
Grade menggigit bibir Onard agar pria itu membuka mulutnya. Iya, Onard memang mulai menikmati apa yang dilakukan Grade, tapi masalahnya dia itu sama sekali tidak berpengalaman seperti Grade jadi wajar saja kalau dia masih merasa kebingungan apa saja yang harus dilakukan saat berciuman.
Benar saja, Onard membuka mulutnya dan Grade benar-benar tak memberikan kesempatan kepada Onard untuk lengah dan bernafas lega barang Sebentar saja. Grade mengabsen tanpa ada yang tersisa dengan lidahnya.
Setelah cukup puas dengan itu, Grade kini mengubah posisi agar dia bisa membuka kain yang menutup bagian bawah Onard. Benar-benar tidak perlu berlama-lama karena memang itu juga sudah terbiasa bagi Grade untuk melakukannya. Tidak mau banyak membuang waktu karena tubuhnya juga sudah tidak bisa di kontrol, Grade benar-benar membuat tubuh mereka menyatu dengan caranya sendiri masa bodoh apakah Onard setuju atau tidak.
Onard, pria itu sebenarnya benar-benar malu luar biasa melihat tingkah Grade yang seperti cacing kepanasan sendiri. Tapi, seandainya itu adalah wanita lain yang juga tidak berpengalaman seperti dirinya, yakin lah kegiatan ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat, di tambah keadaan Onard yang tidak bisa, atau belum bisa seperti pria pada umumnya.
Bukan hanya gerakan tubuh Grade saja berpacu sembari mengerang menikmati apa yang sedang dia lakukan, Onard yang tidak bisa melenguh karena malu hanya bisa memejamkan mata menikmati juga apa yang sedang dilakukan Grade. mobil mereka benar-benar bergerak seirama dengan gerakan Grade, dan itu cukup membuat sang sopir panas dingin di buatnya. Untunglah orang dari luar tidak akan bisa melihat, begitu juga dengan dia. Meksipun tahu apa yang sedang terjadi, paling tidak dia bisa sedikit tahan karena tidak perlu juga melihatnya.
Entah seberapa kegiatan itu berlangsung, intinya kaki sang sopir yang berdiri, lalu jongkok itu sudah kesemutan berkali-kali. Ingin rasanya duduk santai di ujung tempat dimana ada sebuah kursi yang tak jauh dari taman pinggiran jalan. Tapi, dia juga tidak berani beranjak karena takut salah satu orang di dalam mobil memanggilnya dan memintanya untuk segera berangkat Meksi dia sendiri tidak tahu kapan kegiatan itu selesai.
" Benar-benar tidak menyangka kalau melakukannya dengan mu lumayan enak juga. " Ucap Grade setelah kegiatan itu selesai, dan dia juga sudah bisa memastikan kalau Onard juga sudah mencapai puncaknya. Dia tidak langsung memisahkan tubuh mereka Karena Grade juga kelelahan harus melakukan hubungan badan di mobil yang jelas itu tidak nyaman, tidak leluasa dan cukup membuat kedua lututnya memerah.
Onard terdiam menahan malu meski nafasnya menderu terengah-engah setelah mendapatkan pelepasan yang begitu luar biasa rasanya. Bukan berarti dia begitu suci hingga tidak tahu rasanya pelepasan, hanya saja Onard yang biasa melakukan sendiri tentu akan merasa terkejut juga di pengalaman pertamanya.
" Kau, tidakkah kau seharunya merasa malu karena memaksa pria seperti ini? " Onard menahan dirinya agar tidak terlihat gugup meski tatapan matanya sudah mejelaskan segalanya.
" Onard, kau lupa ya betapa aku bebas sebelumnya? Lagi pula kita kan sudah menikah, memang apa salahnya? "
Onard menelan salivanya sendiri, bukankah ini aneh? Kenapa Onard merasa seperti seorang gadis polos yang baru saja direnggut kesuciannya oleh seorang pria Casanova? Cara bicara dan cara menatap seorang Garde memang bisa di sebut seperti itu, ah! Meskipun memalukan tali Onard juga tidak bisa menampik jika memang rasanya enak.
" Lalu, kau masih ingin begitu nantinya? "
Grade tersenyum, dia membelai wajah Onard laku mendekatkan bibirnya untuk berbisik kepada Onard.
" Aku tentu saja harus puas dengan mu saja kan? Tidak masalah aku harus banyak bergerak karena yang paling penting itu mu masih terus berfungsi dengan baik. "
Onard lagi-lagi di buat menelan salivanya sendiri oleh ucapan Grade. Ini adalah malam pertama untuk mereka kan? Tapi, kenapa suasananya begini? Dan lagi berada di dalam mobil? Ah, benar-benar tidak sesuai dengan harapan banyak pasangan tapi ya mau bagaimana lagi? Ini terjadi juga di luar kehendak mereka berdua.
Setelah mereka berdua membereskan penampilan mereka, segera Grade meminta untuk Sopir kembali masuk dan menjalankan mobil agar bisa segera sampai di rumah.
Onard kini lebih lagi ke diam dari sebelumnya karena dia masih saja merasa malu dan canggung, sementara Grade juga merasakan malu yang sama. Sebenarnya sedari tadi dia hanya sok berani saja berkata seperti itu, entah aneh atau tidak dia malah bertingkah seolah dia memiliki banyak pengalaman padahal juga tidak sebanyak itu. Tapi yan demi menyembunyikan perasaan malu, juga agar tidak terlalu canggung dia memilih untuk berpura-pura saja.
" Kalian kok baru kembali? " Tanya kakek yang sebenarnya sedari tadi sudah sangat khawatir. Sekian khawatir kepada Grade, kakek juga sangat khawatir dengan Onard, keadaan Onard kan memang masih membutuhkan perawatan, jadi wajar saja jika dia begitu khawatir.
" Iya. " Grade dan Onar menjawab dengan wajah canggung.
" Iya. "
Kakek mengeryit karena masih belum paham apa yang terjadi.
" Ka kami masuk dulu ya kek? Kami lelah. " Ucap Onard lalu dengan segera Grade menjalankan kursi roda Nard untuk masuk ke dalam kamar meninggalkan Kakek yang kebingungan sendiri sembari menatap mereka.
" Selamat malam Tuan? Kunci mobil sudah saya letakkan di tempatnya, saya mohon izin untuk pulang ya Tuan? " Izin sang sopir yang baru saja tiba untuk berpamitan dengan Kakek.
" Kau, apa kau tahu apa yang terjadi dengan mereka berdua tadi? Apa tadi mereka bertengkar dengan tamu undangan yang lain? " Tanya kakek yang tak bisa menahan diri dari rasa penasaran yang kuat biasa itu.
Sopir itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal, bertengkar? Ah lebih tepatnya mereka saling bergulat kali ya?
" Kenapa kau malah berekspresi seperti itu? Kau tahu tidak? "
" Anu, Tuan. Sebenarnya tadi Tuan Onard dan Nona Grade mereka, "
" Mereka apa? Mereka bertengkar? "
" Iya, bertengkar agak tidak biasa, Tuan. "
Kakek mengeryit bingung.
" Apa maksudnya bertengkar tidak biasa? "
Sopir itu sedikit berjalan mendekat, dia tetap menunduk hormat meski sudah semakin dekat untuknya berbisik kepada kakek.
" Hah! Serius kau?! Kau bohong ya?! "
" Tidak, Tuan! Sumpah! Saya tidak bohong kok. "
Kakek memang masih terlihat terkejut, tapi di benar-benar tidak bisa menutupi raut wajahnya yang terlihat gembira.
" Aku benar-benar tidak mengerti dengan anak jaman sekarang yang begitu memukau tantangan yang terbilang ekstrim. Padahal kan ada hotel, tapi tidak apa-apa! Entah itu di mobil, di sungai, di pinggir jalan, atau mau di angkasa aku benar-benar tidak akan merasa keberatan. "
Bersambung.