Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 90



Grade berjalan dengan begitu percaya diri, melenggak lenggok anggun, tatapan yang berkharisma itu memang tidak padam walaupun sedang di terpa masalah yang sangat berat. Grade benar-benar mengacaukan begitu banyak pria tampan yang biasanya akan membuatnya tergoda, kedua bola matanya kini hanya tertuju oleh satu pria saja, yaitu Onard. Pria itu sedari tadi sudah dia tinggalkan, dan dia juga tidak buta sehingga dia melihat ada beberapa pria yang datang menyapa tapi menghina pada ujungnya. Grade membiarkan saja orang mengganggu Onard karena ingin tahu apakah Onard mampu menangani mereka atau tidak. Begitu melihat tampang pria yang mencoba mempengaruhi Onard pergi dengan wajah kesal, dia benar-benar tahu jika Onard mampu menghadapi semuanya sendiri, dan jujur Grade juga merasa lega karena itu. Iya, setidaknya Onard adalah pria yang bisa di andalkan karena dengan fisiknya dia tidak meminta bantuan siapapun untuk melindungi harga dirinya.


" Grade, sudah lama tidak bertemu, bagaimana kalau kita minum anggur bersama? " Seorang pria mengentikan langkah kaki Grade yang akan mendekati Onard. Pria itu menyodorkan segelas anggur kepada Grade dengan senyum manis yang sebenarnya nampak menjijikan bagi Grade.


" Benar sekali, sudah lama tidak bertemu, dan kau semakin lancang rupanya. " Grade tersenyum dengan mimik yang terlihat muak. Memang iya, Grade paling tidak suka dengan pria yang mendekatinya penuh maksud, dia lebih suka pria yang anteng, dan biarkan Grade aktif mendekati karena Grade menganggap itu adalah satu tantangan yang lumayan ada artinya.


Pria itu menggaruk tengkuknya, jelas sekali dari cara dia menatap bahwa dia menginginkan tubuh Grade, bukan hatinya. Onard yang melihat itu benar-benar merasa sangat heran, sekaligus merasa rendah diri. Jujur saja dia belum pernah merasakan ini setelah usianya mulai remaja dan terbiasa dengan kondisi tubuh, hanya saja situasi ini begitu menjelaskan jika dia bukanlah orang yang tepat sehingga tidak akan mampu mengimbangi kecepatan Grade dalam beberapa kegiatan.


" Grade, minumlah anggur ini dulu, mari kita mengobrol dengan santai. Aku juga ingin bertanya banyak hal padamu, tidak enak kalau kita mengobrol sembari berdiri begini kan? "


Grade tersenyum miring, bodoh sekali kalau dia tidak tahu apa yang di masukkan ke dalam anggur itu sehingga dia begitu mengemis agar Garden meminumnya. Entah sudah ke berapa pria semacam itu, yang jelas Grade benar-benar merasa begitu muak hingga tidak sanggup untuk berkata-kata.


" Grade, aku dengar kau mengalami nasib buruk akhir-akhir ini, jadi anggap saja apa yang aku lakukan ini sebagai penghiburan untukmu, sekaligus bukti betapa aku perduli padamu. " Pria itu semakin mendekatkan anggur itu kepada Grade.


" Kau benar-benar tidak akan berhenti sampai anggur beracun ini masuk ke dalam mulutku ya? " Grade menatap pria itu dengan tatapan tajam. Pria itu nampak terkejut hingga terdiam beberapa saat.


" Jangan berkata seperti itu Grade, aku hanya ingin menunjukkan betapa aku perduli padamu saja kok. "


Grade tersenyum kelu tak percaya dengan pria yang sangat suka sekali meyakinkan seorang wanita padahal dia sendiri tidak yakin dan tidak tahu apa yang di ucapkan.


" kau benar-benar ingin aku meminum anggur beracun ini ya? "


Pria itu menelan ludahnya sendiri sedikit terlihat gugup.


" Oke, aku akan minum anggur yang katanya demi menunjukkan betapa kau perduli denganku, tali jangan harap kau bisa menyentuh tubuhku. " Grade meraih anggur itu, menenggaknya hingga habis, dan meletakkan kembali ke tangan pria itu.


" Kau sudah puas? Sekarang aku harus segera kembali, suamiku sudah menungguku. "


Pria itu menahan lengan Grade, dia tersenyum miring penuh maksud, tapi sayangnya Grade yang masih sadar benar tidak dapat menahan diri melihat wajah mesum seperti itu. Grade melayangkan satu pukulan di pipi pria itu, dan segera mengancam saat pria itu membelalak marah seperti ingin mengancam Grade.


" Jangan berani-beraninya mengancam ku! Aku, akan pergi ke rumah sakit dan memeriksakan laporan medis ku tentang obat apa yang kau berikan padaku barusan. Kau seharusnya juga tahu kan kalau tempat ini memiliki kamera pengawasnya? "


Pria itu diam membeku tak berani mengatakan apapun karena memang dia bersalah. Segera Grade menghampiri Onard yang sedari tadi menatapnya tapi entah apa maksudnya Grade sama sekali tidak bisa mengartikannya.


" Maaf. " Ucap Onard yang merasa jika Grade kesulitan karena adanya dia disana.


" Kita bicarakan di rumah saja nanti. Sekarang aku harus, maksudnya kita harua segera kembali kerumah dulu, ada hal yang harus aku lakukan secepatnya. "


" Ah, iya! "


Dengan cepat Grade menjalankan kursi roda Onard menuju mobil yang sudah terparkir menunggu kedatangan mereka.


Berbeda dari perjalanan akan berangkat tadi, di perjalanan pulang Grade terlihat gelisah, dia bahkan sampai berkeringat lumayan banyak.


" Grade, kau baik-baik saja? "


Grade sebenarnya ingin menjawab, tapi sekarang ini dia harus menahan diri, dan sialnya suara Onard membuat suhu tubuhnya lebih cepat naik hingga dia sampai memejamkan mata berkali-kali untuk tetap bertahan.


" Grade, apa kau sakit? " Onard yang tidak tega melihat bagaimana wajah Grade yang memerah dengan cepat, di tambah keringat membanjiri wajahnya menjadi tidak tahan. Onard meletakkan punggung tangannya di dahi Grade untuk merasakan apakah baik-baik saja atau tidak.


Grade membulatkan matanya terkejut begitu merasakan kulit Onard menempel di dahinya. Sialan! Itu nyaman sekali, membuatnya ingin merasakan sentuhan kulit Onard di bagian tubuh yang lain. Ah, tapi akal sehatnya masih bekerja rupanya sehingga dia tetap menahannya lebih keras lagi.


" Grade, kalau tidak nyaman akan sesuatu lebih baik kau katakan saja, kita bisa kerumah sakit untuk memeriksa dulu kan? " Ucap Onard lagi-lagi malah sembarangan menyentuh di lengannya.


Tidak bisa, Grade tidak tahan lagi. Dengan nafas yang sudah menderu dia menatap Onard dengan intens, mengabaikan supir yang sedang menjalankan mobil dan menyambar bibir Onard dengan begitu buas.


" Em! Gra- Hei! " Ucap Onard kesulitan karena Grade benar-benar tidak membiarkan bibirnya lepas sebentar saja.


Sopir hanya bisa menelan salivanya, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena sepertinya dia harus mencari tempat sepi dan membuatkan Tuan dan Nyonya nya untuk melanjutkan kegiatan itu.


" Grade, apa yang kau lakukan?! " Onard menatap kaget Grade yang kini sudah berpindah ke pangkuannya, dalam satu gerakan tiba-tiba dia sudah berada di sana dengan tatapan menggoda.


" Kau harus menolongku, jadi berikan tubuhmu untuk! " Ucap Grade lalu segera menyerbu kembali bibir Onard.


" Saya tunggu diluar, Tuan dan Nyonya. " Ucap Sopir begitu dia sudah mendapatkan tempat yang sepi.


Bersambung.