Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 36



Wiliam menatap Moza yang tengah di dikerubungi oleh para mahasiswa, sepertinya membuatkan Moza menjadi dosen di kampus bukanlah hal baik untuk ketenangan hati, jiwa dan raganya. Bagaimanapun mencari wanita yang memiliki rasa berbeda seperti Moza kan sulit, jadi dia enggan berbagi dengan pria manapun juga. Usianya memang baru akan dua puluh enam tahun, usia Moza juga tidak jauh darinya, tapi mahasiswa di sana juga kan sudah dewasa bukan tidak mungkin bisa menggaet Moza kan? Duh! Benar-benar sial sekali karena setiap membatin hal seperti itu dia selalu saja merasa kesal sendiri, batin Wiliam.


" Lama sekali kau mengobrol dengan mereka? Kau mau membuatku mati bosan disini ya? Asalkan mau tahu saja, menunggu itu adalah hal yang paling, amat, sangat, super menyebalkan dan membuat orang ingin membelah bumi!, Kalau saja tida berada di dalam mobil, aku pasti sudah- " Wiliam tak lagi melanjutkan ucapannya saat kedua bola matanya bertemu dengan mata Moza yang dingin dan sangat membuatnya ngeri. Iya, iya Iya, Wiliam seharusnya tidak mengoceh sembarangan padahal Moza baru saja masuk ke dalam mobil.


" Kau sudah selesai bicara? "


Wiliam menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan hanya menjawab memalui senyum kikuk.


" Ucapanmu barusan benar kok, menunggu itu adalah kegiatan yang paling amat, sangat, super menyebalkan sampai ingin membelah bumi, dan aku juga sedang bertarung melawan perasaan yang katanya amat, sangat, super menyebalkan dan bla bla bla karena aku pun sudah lama menunggu. "


" Apa yang kau tunggu? "


" Sifat gatelmu menghilang. "


Senyap, Wiliam benar-benar tidak bisa mengatakan apapun lagi karena ucapan Moza barusan sungguh membuat ulu hatinya berasa di tinju sampai ingin mampus.


" Jangan sok menderita karena menunggu kalau kau tidak pernah menjadi aku. Setiap hari hanya mendengarkan Omelan keluarga kita, aku menunggumu membantuku menyelesaikan masalah itu tapi sampai detik ini pun aku masih harus maju sendiri. Belum lagi menghadapi sifat cabulmu yang tidak ada habisnya itu, aku benar-benar sudah hampir kehilangan kesabaran. Paginya Lusy, siang ada Karina, sore ada Prita, malam ada Jennifer, dini hari ada Lawrence, subuh ada Dichie, hah! Benar-benar mengherankan kenapa aku harus menikah dengan pria gila sepertimu dan membuang otak encerku untuk menunggu suami gilaku itu berubah menjadi lebih baik. "


Wiliam sebenarnya ingin protes karena semua itu tidaklah benar. Memang iya ada beberapa wanita yang menghubunginya, tapi tidak serajin itu sampai setiap waktu ada. Lagi, semua nama itu juga banyak yang Wiliam tidak kenal sama sekali. Tapi mau bagaimana lagi? Lebih baik mendengarkan ocehan Moza asalkan masih bisa ewita dengannya itu sudah lebih dari cukup kok.


" Iya, besok aku berubah deh. "


Moza membuang nafas kasarnya.


" Besok, besok, besok, bosan aku mendengar kata itu. "


" Iya, aku akan berusaha yang terbaik pokoknya. "


" Oh iya? "


" Iya! "


" Club'? "


" No! "


" Drunk? "


" No! "


" Girl? "


" No! "


" Chating? "


" No! Eh, tunggu sebentar ponselku berbunyi. "


Wiliam sudah mendapatkan ponselnya, dia bersiap untuk menerima panggilan telepon itu, tapi begitu matanya bertemu dengan mata Moza secara tidak Sengaja, Wiliam terdiam dan membeku begitu saja. Setelah beberapa detik dia membuang Ponselnya ke kursi belakang.


" No! No kok, no! Aku janji deh! "


***


Mario membuang nafasnya, tidak tahu sebenarnya apa yang di pikirkan Nara karena begitu berubah menjadi sangat manja setelah dia bermimpi Mario berselingkuh.


" Nara, kalau ingin pergi main atau bosan, ajak saja orang lain ya? Aku ini harus bekerja untuk memberimu makan, agar kau bisa membeli apa yang kau inginkan jadi jangan aneh-aneh. "


Nara menaikkan satu sisi bibirnya dengan mimik sebal.


" Ya sudah, aku menginginkanmu, apa bisa aku beli waktumu? "


" Aku bukan barang. "


" Cih! Tapi kau kan suamiku, kau itu ya milikku! Masa iya ingin bersama miliknya sendiri harus sesulit ini? "


Mario sebenernya benar-benar ada rapat yang sangat penting pagi ini, kalau terus berdebat dengan Nara tentu aja dia akan melewatkan rapat penting tersebut, jadi mau tidak mau dia hanya bisa membawa Nara ke kantor, toh dia juga pasti akan merasa cepat bisa kalau pulang dengan sendirinya nanti.


Di dalam mobil.


Nara menyenderkan kepalanya di pundak Mario mengabaikan sopir yang tidak tahu apakah dia melihat ataukah tidak. Nara benar-benar tidak ingin apa yang di mimpikan itu terjadi, setidaknya dia akan bersikap manja seperti ini sampai dia benar-benar hamil nantinya.


" Duduklah yang benar, Nara. " Pinta Mario karena dia sendiri juga merasa pegal. Nara menggeleng, dia justru memeluk erat lengan Mario seolah enggan pergi dari sana karena itu terasa nyaman untuknya.


Mario membuang nafas kasarnya, jujur saja dia mulai menyukai Nara dan menerima Nara sebagai seorang istri untuknya. Tapi, beberapa waktu dia juga sebal dan kesal tapi tak bisa dia ungkapkan, contohnya seperti sekarang ini, dia benar-benar ingi sekali menjitak kepala Nara karena amat kesal. Entah suami lain ada yang seperti dia atau tidak, tapi sekesal apapun Mario tida berani memukul Nara, karena dia tahu benar dia membutuhkan Nara, dan apa yang sudah Nara berikan dan korbankan tidak akan sebanding dengan secuil kekesalan yang ia rasakan.


Sesampainya di kantor, Nara benar-benar ogah melepaskan Mario, dia membuat tangannya dan tangan Mario saling bergandengan. Yah, dia sengaja ingin menunjukan kepada semua orang bahwa dia adalah istrinya Mario, jadi tidak ada yang boleh mengganggu gugat.


***


" Mike, ini sudah siang dan kau masih saja ingin tidur?! " Lope menatap Mike yang begitu sulit di bangunkan padahal dia sudah berkali-kali membangunkannya. Ini sudah pukul delapan lewat, jadi Lope sudah tidak bisa menahan lagi sehingga dia memutuskan untuk mengambil air dari dalam kamar mandi dan membasuh wajah Mike. Masih tidak bangun karena Mike hanya bergerak sebentar tak membuka mata, Lope menyiramkan sisa air itu ke wajah Mike.


" Ah! " Mike bangkit dengan tergesa-gesa sembari mengusap wajahnya.


" Lope! " Mike bangkit dengan wajah kesalnya, dia sudah mengangkat tangan tapi dia tak mengayunkan tangannya ketika matanya dan mata Lope bertemu.


" Kau ingin memukulku? Kau benar-benar memiliki niat itu? "


Mike tersadar dan perlahan menurunkan tangannya. Ia sungguh reflek, karena saat dia sedang lelap tidur dan di ganggu, Mike memang akan sulit mengontrol emosinya.


" Lain kali jangan ganggu aku saat aku tidur, dan kau juga keterlaluan barusan. " Ucap Mike mencoba sebisa mungkin meredam emosinya.


Lope tersenyum Kelu.


" Ayah mertua sudah puluhan kali menghubungimu, dan ini juga sudah pukul delapan lewat sudah hampir setengah sembilan. "


" Apa?! "


" Haha.... Benar-benar sial sekali karena aku memiliki suami sepertimu, aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau kita punya anak. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan betapa menderitanya dia memiliki Ayah pemalas sepertimu, mungkin memang ada baiknya kita mulai menjaga jarak agar aku tidak hamil. " Lope menyeka air matanya yang sulit untuk dia tahan.