Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 61



Setelah percakapan menegangkan yang terjadi di antara Ariel dan Mark, sekarang ini Ariel tengah berada bersama Mark di sebuah ruangan yang tertutup, dan sunyi seperti jauh sekali dari keramaian atau pemukiman.


Sudah hampir tiga jam dia menunggu disana tanpa kepastian. Mark juga hanya menatapnya entah apa maksudnya.


" Sebenarnya apa yang kau inginkan? " Tanya Ariel karena dia benar-benar tak tahan harus terus diam disana tak memiliki kepastian.


Mark, pria itu tak menjawab dan memilih untuk bermain dengan ponselnya. Sebenarnya Ariel benar-benar bingung dengan Mark, padahal jelas sekali sedari tadi ponselnya terus berdering, tapi dia sengaja mengabaikannya. Ingin rasanya bahwa itu adalah Leo yang sedang mencarinya, tapi karena tidak ingin terllau banyak menaruh harapan, dia tentu lebih memilih untuk tidak mau memikirkannya.


" Mark, aku tanya sekali lagi padamu, sebenarnya apa tujuan mu menahan ku disini? "


Mark menghela nafasnya, dia kembali menatap Ariel dan tersenyum.


" Diam dan tetap lah seperti itu, hanya dengan begitu kau akan baik-baik saja. "


Ariel benar-benar tak ingin lagi bicara, bukan karena takut, tapi dia malas berharap tapi tak memiliki harapan barang sedikitpun.


***


Leo yang menyadari kehilangan Ariel begitu dia kembali ke rumah dan semua orang yang berjaga disana dalam keadaan pingsan, dia benar-benar seperti orang gila yang tidak bisa tenang sedikitpun.


Sadar ini adalah kesalahannya karena kendur penjagaan, Leo segera bergerak dengan memerintahkan semua orang untuk fokus mencari dimana Ariel berada. Sudah beberapa jam berlalu dan dia masih belum mendapatkan kabar apapun, sepertinya Leo cukup banyak kehilangan orang, jadi butuh sedikit waktu lagi, ditambah Win juga harus memecahkan otaknya untuk dua urusan besar yang tidak bisa dipilih salah satunya.


Hari berlalu, dan tiga hari sudah Ariel tak kembali ke rumah. Leo yang semakin marah kini mejadi sulit menahan emosi, dan sulit untuk berpikir jernih. Untunglah ada Win yang selalu menenangkan dan menyadarkan Leo agar tidak berbuat kesalahan.


Disisi lain, Paman Daris benar-benar tersenyum senang karena berhasil memecahkan konsentrasi Leo, dan Ariel juga berada di dalam genggamnya. Rasanya dia sudah akan memilki segalanya hingga tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.


" Ayah, bagaimana rencana selanjutnya? " Tanya Mark yang baru saja masuk ke dalam ruangan Ayahnya.


" Tentu saja membongkar kebohongan Leo, dan mengancamnya menggunakan wanitanya itu. Setelah kita mendapatkan apa yang kita inginkan, kita tentu saja harus membereskan semuanya. "


" Maksud Ayah? "


Paman Daris menatap Mark dengan tatapan tajam. Dia berjalan mendekati Mark dan memukul wajahnya sekali. Tak berani memekik karena itu akan di anggap bahwa Mark adalah pria yang lemah, maka Mark hanya bisa menahannya sembari menyeka darah yang keluar dari sisi bibirnya.


" Jangan kau pikir aku tidak tahu kebodohan mu, Mark! Kau membebaskan dan membiarkan pria yang waktu itu mengakui kebohongan Leo hidup adalah sebuah tindakan yang menjelaskan betapa lemahnya hatimu! Kau tidak boleh begitu lunak terhadap orang lain, Mark! "


" Aku hanya menepati janjiku, Ayah. "


Bugh!


Paman Daris kembali melayangkan pukulan kepada Mark dengan kuat.


" Dasar bodoh! "


Mark yang tersungkur kesakitan hanya bisa mencoba kembali bangkit dari posisinya. Dia mencoba sebisa mungkin untuk kembali berdiri tegap.


Paman Daris meraih kerah kemeja yang dipakai oleh Mark, menatapnya semakin tajam seolah tak memiliki belas kasih.


Mark terdiam tak menjawab karena keterkejutannya. Sungguh dia tahu kalau Ayahnya memang sangat sadis, tapi apakah harus membunuh Ariel yang tidak bersalah? Mark mengepalkan tangan dan tak berani menjawab. Mungkin dia memang bajingan karena sudah banyak mempermainkan hati wanita, dia juga sangat suka menghina Leo karena fisiknya yang cacat dan beranggapan jika Leo tidak berguna selama ini, tapi membunuh wanita, apakah dia sanggup melakukannya?


" Jangan kau pikir aku tidak tahu bahwa kau tertarik dengan wanita itu! Singkirkan rasa suka mu, Mash banyak wanita cantik yang bisa kau tiduri kapan pun kau mau. Ini peringatan terakhir dariku, jika kau masih tidak mau mendengarkannya, maka jangan salahkan aku mengarahkan belati yang tidak memiliki mata. Entah belati itu akan menancap ke tubuh wanita itu, atau kah ke tubuhmu. "


Mark lagi-lagi memilih diam saat Paman Daris melepaskan cengkraman tangannya dari kemejanya.


" Lihatlah pencapaian apa yang kau dapat jika tidak ada aku, Mark? Kau pikir kau bisa berdiri tegak sekarang tanpa ku? Kau bukan apa-apa tanpa Ayah sepertiku, jadi jangan membangkang dan tunjukan padaku bahwa kau berguna untukku. "


Mark masih diam.


" Pergilah sana, siapkan rapat untuk para petinggi. Biarkan kebohongan Leo terungkap, giring opini bahwa Leo sengaja mempermainkan semua orang demi tujuan pribadinya yang mengacu kepada keuntungan personal. "


" Baik. " Jawab Mark singkat, lalu segera keluar dari ruangan Ayahnya. Jika tugasnya sekarang adalah membongkar kebohongan tentang Leo, tentu saja dia senjata dan akan melakukannya sebaik mungkin.


Hanya butuh dua jam saja, gosip tentang kebohongan Leo sudah merebak luas tak terkendali.


Leo yang mendapat kabar itu hanya bisa terdiam dengan segala rencana di kepalanya.


" Tuan, kita bergerak sesuai rencana? "


" Iya, aku yakin dengan itu kita buat mendeteksi keberadaan istriku. " Ucap Leo.


Win, pria itu mengangguk dengan cepat. Matanya yang menatap Leo melas benar-benar tak bisa ia tutupi. Dia sebenarnya sangat kesal kepada dirinya sendiri yang gagal melindungi istri dari Tuannya sehingga membuat Tuanya menjadi seperti sekarang. Sudah beberapa hari Leo sama sekali tidak tidur dengan benar, kedua punggung tangannya penuh luka karena dia sering memukul benda keras saat mengingat Ariel yang belum bisa ia temukan.


" Tetap jaga rahasia bahwa Ariel menghilang, jangan biarkan Ibunya Tahu dan menjadi khawatir. Biarkan dia fokus dengan urusannya, perketat juga penjagaannya, dan tambah lagi orang yang berjaga di sebelah apartemen Ibunya Ariel. "


" Sudah di laksanakan, Tuan. "


" Baiklah, Ayo kita pergi. Siapkan semua orang-orang yang tersisa untuk bersiap, karena aku yakin sekali Paman Daris akan berbuat nekat ketika rencananya gagal nanti. "


" Baik. "


Sesampainya di RC, semua para petinggi kini tengah berkumpul menunggu kedatangan Leo dan Nard yang katanya adalah satu orang yang sama. Leo datang ke sana sebagai Nard, sementara Win akan datang nanti.


Bisikkan tentang pendapat buruk mereka jelas bisa Leo bisa mendengarnya. Tapi dia sama sekali tidak terpengaruh, dia justru tersenyum dengan begitu percaya diri.


" Lebih baik kau jelaskan tentang rumor ini! "


" Menjelaskan? Apakah adanya aku sudah cukup menjelaskan semuanya? "


Seorang pria yang kini duduk di kursi roda, dan Win yang mendorongnya masuk benar-benar membuat semua orang menatap kaget hingga kebingungan, saling bertanya karena Win, Leo, dan juga Nard berada di satu tempat yang sama.


Bersambung.