dengan tatapan mengancam, tentu saja maksudnya adalah untuk menyingkirkan tangan Nara dari pahanya. Tapi sayang, Nara justru membalas senyumnya, dan tangannya justru menari-nari di sana membentuk pola bulatan beberapa kali yang pasti membuat Mario merasa geli tentunya.
Tak ingin lebih lama seperti itu, Mario menurunkan satu tangannya untuk menyingkirkan tangan Nara, tapi di tepis oleh Nara dan akhirnya tangan terus menjadi bertengkar di sana.
Lukas yang tidak sengaja menjatuhkan sendoknya menunduk untuk mengambil sendoknya, tapi sial sekali karena yang ia lihat malah pemandangan yang begitu aneh luar biasa. Nara dan Mario saling menepis tangan dan beberapa kali Nara mencoba untuk menyentuh bagian terlarang alias bagian dewasa seorang pria. Lukas menelan salivanya, dia dengan buru-buru segera membenahi posisinya agar tidak perlu melihat apa yang sedang terjadi di bawah meja.
" Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya semalam? "
" Enak! " Jawab Nara.
" Gila! " Jawab Mario dengan kedua bola mata yang membulat sempurna karena pernyataan ibunya itu.
Ariel tersenyum.
" Maksudnya, gila! Enak sekali kan? "
" Iya. " Jawab Nara dengan wajah memerah menahan malu. Bagiamana tidak malu? Meksipun selama ini dia sudah mencoba untuk terus memahami ibu mertuanya dan terbiasa, tetap saja dia tidak bisa menandingi Ibu mertuanya soal ini.
Leo dan Lukas memilih untuk fokus menikmati makanan mereka. Leo merangkul Lukas dengan satu tangannya dan terus menepuk punggung anak keduanya itu. Bagaimanapun Lukas benar-benar terlaku unyu untuk diracuni pembicaraan Seperti itu.
" Ayah, aku gemetaran. " Ucap Lukas pelan.
" Tenanglah, Ibumu benar-benar bisa menjadi obat mujarab, tapi juga bisa menjadi racun. Kalau dia sedang beracun seperti ini, tolong menjauhlah dan memilih untuk tidak tahu apapun, kau mengerti? "
Lukas mengangguk meski dia sendiri begitu ngeri.
" Ayah, apa ada perasaan menyesal menikahi Ibu? " Bisik Lukas lagi.
" Sampai sekarang sih belum merasa seperti itu, kalau ada yang seperti Ibumu malah Ayah ingin menikahinya juga. "
" Simpan ucapan barusan, anggap saja kau tidak pernah dengar, kau mengerti? "
" Mengerti, tapi tidak bisa janji. "
" Bajingan! Dari mana keberanianmu ini berasal? "
" Aduh, maaf Ayah, maaf deh. "
***
Mike memaksakan senyumnya begitu menyambut hangat jabatan tangan dari para saudara dan kerabat dari Lope. Ini sudah dua jam dia ikut nimbrung menyambut tamu-tamu yang ikut merayakan hari pertunangan saudara dari istrinya.
" Penelope, ini kenapa tidak juga berhenti tamunya? " Bisik Mike kepada Lope dengan tatapan sebal.
" Sabarlah sebentar lagi ya? Kau tahu sendiri tamu yang datang kebanyakan dari calon pasangan kakak ku kan? " Lope memaksakan senyumnya, mau bagaimana lagi? Dia sendiri juga merasa begitu lelah tapi tetap harus terlihat bersemangat.
" Aduh, kakiku pegal sekali. " Keluh Mike kepada Lope, jelas dia masih berbisik.
" Sabar, nanti aku pijat kakimu. "
" Sungguh? "
" Iya. "
" Yang lain boleh sekalian tidak? "
Lope membuang nafas kasarnya.
" Iya, nanti aku pijat. "
" Anuku juga tolong di pijat ya? Sepertinya dia pegal. "
Lope sebenarnya ingin sekali memukul kepala Mike siapa tahu dengan pukulan darinya otak Mike bisa sedikit diperbaiki. Tapi di depan banyak orang tidak mungkinkan melakukan itu?
" Anu mu kan tidak di gunakan beberapa waktu ini, kenapa dia pegal? "
" Justru karena lama di anggurkan dia pegal menunggu. Dia juga hampir saja lupa bagaimana caranya bangun loh, memang tidak kasihan kalau cucung kesayangan ini karatan? "
" Aku tiba-tiba ingin pergi saja dari sini. " Lope membuang nafas kasarnya dengan wajah sebal, memang tidak heran kalau mulut Mike selalu membahas ini. Padahal belum lama dia mengatakan kepada Mike untuk sabar menunggu sampai dia siap.
" Duh, mau ke kamar sekarang Lope Lope ku sayang? " Mike mantap Lope dengan tatapan yang begitu mesum.
" Tidak, aku sibuk. "
" Yah, padahal kalau lobang donatmu terlalu lama di biarkan akan tumbuh sarang laba-labanya loh, apa tidak sayang kalau begitu? Duh, aku malah jadi ngeri juga kalau lubangmu lumutan. Jadi, biarkan suami tercintamu ini mencegah hal mengerikan itu terjadi ya? "
" Diam, bajingan! "
Bersambung.