
Mario keluar dari ruangannya bersama dengan Nara, ini sudah selesai jam kerja jadi tidak ada alasan lagi untuk mereka tetap di sana, lagi pula juga sangat bahaya jika mereka lama di satu ruangan seperti tadi. Hah! Untunglah saja dia ada meeting penting tadi, karena kalau tidak, yakin sekali dia tadi sudah habis di makan oleh si Nara.
" Sayang, kita makan malam di luar saja yuk? Nanti kalau sudah selesai bagaimana kalau kita langsung menginap di hotel? Kita ini kan setelah menikah belum juga bulan madu, ya anggap saja menginap di hotel adalah bulan madu kita. "
Mario menghela nafas, dia benar-benar tidak mau kalau sampai tidur di hotel karena takut pasti yang ada akan terjadi hal tidak biasa antara dia dan juga Nara.
" Sayang..... Kok tidak di jawab sih? " Goda Nara sembari mencolek pipi Mario membuat pria itu mengeraskan rahang menahan diri agar tidak kesal dan melakukan hal yang tidak boleh di lakukan. Apalagi dia juga sedang mengemudikan mobil, kalau dia sampai kehilangan konsentrasi juga akan bahaya untuknya. Untuknya saja loh ya, masa bodoh saja bagaimana Nara nanti.
" Nara, tolong lihat kondisi juga kalau ingin berbuat aneh. Kalau sampai aku tidak konsen dan celaka, aku benar-benar akan menunggumu habis tidak perduli bagaimana caramu membayarnya nanti. "
Nara terkekeh, dia sebenarnya ingin meletakkan kepalanya di lengan Mario, tapi melihat bahwa memang Mario sedang mengemudi tentu saja dia tidak berani. Yah, nyawa kan cuma ada satu, jadi sayang nyawa timbang misi cinta adalah hal yang paling benar kan?
" Aku bisa membayarnya kok. "
" Cih! Orangtuamu kan sedang bangkrut. "
Nara terdiam sebentar karena sebal tak bisa membantah ucapan Mario. Tapi yah, bagaimanapun Mario sekarang adalah suaminya, dia juga sudah banyak mendengar banyak dari Ibu mertuanya sehingga bisa menerima Mario dengan lapang dada saja meski tetap menggerutu di dalam hati.
" Sayang, aku kan punya tubuhku ini untuk membayarmu. "
Mario menelan salivanya, sialan! Benar-benar sialan karena dia tidak bisa lagi berkata-kata. Padahal dia benar-benar sangat kesal sekali.
***
" Kau dari mana? " Tanya Moza sembari meletakkan buku yang baru saja ia baca untuk menghampiri Wiliam yang baru saja kembali ke rumah, tepatnya ke kamar mereka.
" Gym. " Jawab Wiliam singkat, sebenarnya Wiliam benar-benar masih belum bisa menerima betapa hebatnya aura Moza yang begitu keren dan jauh berada di atasnya.
" Ibumu bilang untuk datang ke rumahnya nanti, mengajakku juga tentunya. "
Wiliam menghela nafas, dia masuk semakin dalam ke kamarnya untuk meletakkan barang-barangnya dan bersiap untuk mandi.
" Bilang saja kepada Ibuku aku tidak bisa datang. "
Moza membuang nafasnya dengan kasar.
" Bilang saja sendiri, aku tidak sanggup menjawab pertanyaan Ibumu yang terus bertanya kapan kita akan pergi bulan madu, dan juga pertanyaan seputar pernikahan kita. "
Wiliam terdiam, dia berbalik kembali menatap Moza yang sekarang duduk di pinggiran tempat tidur.
" Tinggal bilang saja kita sibuk dan tidak ada waktu untuk bulan madu. " Ucap Wiliam menggampangkan saja, bagaimanapun dia memang tidak ingin bulan madu dengan wanita yang auranya mengalahkan dirinya, di tambah lagi dia merasa kalau Moza adalah wanita yang sulit di hadapi jadi dia malas saja memiliki banyak urusan apalagi banyak interaksi yang jelas itu tidak menyenangkan baginya.
" Memang aku suka berbohong apa? Jangan sok tahu! "
Moza bangkit dari duduknya untuk mendekatkan diri kepada Wiliam yang berdiri tak jauh dari pintu kamar mandi.
" Kau masih menjalin hubungan dengan seorang gadis di luar sana, kau juga aktif sekali mengirim pesan, mengirim photo satu sama lain melalui aplikasi dating. Kau juga memiliki janji temu akhir pekan besok, iya kan? Itu namanya kau suka membohongi orang tuamu kan? "
Wiliam terperangah keheranan, iya memang benar dia tepat seperti apa yang dikatakan Moza, tapi masalah terbesarnya adalah dari mana Moza mengetahui semua itu? Padahal dia bertukar pesan selalu saat di luar rumah, sampai di rumah Ponselnya juga selalu bersih tanpa chat dari siapapun yang mencurigakan.
" Dari mana tuduhanmu itu berasal? "
Moza tersenyum miring.
" Dari mananya kau tidak perlu tahu. "
Wiliam terdiam, sungguh Moza memang wanita yang sulit untuk di mengerti, tapi wanita yang begini pasti akan mudah untuk di taklukan dengan ancaman kan?
" Ngomong-ngomong, kita sudah menikah selama beberapa waktu, tapi masih belum juga merasakan bagaimana malam pertama kan? Bagaimana kalau kita coba sekarang? "
Moza sebentar membuang pandangan karena merasa begitu jengah oleh ucapan Wiliam yang bisa di bilang sama dengan pria menyebalkan di masa lalunya.
" Maaf sekali, kalau kau memang begitu mendambakan malam pertama denganku, yang harus kau lakukan itu banyak sekali. Pertama, aku tidak menyukai pria yang bau badan, kotor luar dalam, wajah jelek, nafas bau, rambut berantakan, ini adalah yang paling penting, yaitu aku tidak terlalu suka pria yang bulunya tidak banyak, aku juga suka semua hal dalam bagian tubuh berukuran besar, dan untuk yang barusan aku yakin sekali kau pasti memahami apa maksudnya. Ada lagi, aku tidak suka yang durasinya seperti kilatan petir, dan aku suka benih pria yang berkualitas tinggi. Jadi, tolong penuhi lah semua itu sebelum kau membicarakan malam pertama denganku. "
Wiliam menggeleng tidak percaya.
" Gila, aku baru tau kalau ternyata aku di nikahkan dengan wanita yang tidak punya hati. "
***
Mike buru-buru untuk segera kembali ke rumah karena ini sudah satu Minggu setelah dia mengetahui jika Lope datang bulan, tentulah satu Minggu adalah waktu yang cukup banyak untuk menunggu berakhirnya masa menstruasi wanita kan?
" Istriku, aku pulang! " Mike dengan segera membuka pintu kamarnya untuk mencari keberadaan Lope. Tidak ada di kamar, tapi segera Mike membersihkan diri barulah dia akan mencari keberadaan wanita yang membuatnya penasaran seminggu ini. Bagiamana rasanya, apakah memegang dada dan bokong kecil akan memiliki sensasi berbeda? Ah, sudah tidak tahu! Sekarang memang harus segera menemukan yang namanya Lope agar dia bisa segera menyelesaikan puasa bagi si kemoceng berbulu miliknya.
" Sayangku, masa hibernasimu akan segera berakhir loh..... Hehehe.... " Gumam Mike sembari menatap ke arah benda bawah miliknya, atau mari kita sebut saja kemoceng berbulu.
Dengan semangat Mike membersihkan tubuhnya, setelah itu dia merapihkan diri dengan menggunakan minyak wangi dan minyak rambut agar semakin uhuy ketika melakukan ewita bersama Lope sebentar lagi.
Bersambung.