Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 82



Sephora meringis merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dia yang tak berdaya dengan tubuh itu memaksakan diri untuk bangkit dari tempat tidur, menjauhkan diri dari pria yang bahkan tidak dia kenali sama sekali. Sebentar Sephora menatap pria itu dengan tatapan sedih karena ingat dengan jelas bagaimana pria yang tida dia kenal itu begitu buas menyerang tubuhnya tanpa kenal ampun.


Rasanya ingin memukul pria yang sedang tidur di atas tempat tidur dengan nyenyak itu, tapi dia juga takut kalau akan membuatnya terbangun dan malah kembali menyerangnya seperti tadi. Sekarang dia benar-benar tidak tahu harus kemana setelah semua ini terjadi. Menemui Bram bukanlah hal yang mungkin karena bekas pria tak di kenal itu benar-benar begitu banyak di tubuhnya. Datang kerumah Leo dan Ariel juga tidak mungkin setelah apa yang dia lakukan, menemui Ibu dan Ayahnya juga tidak berani dengan penampilannya sekarang.


Setelah Sephora selesai berpakaian, segera dia berjalan pelan berharap bisa segera bebas dari ruangan dimana pria brengsek yang tidak dia kenal itu berada. Sudah akan meraih handle pintu, tapi pria yang dia kira sedang tertidur nyenyak justru meraih pergelangan tangannya, menarik tubuhnya menjauh dari pintu.


" Kau mau kabur? Heh! Jangan mimpi, aku suka rasamu, jadi kau harus tetap disini menemani ku saat aku ingin bermain, dan jangan harap kau bisa pergi sebelum aku bosan. " Ucapnya pelan berbisik di telinga Sephora.


Untuk pertama kali, Sephora begitu takut menghadapi seorang pria. Cara bicara pria itu, cara menatap, cara dia tersenyum miring seolah menyiratkan maksud tertentu, semua benar-benar membuat Sephora tertekan. Entah apa yang terjadi dengan pria itu, Sephora benar-benar yakin kalau ada kesalahpahaman di antara mereka berdua yang harus segera di selesaikan agar dia juga bisa segera pergi dari sana.


" Tuan, tolong jangan begini, ayo bicara baik-baik dulu. Aku benar-benar tidak mengenalmu, kau pasti salah mengenali orang. "


Pria itu berdecih, dia mendorong tubuh Sephora kembali ke tempat tidur. Menggerakkan kedua kakinya untuk menahan Sephora yang ingin bangkit dan kabur dari sana.


" Aku sudah membeli mu, jadi jangan sok jual mahal, hanya perlu temani aku bermain sampai puas. "


Sephora menatap dengan tatapan terkejut, dahinya juga mengeryit karena tidak paham maksud dari ucapan pria itu.


" Membeli? Aku bahkan tidak pernah menjual diri, bagaimana mungkin ada yang membeli? "


Pria itu menatap sinis seolah meremehkan ucapan Sephora.


" Aku benar-benar muak menghadapi wanita yang jual diri tapi sok suci sepertimu. " Pria itu bangkit dari posisinya, dia masuk ke dalam kamar mandi membiarkan Sephora di sana. Melihat ada peluang untuk kabur, tentulah Sephora tidak ragu-ragu untuk melakukannya. Dia segera bangkit dari posisinya, berjalan cepat menuju pintu.


" Sialan! " Kesal Sephora karena ternyata pintunya juga di kunci dari dalam. Sungguh sangat memusingkan, karena kalau di kunci dari dalam ya berarti hanya pria tadi yang tahu bagaimana cara membuatnya.


Cukup lama Sephora terus mencoba meski terus mendapati kegagalan, hingga pada akhirnya pria itu selesai dari kamar mandi pun dia masih belum berhasil melakukanya.


" Percuma saja, sampai tangan mu putus juga kau tidak akan mungkin bisa membuka pintunya. "


Barisan kalimat itu membuat Sephora berhenti, membeku di sana dengan wajah kelu. Padahal dia memang benar-benar tidak menjual diri meksipun dia sudah beberapa kali melakukan hubungan semacam itu dengan beberapa pria, tapi dia sama sekali tidak pernah memiliki keinginan untuk menjual dirinya seperti seorang pel*curr.


" Tuan, tolong, tolong sekali aku mohon lepaskan aku. Aku tidak akan mempersalahkan apa yang anda lakukan padaku hari ini, setidaknya lepaskan saja aku dan aku janji akan melupakan hari ini. "


Pria itu tersenyum tipis seperti tidak perduli sama sekali. Dia mengambil posisi duduk dengan nyaman, menyender sembari meraih ponselnya.


Pria itu nampak serius dengan ponselnya, dia terus menatap ponselnya seperti sedang membaca pesan yang masuk ke ponselnya.


" Jadi, kau siapa? " Tanya Pria itu seraya menjauhkan ponselnya. Mungkin dia sudah mendapat pesan bahwa wanita yang dia maksud ternyata tidak jadi datang.


" Aku punya tunangan di sini, aku salah masuk unit saat aku sedang dalam kondisi tidak baik, anda juga tahu kan? Aku benar-benar bukan sengaja masuk kesini, sepertinya unit tunangan ku ada di sebelah kanan atau kiri dari sini. "


Pria itu sejenak terdiam, salahnya juga memang karena tidak memastikan dulu sebelum bertindak. Yah mau bagaimana lagi? Semua juga sudah terjadi, jadi menyesal juga sudah tidak ada gunanya kan?


" Apa kau menggunakan alat kontrasepsi? "


Sephora tersentak dengan pertanyaan itu, iya! Dia tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun sama sekali, dan pria itu juga tidak menggunakannya tadi.


***


Grade dan Onard kembali ke rumah kakek karena urusan mereka juga sudah selesai dengan Leo.


Benar-benar sangat malas berada di rumah itu karena yang akan di lakukan Grade hanyalah diam di rumah tanpa melakukan apapun. Onard tentu saja akan bekerja seperti biasanya di rumah. Sebelum dia mendapatkan kakinya benar-benar bisa berdiri lama dia Kan terus bekerja membantu Leo dari rumah saja.


Sebenarnya hari kemarin adalah hari paling berat untuk Grade, dia sengaja mencari orang untuk bisa bertengkar demi menyembunyikan betapa sedihnya dia. Kemarin, adalah hari dimana Ayahnya mendapat vonis hukuman, dan benar saja kalau Ayahnya akan mendapatkan hukuman mati, sementara Gun dihukum dua puluh tahun penjara.


Sudah selalu mencoba untuk menguatkan diri setiap waktu, tapi nyatanya dia tetap tidak rela jika Ayahnya akan mati dengan cara yang begitu sangat tidak terhormat. Sekarang siapakah yang akan menjadi teman hidupnya? Langit senja, langit malam, dan langit fajar, itulah yang mengenai Grade setiap hari.


Sebagian orang mungkin akan mengatakan jika hukuman itu pantas untuk seorang penjahat seperti Ayahnya, tapi sebagian anak yang menempatkan dirinya sebagai anak tentu tidak akan bisa memahami kenapa Ayahnya harus dihukum begitu buruk Meksi kejahatan yang di lakukan Ayahnya begitu jelas.


Sepuluh hari lagi, adalah hari dimana Ayahnya akan ditembak mati, jadi mula dari hari ini Grade hanya bisa berdoa dan menguatkan diri agar siap menerima kenyataan menyakitkan itu nanti.


" Ayah...... "


Grade menitihkan air mata, ini adalah air mata kesekian kalinya semenjak Mark meninggal, lalu Ayahnya di penjara karena sebelumnya dia sama sekali tidak pernah menangis. Dia selalu merasa bahagia, dia tidak kekurangan apapun, dia merasa sudah sangat cukup dengan Ayah dan kakaknya, dia juga begitu bangga dengan Ayahnya yang tetap menduda selama dua puluh tahun lebih dengan alasan terlalu mencintai Ibunya, dan tidak bisa melupakannya.


" Ada surat dari Ayahmu. " Ucap Onard begitu membuka pintu kamar mereka.


Bersambung.